Istriku Mengandung Cucuku (17)
( Ternyata Mengiklaskan adalah pilihan terbaik)
POV Alda
"Salma..,Apa benar kamu yang melukai Rivan?" Tanyaku pada Salma yang tak lain adalah Asisten rumah tangga dirumah ini.
Salma hanya tertunduk sambil sesekali melanjutkan kegiatannya yang tengah membersihkan meja diruang tamu.
"Salma saya bicara pada kamu" ucapku lagi kali ini ia malah beralih menatapku dengan tatapan tak suka.
"Emang urusannya sama ibu apa?" Tanyanya sewot .
"Gunanya apa Salma kamu melakukan itu?" Tanyaku balik sambil berjalan mendekatinya.
"Apapun yang saya lakukan itu bukan urusan ibu , ibu tidak berhak ikut campur"ucapnya kesal.
"Salma kenapa kamu bersikap seperti ini , apa saya punya salah sama kamu?" Tanyaku.
"Saya sakit hati Bu karena Rivan telah menghina saya dan juga kedua orang tua saya , saya sangat mencintainya namun dia tidak pernah mau membuka hati untuk saya"ucapnya dengan nada tinggi .
"Membuka hati maksudnya gimana?" Tanyaku tak mengerti.
"Saya cinta pada Rivan bahkan saya rela melakukan apapun untuknya"ucapnya lagi.
Aku sungguh tak paham dengan jalan pikiran Salma kenapa dia bisa bersikap seperti ini.
"Jadi benar kamu yang melakukannya?" Tanyaku lagi.
"Iya buk Baner saya yang melakukan itu"ucapnya mantap.
"Siapa yang menyuruhmu?,dan kenapa kamu melakukannya?"tanyaku sambil menatap Salma.
"Tidak ada yang menyuruhku, aku sendiri yang mau karena saya kecewa dan ingin balas dendam atas perlakuan Rivan pada saya"jelasnya panjang lebar.
"Lalu apa yang kau lakukan pada Rivan?"tanyaku penasaran.
"Aku diam - diam masuk kedalam kamarnya dan memukulnya menggunakan kayu "ucapnya lagi.
"Kenapa kamu nekat Salma?, Seharusnya kamu jangan melakukan itu?"ucapku padanya.
"Sudah saya bilang kerena saya cinta padanya, kalo tidak karena cinta sudah saya lenyap kan dia malam itu juga" ucapnya dengan nada tinggi.
"Tapi Rivan bukanlah laki- laki baik dia tidak pantas untuk kamu" ucapku berusaha memberi penjelasan.
"Ibu jangan bicara soal baik atau tidak Sedangkan ibu sendiri hamil bukan dengan pak Hendra "ucapnya sambil menatapku dengan tatapan tajam.
"Ya Salma saya sadar saya bukanlah orang yang baik saya juga adalah seorang yang punya banyak dosa tapi saya tau pasti bahwa Rivan bukan laki - laki yang baik"jawabku seketika tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan prihatin.
"Jadi Bu kalo bukan anak pak Hendra lantas anak siapa Bu?" Tanyanya penasaran.
"Kamu tau darimana soal ini Salma?" Tanyaku balik sambil mengusap pipiku yang mulai basah.
"Saya denger pas Rivan dan Mas Harsa sedang bicara waktu itu" ucapnya menunduk.
"Jangan kasih tau ke siapapun ya"ucapku lagi.
"Iya, tapi jawab dulu pertanyaan saya tadi Bu, kali aja saya bisa bantu" ucapnya dengan nada lembut.
"Sudahlah itu adalah masalah saya biarkan saya sendiri yang menyelesaikannya" ucapku sambil tersenyum.
"Okelah kalo begitu" ucapnya dengan anda lesu.
"Dan ingat kau jangan lagi melukai Rivan , jika Rivan memang yang terbaik kalian pasti bersama tanpa harus ada paksaan dari pihak manapun, jangan mengotori tubuhmu dengan Dosa seperti itu"ucapku sambil tersenyum.
Salma hanya tersenyum simpul sembari berjalan menuju dapur.
***
"Assalamualaikum.." ucap seseorang dari arah luar, aku segera berjalan mendekati pintu.
"Wallaikumsallam, " ucapku sambil membuka pintu ternyata itu Harsa datang bersama seorang perempuan Yang usianya sekitar 40an tahun.
"Kamu yang namanya Alda?" Tanya perempuan itu sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Iya, anda siapa ya?" Tanyaku heran.
"Saya Mona, mantan Istri mas Hendra"jawabnya sambil tersenyum.
Oh jadi dia adalah mantan istri mas Hendra, ibu kandung Rosa , Rivan dan juga Harsa.
"Boleh saya bicara?" Ucapnya sambil menatapku lalu tersenyum.
Sementara Harsa tak banyak bicara ia langsung berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas.
"Boleh silakan duduk" ucapku ramah.
"Maaf mengganggu waktunya saya hanya ingin menanyakan apa benar bayi yang sedang kamu kandung ini adalah cucu saya" ucapnya To the points.
"Cucu... maksudnya gimana?" Tanyaku berusaha menanggapi ucapan nya barusan.
"Sudahlah kita jangan bicara berbelit - belit, saya sudah tau semuanya"ucapnya lagi.
Aku hanya diam aku cukup mengerti maksud dari ucapnya namun bingung mau menjawab apa.
"Bagaimana kalo kita buat kesepakatan saja?" Ucapnya lagi.
"Kesepakatan apa?" Tanyaku heran.
"Biarkan saya yang merawat Cucu saya "ucapnya spontan.
"Maksudnya?" Tanyaku lagi memastikan apa yang aku dengar itu benar.
"Begini biar saya saja yang merawat Cucu saya kamu tenang saja saya pastikan semua kebutuhan mereka terjamin jika tinggal bersama saya"ucapnya sambil tersenyum.
"Anda tau darimana kalo ini adalah cucu anda?" Tanyaku.
"Saya tau kok bayi itu bukanlah anak mas Hendra"ucap sambil membenarkan posisi duduknya.
"Itu adalah anak Harsa kan?"sambungnya.
"Aku akan merawat anakku sendiri" ucapku.
"Saya akan berikan apapun yang kamu mau dan berapa pun yang kamu inginkan"ucapnya lagi.
"Saya tidak butuh uang anda"ucapku spontan sambil berdiri.
"Apa kamu tidak ingin mempertahankan rumah tanggamu, tolonglah pikirkan sekali lagi"ucapnya dengan suara yang lembut.
Jadi perempuan ini mencoba untuk melindungi dan membela putranya dia pikir semuanya akan selesai dengan adanya uang.
"Dan satu hal lagi kamu kenapa melukai Rivan?" Tanyanya sambil berjalan mendekatiku.
"Bukan saya, kenapa kamu yakin kalo yang melakukan itu adalah saya"ucapku emosi kenapa dia menuduhku tanpa bukti.
"Sudahlah Alda jangan mengelak, yaudah kalo begitu saya pamit , masalah tadi tolong kamu pikirkan sekali lagi" ucapnya sambil berjalan pergi.
***
"Alda..."panggil Harsa sambil menghampiriku.
Aku hanya diam aku benar - benar malas menanggapinya.
"Alda aku tau kami yang salah tapi tolong jangan bertindak sekejam ini, dimana rasa kemanusiaan mu"ucap Harsa.
"Harsa kau pikir aku yang melukai Rivan?"ucapku sambil menatapnya.
" kalo bukan kau siapa lagi "ucapnya dengan Ekspresi datar.
"Bicara soal kemanusiaan tapi kamu sendiri tidak memiliki rasa kemanusiaan"sindirku yang membuatnya tertunduk.
"Apa kau tidak kasihan padanya?"ucapnya lagi.
"Kasihan, ingin dikasihani namun tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain, lucu ya..." ucapku lagi kali ini raut wajahnya berubah drastis.
"Alda aku sudah minta maaf kenapa kamu tidak bisa memaafkanku" ucapnya sambil menatapku dengan tatapan sedih.
"Harsa, bilang pada mama mu jangan pernah berfikir bahwa setiap hal didunia ini bisa dibeli dengan uang"ucapku lagi sambil membalas tatapannya.
Sekarang aku mulai sadar rumah ini tidaklah aman untuk kedua anakku, aku harus secepatnya pergi dari sini sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ternyata harta yang kumiliki saat ini hanyalah mereka dan aku harus melindungi mereka walaupun dengan cara mengiklaskan hancurnya rumah tanggaku.
Bersambung-