Istriku Mengandung Cucuku(16)
(Kamu Yakin Itu Alda)
POV Harsa
[Harsa..cepat kesini Abangmu minta kamu kesini]Ting...
sebuah pesan masuk keponsel ku ternyata dari mama.
[Mau ngapain mah?] Balasku.
Memang sekarang bang Rivan tinggal dirumah mama kemarin malam dia meminta pulang layaknya anak kecil entah apa sebabnya.
Namun tidak mau pulang kerumah papa karena takut aku tidak tau apa yang ia takutkan.
[Sudah cepat kamu kesini saja] .
Tak menunggu beberapa menit mama langsung membalas pesanku.
***
"Harsa...!Lo bohongi gua ya"ucapnya penuh emosi saat aku baru masuk kedalam kamarnya.
"Bohongin apa bang?" Tanyaku tak paham begitupun mama menatap heran kearah ku.
"Ini apa?, Harsa gue gak akan bisa punya anak " rengeknya sambil memegang selang yang dipasangkan Dokter gunanya untuk Saluran buang air Kecil.
"Apaan sih bang malah nangis, siapa juga yang bilang Lo gak bisa punya anak" ucapku heran.
"Terus ini apa Sa?" Ucapnya lagi.
"Itu selang yang gunanya buat membantu buang air kecil, udahlah bang jangan nangis malu sama umur" ucapku yang membuat mama mengulum senyum.
"Lo yang hamilin Alda kenapa gue yang kena imbasnya"ucapnya spontan.
"Bang...!!"ucapku sambil melirik mama.
Apa dia lupa kalo disini ada mama bicara seenak maunya.
"Hamilin Alda?, Maksudnya apa?" Ucap mama penuh tanda tanya.
"Mama harus tau yang menghamili Alda itu Harsa dan anak yang sedang Alda kandung itu anak Harsa bukan anak papa" ucapnya tanpa dosa.
"Kalian lagi becandakan" ucap mama sambil memaksa tersenyum.
"Aku serius mah kalo gak percaya coba tanya sama Harsa"ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Jadi...gimana , mama gak ngerti?" Ucapnya lagi kali ini raut wajahnya berubah drastis.
"Apa itu benar Harsa?" Tanya mama sambil menatapku.
Aku hanya diam aku tidak yakin ini waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Jawab Harsa apa yang Abangmu katakan itu benar"ucapnya lagi.
"Kenapa Sa lo takut, mending jujur aja deh sama mama"ucap bang Rivan.
"Harsa jawab...!! , apa kau tidak punya mulut, jangan membuat mama kesal cepatt jawab"ucap mama dengan nada tinggi.
"Iya mah benar Memang aku yang menghamili Alda"ucapku menunduk menunggu reaksi mama.
Mama diam aku tau ada banyak kekecewaan dihatinya terlihat bulir air mata turun membasahi pipinya.
"Harsa kamu kok tega berbuat seperti itu?, Dimana akal sehat kamu?,kenapa kamu melakukan itu?" Ucap mama sambil membuang pandangannya.
"Aku minta maaf mah"ucapku tanpa mau menatap matanya.
"Rasanya mama tidak Sudi menganggap kamu anak, tingkah laku kamu itu keterlaluan Harsa, kau mama besarkan dan didik untuk bisa menjadi manusia yang berguna malah kamu seperti ini , Mama gak habis pikir sama kamu"ucapnya lagi.
"Tapi mah , bang Rivan lah yang mempunyai ide untuk memperkosa Alda"ucapku lagi.
"Tapi kamu kan yang melakukannya, atau Rivan?" Ucapnya lagi.
"Memang aku tapi bang Rivan juga pernah menidurinya"jawabku.
"Tapi untuk apa kalian melakukan itu bukankah kalian tau mama dan Papa bercerai karena memang keputusan kami berdua tanpa hasutan siapapun"ucap mama sambil mengusap air matanya.
"Tidakkah kalian memikirkan perasaan papa kalian , tega kalian ini apa tidak ingat Dosa "ucap mama lagi.
"Ini salah Alda mah "ucap bang Rivan.
"Kenapa kamu menyalahkan Alda, apa dia punya salah pada kalian?"ucap mama.
"Tidak mah dia tidak punya salah pada kami, aku menyesal mah"ucapku lagi.
"Rasa sesalmu itu tidak ada gunanya Harsa seharusnya kamu bisa berfikir secara dewasa sebelum melakukan sesuatu"ucap mama lagi sambil berjalan pergi.
"Bang sebenarnya siapa yang melakukan ini?" Tanyaku lagi pada bang Rivan.
"Alda...!!"jawabnya singkat lalu memalingkan wajah.
"Bang aku serius tolong jangan bercanda"ucapku kesal karena dulu dia menggeleng saat aku tanya apa orang itu Alda.
"Memang Alda orangnya , dia itu sudah gil4 dia mematikan lampu dan memukulku lalu Aghhh memang dia perempuan Gil4"umpat bang Rivan.
Apa memang benar Alda kalo benar akan kah Alda bisa berbuat sekejam itu aku kurang percaya rasanya.
"Lo kenapa diam ,gak percaya sama gua"ucapnya lagi.
"Tapi bang mana mungkin perempuan yang sedang hamil besar bisa melakukan itu"ucapku dengan nada tinggi.
"Tapi iya sih soalnya pas gue kepegang badannya kek posturnya bukan kaya ibu hamil"ucapnya lagi.
"Kenapa Abang bisa bilang itu Alda?" Tanyaku.
"Ya siapa lagi, orang cuma dia musuh kita"ucapnya enteng.
"Dia bukan musuh kita bang,sudahlah Abang gimana sih kok kasih tau mama"ucapku kesal.
"Ya siapa tau mama bisa bantu menyelesaikan masalah kita"ucap bang Rivan.
"Tapi mama jadi membenciku"ucapku.
"Emang kamu yang salah , Abang kan gak nyuruh kamu buat hamilin Alda"ucapnya lagi sambil tersenyum.
Aku memutar bola mata malas bagaimana bisa dia menganggap semua ini hanya salahku.
"Oh ya Harsa kira - kira ini kapan ya sembuhnya?"tanyanya sambil melirik kedalam selimut.
"Emang kenapa?" Tanyaku.
"Gapapa sih nanya aja tapi masih bisa digunakan semestinya kan?" Tanyanya balik.
"Mungkin gitu... atau mungkin udah rusak kali, udah gak bisa dipakai"ucapku sambil tersenyum.
Sedang dalam masalah seperti ini dia masih memikirkan hal begitu memang sih kata dokter seperti alat itu tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama.
"Lah jadi gimana Sa?" Tanya nya dengan wajah takut.
Bersambung-