Alda Melahirkan Bayi Kembar

846 Kata
Istriku Mengandung Cucuku(18) (Alda Melahirkan Bayi Kembar) POV Hendra Tepat pukul 03:10 Alda membangunkan ku dia bilang perutnya mulas aku rasa Alda akan melahirkan. Karena hari masih gelap Aku menyuruhnya untuk menunggu dulu sampai pagi , aku berharap semoga saja dia bisa menahannya sampai pagi . Aku tak kuasa melihat Alda kesakitan begitu, menunggu pagi rasanya begitu lama. Akhirnya aku memutuskan langsung pergi kerumah sakit saja. Setelah sampai dirumah sakit kebetulan sekali ada Dokter yang yang berada 24 jam dirumah sakit , akhirnya Alda dibawa keruang bersalin. Aku sudah menunggu berjam - jam lamanya sampai dokter mengatakan bahwa Alda tidak dapat melahirkan secara normal maka harus dilakukan tindakan operasi Caesar. Aku pun menyetujuinya dan menyerahkan semuanya kepada dokter. Operasi Caesar itu berjalan lancar yang membuatku akhirnya bisa bernapas lega. *** Aku terdiam sembari menatap sepasang bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang ada di depanku. "Lihat dia cantik seperti kamu sayang" ucapku pada Alda sambil menggendong bayi perempuan itu sedangkan yang satunya lagi digendong oleh Suster. Namun Alda hanya diam dan mengambil bayi itu dari gendonganku dan memalingkan wajahnya. "Kamu kenapa sayang, masih sakit?" Tanyaku cemas. "Enggak mas...aku baik - baik aja kok "ucapnya sambil tersenyum. Apa perasaanku saja jika aku merasa bayi perempuan itu benar- benar mirip dengan Harsa atau memang karena ada ikatan diantara mereka. "Dan lihatlah betapa tampannya dia"ucapku lagi sambil beralih menggendong bayi laki - laki itu . "Iya mas..."ucapnya singkat sambil mengelus pipi bayi yang masih merah itu. "Sini mas aku mau gendong.."ucap Mona sambil mengambil alih bayi laki - laki itu dari gendonganku. Kenapa dia disini apa urusannya kenapa dia begitu antusias. "Harsa kemana saja kau, ditelpon kok gak diangkat?" Tanyaku pada Harsa yang datang bersama Mona. Harsa tak menanggapi ucapanku dia malah tersenyum sambil menatap Alda . "Harsa papa bicara padamu, dan kau Mona kenapa kau kesini apa urusanmu?" Tanyaku sambil menatap heran. "Ehhh maaf pah tadi Handphoneku hilang"jawabnya asal sambil tak henti menatap Alda. "gapapa dong mas aku disini , Alda aja gak masalahkan kok kamu sewot"ucap Mona sambil menatapku. "Iya gak apa kok mas"ucap Alda sambil tersenyum kecut. Tiba tiba bayi dalam dekapan Alda menangis keras mungkin dia tidak terbiasa dengan suasana ramai. Aku pun mengambil bayi itu dan meletakkannya dibox bayi khusus yang letaknya tak jauh dari ranjang pasien. "Alda kamu mau kasih nama mereka siapa sayang?" Tanyaku lembut. " aku mau kasih nama Keny mas "ucap Alda sambil mengelus pipi bayi laki - laki itu. "Kalo yang perempuan namanya siapa?" Tanyaku lagi. "Kania..."ucap Harsa sambil berjalan mendekati box bayi itu dan mengendongnya. "Kenapa kamu yang kasih nama kenapa tidak mama kamu saja yang memberikannya nama"ucapku heran. "Sudahlah mas itu kan sama saja"ucap Mona yang membuatku kesal. "Keny dan Kania bagus mas namanya aku suka"ucap Alda seakan pasrah dengan apapun yang Mona katakan. "Mona bisa keluar sebentar saya mau bicara "ucapku pada Mona. *** "Kenapa mas?" Tanya Mona sambil tersenyum. "Pergi kamu dari sini jangan ganggu keluarga saya lagi"ucapku tegas. "Lo kenapa mas , Alda aja gak masalah kok kamu yang ribet sih"ucapnya tak terima. "Urusan kamu dengan saya itu sudah selesai jadi tolong jangan ganggu hidup saya lagi"ucapku kesal. "Urusan aku dan mas itu memang sudah selesai tapi urusan saya dengan Harsa belumlah selesai"ucapnya lagi. "Ya Mona aku tau kalo tidak ada namanya mantan anak tapi tolong hargai Alda sebagai istri saya yang sekarang" ucapku dengan nada kesal. "Okelah mas aku pulang , tolong kamu jangan sakiti cucu kita ya mas"ucapnya sambil tersenyum lalu berjalan pergi. Cucu..., Apa maksudnya sungguh aku tak paham tapi ah sudahlah begitulah sikap Mona selalu tak suka melihat orang senang. Ketika aku masuk kembali kedalam kamar pasien yang Alda tempati aku melihat Harsa masih menggendong Kania dan sesekali dia menciumnya. "Harsa sini biar papa saja yang gendong"ucapku sambil mengambil Kania dari gendongannya namun Bayi itu langsung menangis. "Kenapa dia menangis apa dia lapar?" Ucapku heran . Kenapa bayi itu menangis bukan kah tadi anteng - anteng saja saat digendong Harsa. "Aku rasa tidak pah"ucap Harsa sambil mengambil bayi itu dariku. "Kania...Diam ya Sayang"ucap Harsa sambil mengelus pipi bayi itu dan anehnya Bayi itu langsung terdiam. Kenapa bayi itu bisa akrab sekali dengan Harsa?. "Nah gitu dong, anak papa pintar banget"ucapnya lagi. Kali ini aku merasa seperti Harsa bukanlah menyebut aku namun lebih menunjukkan kalo dia menyebut dirinya sendiri dengan sebutan papa. "Harsa..., Seperti adik kamu nyaman sekali berada didekat kamu"ucapku berusaha menepis semua prasangka burukku. "Eh.., iya pah"ucapnya sambil mencium Kania dan meletakkannya lagi dibox bayi. "Yaudah aku keluar dulu ya pah"sambungnya. Lalu aku berjalan mendekati ranjang Alda setelah Harsa berjalan kaluar. "Sayang kamu kenapa kok kayanya ada yang kamu pikirkan?" Tanyaku lembut. "Enggak kok mas..."ucapnya sambil tersenyum. Ada apa dengan Alda kok dia berubah begini? "Kamu kok kelihatannya gak senang" ucapku lagi. "Senang kok mas , akhirnya yang aku Tunggu datang juga saatnya"ucapnya tersenyum. "Ohh gituuu"ucapku sambil mengelus rambutnya. Sebenarnya aku masih heran kenapa wajah Kania begitu mirip dengan Harsa bahkan hampir 90%. Dan Kania begitu nyaman dan tenang kala berada didekat Harsa berbeda denganku dia malah menangis saat aku gendong. Atau memang karena mereka kakak adik? Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN