Istriku Mengandung Cucuku (20)
(Aku hanya ingin bersama anakku)
POV Alda
Kukecup pelan pipi gembul Kania ada rasa iba dihatiku melihat kedua buah hatiku yang tak berdosa diperlakukan sebegitu kejam oleh mas Hendra.
"Sayang kamu liat deh "ucap mas Hendra datang kekamar sambil membawa lembaran foto yang menunjukan pasangan muda yang tengah berbahagia.
"Itu siapa mas?"tanyaku sambil terus mengelus pipi Kania.
"Ini Meli dan Asad mereka ini sudah menikah kurang lebih 6 tahun lamanya namun belum dikaruniai buah hati , nah rencana bagaimana kalo mereka yang menjadi orang tua angkat untuk Keny dan Kania"
Mendengar penjelasan mas Hendra seketika mataku mengembun aku tak kuasa menahan air mata yang berlomba - lomba ingin jatuh.
"Kok kamu diem aja kamu setuju kan?,lagian mas itu gak sembarang pilih orang mas yakin 100% kalo mereka bisa mendidik dan membahagiakan Anak - anak kamu"ucapnya lagi.
"Maaf mas untuk sekarang aku belum bisa apalagi usia Keny dan Kania saja belum genap 1 bulan"ucapku dengan nada lemah.
"Tapi nanti bisakan?"tanya mas Hendra lagi sambil menatapku.
"Entahlah aku juga tidak tau"jawabku tanpa mau menatap wajahnya.
Kalo boleh jujur sungguh aku tidak pernah mau memberikan anak - anakku kepada orang lain sekali pun orang itu bisa menjamin kebahagiaan untuk anak - anakku karena aku yakin tak ada seorang pun didunia ini yang bisa menyayangi anak - anakku dengan tulus kecuali diriku sendiri.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih, emang kamu rela apa rumah tangga kita hancur?, Kamu cinta gak sih sama mas?"ucapnya dengan nada tinggi.
"Ya emang gak ada jalan lain mas?, Aku cinta sama mas tapi aku juga sayang pada anak - anakku"ucapku sambil meletakan Kania dibox bayi dekat kasur.
Aku tau mas Hendra tidak akan pernah bisa menerima kehadiran anak- anakku tapi ada sedikit harapan dihatiku semoga kelak suatu hari mas Hendra bisa terbuka hatinya untuk menerima Keny dan Kania mungkin bukan sebagai anak melainkan sebagai cucunya.
"Ini yang membuat mas bingung kamu itu sayang pada anak- anakmu atau sayang pada orang yang telah memperkos*mu"ucapnya kasar.
Mas andai saja kamu tau kalo mereka itu adalah cucumu dan andai saja kau tau bahwa yang telah merusak rumah tangga kita adalah putra Kesayanganmu sendiri.
Ingin rasanya aku memberitahu hal ini kepada mas Hendra sekarang juga namun nyatanya aku belum siap menerima resiko yang akan aku hadapi setelah ini entah bahkan lebih buruk lagi dari yang terjadi sekarang.
"Kenapa kamu diam atau diperkos* itu hanyalah akal - akalan kamu saja untuk berselingkuh" tuduhnya yang membuat seketika menatapnya.
"Kenapa mas selalu merasa paling benar kenapa mas selalu merasa apa yang dilakukan mas itu adalah yang terbaik"ucapku dengan nada tinggi.
"Karena yang aku lakukan itu pasti yang terbaik untuk kamu Alda kenapa sih kamu ini tidak bisa berterima kasih pada mas , apa kamu tidak ingat aku sudah dengan ikhlas mau menerima kamu yang sudah tidak per*w*n dimalam itu"ucapnya sambil menendang kursi yang ada didepannya.
"Aku bukannya tidak mau berterimakasih tapi tolong mas jangan sekarang beri aku waktu untuk berfikir"ucapku sambil menggendong Kania yang terbangun dan menangis akibat suara kursi yang ditendang mas Hendra.
"Apalagi yang mau dipikirkan tinggal kamu setuju saja pada apa yang sudah mas rencanakan sudah beres semuanya"ucapnya lagi sambil menatapku terlihat jelas ada kemarahan diwajahnya.
"Untuk sekarang aku hanya mau bersama anak - anakku karena mereka masih sangat membutuhkanku"ucapku sambil menenangkan Kania yang masih saja menangis bahkan tangisannya semakin kencang saja.
"Aghhh payah...."umpatnya sambil berjalan pergi dengan emosi yang meledak-ledak.
"Kania sayang tidur ya nak jangan nangis lagi"ucapku sambil menepuk punggungnya pelan.
