Pengakuan Alda

1003 Kata
Istriku Mengandung Cucuku (19) (Pengakuan Alda) POV Hendra "Alda apa Keny dan Kania bukan anaknya mas?"tanyaku pada Alda. Aku semakin bingung dengan keanehan sikap Alda ini sudah seminggu setelah dia diijinkan pulang dari rumah sakit namun dia menolak untuk tidur dikamar kami dia minta kamar terpisah. Alda hanya diam menatap kosong kearah luar jendela lalu menyeka air matanya. "Alda mas tanya sekali lagi apa Keny dan Kania bukan anaknya mas?" Ucapku lagi. "Alda jawab sayang...!!" Ucapku sambil memegang bahunya. Alda menatapku dan mengangguk pelan terlihat bulir bening mengalir dari sudut matanya. "Jadi benar Keny dan Kania bukan anak mas?" Tanyaku memastikan. "Iya mas Keny dan Kania bukanlah anak mas "ucapnya memperjelas tanggapannya tadi. "Lantas mereka anak siapa Alda?"ucapku lagi rasanya tak kuasa aku menahan air mataku . Alda kembali diam kali ini tangannya berusaha meraih tanganku namun dengan cepat kutangkis. Jika memang benar Keny dan Kania bukan anakku berarti selama ini Alda berselingkuh dibelakangku, teganya kamu Alda. "Mas tidak butuh air matamu yang mas butuhkan penjelasan darimu Alda"ucapku sambil mengalihkan tatapanku. "Orang itu...!!"ucapnya singkat sambil mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata. "Orang itu, siapa dia Alda katakan?"ucapku sambil menggoyangkan bahunya. "Dia yang telah membuat tubuh ini kotor dan berdosa"ucap Alda lagi. "Apa Keny dan Kania adalah anak orang yang telah memperkos*mu Alda?"tanyaku sambil menatap kedua bola matanya. "Iya.."jawabnya singkat namun berhasil membuat hatiku hancur. Aku tak habis pikir kenapa Alda tega sekali membohongiku 9 bulan bukanlah waktu yang sebentar. "Maafkan aku mas..."kata - kata itu keluar dari mulut Alda namun tak berhasil merangkai kembali hatiku yang telah hancur. "Kenapa kamu tidak bicara dari dulu Alda kalo kamu bicara ke mas dari dulu kan kita bisa cari jalan untuk Masalah ini , kalo sekarang semuanya sudah terlambat"ucapku dengan nada tinggi. "Maaf..aku yang salah, sekarang terserah mas kalo mau mau meninggalkanku , aku akan terima semuanya"ucap Alda. "Tidak semudah itu Alda"ucapku frustasi. "Kenapa?, Kalo masalah Keny dan Kania tenang saja mas aku akan membawa mereka pergi dari sini, walau.." Alda tak melanjutkan kalimat akhirnya. "Alda begini saja bagaimana kalo kita mulai semuanya dari nol sayang"ucapku sambil memegang bahunya. Aku tidak tau apakah keputusan yang aku ambil ini benar atau salah, aku terlalu takut kehilangan Alda aku sudah terlanjur cinta padanya. "Mas serius?" Ucapnya dengan senyuman manis. "Iya sayang kita lupakan saja semuanya, kamu mau kan sayang"ucapku sambil menatapnya. "makasih ya mas.."ucapnya senang sembari memelukku. "Iya sayang tapi bagaimana kalo Keny dan Kania kita Carikan saja orang tua asuh"ucapku sambil mengelus rambutnya. "Orang tua asuh?"ucap Alda sambil melepas pelukannya dan menatapku dengan tatapan tak suka. "Iya orang tua asuh, banyak kan suami istri diluar sana yang pengen punya anak tapi belum dikasih nah dengan cara begini kita juga bisa membantu mereka kan"ucapku menyakinkan Alda dan berharap dia akan menyetujui ucapanku. "Enggak.., aku enggak akan mau memberikan anak kandungku sendiri kepada orang lain"tolaknya sambil berjalan menjauhiku. "Ayolah sayang ini demi kebaikan kita juga"ucapku sambil berjalan mendekatinya. "Aku tetap gak mau mas, kenapa mas tidak mau Keny dan Kania tinggal