"Mama disini kok nak mama gak bakal ninggalin kamu"ucapku lagi tak terasa air mataku jatuh membasahi bedong yang menutupi tubuh Kania.
Disela - sela menggendong Kania aku menyempatkan diri untuk melihat Keny diBox bayi aku takut dia menangis juga ternyata tidak.
"Kania kenapa?"tanya Harsa yang berdiri didepan pintu kamarku.
"Kania gapapa cuma nangis aja"ucapku cuek namun Harsa tak pergi ia masih setia berdiri disana.
"Kenapa kau berdiri disana?"tanyaku heran.
"Enggak kok , Alda boleh aku gendong Kania?"ucapnya dengan nada lembut.
"Enggak usah biar aku saja , udah sana pergi" tolakku yang membuatnya tertunduk.
Namun walau sudah ku tepuk - tepuk punggungnya dan memberikannya s**u Kania masih saja menangis.
"Alda tolong izinkan aku menggendong Kania sebentar saja"pintanya dengan nada lemah lembut.
Aku menatap wajah Malaikat kecilku itu tak tega rasanya melihatnya terus menangis.
"Baiklah"ucapku pada Harsa yang membuatnya tersenyum.
Harsa berjalan mendekatiku dan mengambil Kania dari gendonganku, setelah Kania berada digendongnya Harsa seperti membisikkan sesuatu pada Kania.
"Bersamaku saja dia menangis apalagi sama kamu , kamu pikir dia akan diam"ucapku sambil memalingkan pandanganku agar tak terus manantapnya.
Harsa hanya tersenyum dan mengelus pipi Kania dan tak Beberapa lama Kania berhenti menangis dan kembali terlelap.
"Alda aku janji akan ngomong jujur sama papa, tapi nunggu waktu yang tepat ya"ucapnya sambil meletakan Kania diranjang dan menatapku.
"Papamu sudah menemukan Orang tua asuh untuk Keny dan Kania"ucapku spontan lalu memaksakan diri untuk tersenyum.
"Alda kenapa kamu menyetujuinya?"tanya Harsa terlihat kesedihan dimatanya.
"Itu bukan urusanmu"ucapku malas.
"Tapi kasihan mereka Alda"ucapnya lagi.
"Kasihan...,lucu sekali kamu ini Harsa saat melakukannya kamu gak ada kan rasa kasihan hanyalah Nafsu yang ada diotakmu sekarang malah kasihan"ucapku sambil tersenyum kecut.
"Aku gak pernah berfikir bahwa kejadian akan sefatal ini, aku menyesal tolong maafkan aku"ucapnya dengan nada lemah.
Harsa memang tak sebej*d Rivan namun yang membuatku sangat membencinya kerena dia adalah Ayah kandung Keny dan Kania.
Terkadang aku berpikir untuk mencoba memaafkannya namun bayangan akan perbuatannya dimasa kalau selalu menghantui pikiranku.
"Sudah kan Kania sudah tidur yaudah sana pergi"ucapku sambil melipat tangan didepan d**a.
"Yaudah tapi kalo kamu butuh apa - apa kamu panggil aku ya"ucapnya lembut.
"Aku gak butuh kamu..."ucapku spontan yang membuatnya tersenyum kecut kalau pergi.
***
Akhir - akhir ini ada yang berbeda dengan Harsa , dia menjadi sangat perhatian padaku , Harsa selalu mengingatkanku makan tak jarang dia juga membawakan makanan kekamarku.
Walaupun selalu kutolak dan makanan itu kubiarkan basi tanpa mau kusentuh dan dia dengan senang hati menggantinya dengan yang baru.
Sementara mas Hendra sibuk dengan rencananya yang akan mencarikan orang tua Asuh untuk Keny dan Kania.
Sekarang mas Hendra menjadi dingin dan melakukan semua hal tanpa meminta persetujuan dariku terlebih dahulu.
"Alda apa kamu tidak kasihan pada ibumu?" Tanya mas Hendra saat masuk kekamarku.
"Ada apa dengan ibuku mas?" Tanyaku cemas.
"Ibumu telah menaruh harapan besar padamu dan kamu mengecewakannya , begaimana hancurnya ibumu saat tau kamu yang dia anggap anak yang baik hamil bukan dengan suamimu"ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi mas ini diluar kendaliku ini terjadi bukan atas kemauanku"ucapku sambil menatapku.
"Tolong Alda setujui saja rencana mas ini demi ibumu, demi kebahagian kita"sambungnya.
Seketika air mataku jatuh mengingat tubuh renta yang telah merelakan banyak hal untuk kebahagianku.
Sudah lama sekali aku tidak melihat senyuman dibibirnya akankah aku tega menghancurkan hatinya.
Apakah aku harus setuju dengan rencana mas Hendra?
Bersambung-