disini?"tanya nya sambil menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ya, mas gak mau Nerima mereka karena siapa bapak kandung mereka saja kita tidak tau"ucapku. "Tapi mereka anakku mas"ucapnya Alda lagi kali ini dengan suara yang ditinggikan. "Alda...tolonglah, atau begini saja kamu pilih mas atau pilih mereka?" Ucapku lagi. Alda Diam aku tau dia pasti sedang bingung tapi jika dia tetap bersikeras mempertahankan kedua anaknya maka aku harus bermain licik. "Yaudah Alda sudah jelas kamu tidak cinta pada mas mungkin kamu memang dengan suka rela memberikan tubuhmu untuk laki - laki itu"ucapku kesal. Alda tetap diam malah kali ini dia berjalan pergi meninggalkanku. *** "Papa kenapa, kok kayanya banyak pikiran?" Tanya Harsa yang tengah menggendong Keny. "Sudahlah Harsa jangan terlalu peduli dengan mereka karena mereka bukanlah adikmu"ucapku pada Harsa yang membuat Harsa terdiam . "Maksudnya?" Ucapnya tak paham. "Alda hamil dengan laki - laki lain , mereka bukanlah Anak papa, entah siapa laki - laki itu?"ucapku sambil menyeka air mataku agar Harsa tidak melihat aku menangis. Harsa hanya diam dia berjalan lalu meletakan Keny dibox bayi yang berada diruang tengah dan kembali berjalan mendekatiku. "Harsa sekarang kamu bantu papa ya" ucapku dengan nada serius. "Bantu apa?" Tanya nya dengan tatapan aneh. Ada apa dengan Harsa kenapa dia berkeringat apa disini panas aku rasa tidak , Ac-nya menyalah. "Kamu tolong Carikan orang yang mau mengadopsi anak"ucapku lagi. "Mengadopsi Anak..!!"seketika bola mata Harsa membulat sempurna. "Iya Harsa , kalo untuk menceraikan mama Alda papa tidak bisa karena papa terlalu sayang padanya, tapi kalo kedua bayi kembar itu tinggal disini papa juga tidak bisa hati papa terlalu sakit walaupun papa sadar mereka tidaklah bersalah"ucapku sambil menghela nafas panjang. "Jangan pah bagaimana kalo mama saja yang mengurus mereka"ucap Harsa . "Mama.., Mona maksud kamu?" Tanyaku memastikan. "Iya, bagaimana pah?"ucapnya penuh harap. "Dia tidak akan mau Harsa lagian apa urusannya dengan dia , kamu ini seperti tidak kenal saja sipat ibu kandungmu itu"ucapku sambil memperhatikan gerak - geriknya yang terbiang aneh. "Aku akan bicara padanya tolong ya pah"ucapnya memohon. "Kamu ini kenapa Harsa kok bersikeras sekali ingin mereka berdua diasuh oleh Ibumu"ucapku heran. "Ya gapapa"ucapnya singkat lalu tersenyum. "Pah mereka kan masih kecil jadi tolong jangan pisahkan mereka dari Mama Alda"ucapnya lagi. "Itu bukan urusan kita Harsa sudahlah kamu jangan pikirkan itu yang harus kamu lakukan sekarang bantu papa memisahkan mereka dengan Alda"ucapku sambil menatapnya namun Harsa hanya diam. "Harsa sudah papa katakan itu bukan urusan kita mau mereka mati atau apa itu bukan urusan kita"Sambungku. "Jaga ucapan papa, mereka kan tidak punya salah pada papa, kenapa papa egois begini"ucapnya dengan nada tinggi. "Ya mereka memang tidak punya salah pada papa tapi mereka itu anak Haram"bentakku yang membuat Harsa terdiam. Ada apa dengan Harsa kenapa dia jadi begini?. Pokoknya kalo Harsa tidak bisa membantuku maka akan aku lakukan sendiri aku akan berusaha sebisa mungkin untuk memisahkan kedua bayi itu dari Alda. Mungkin cintaku pada Alda lah yang telah membuatku bertindak seperti ini. Aku tidak mau kehilangan Alda hanya karena hal ini. Aku yakin pelan - pelan Alda akan terbiasa tanpa mereka. Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN