Kau tidak sayang padaku dan anakmu

896 Kata
Istriku Mengandung Cucuku (15) (Kau tidak sayang padaku dan anakmu) POV Harsa Sudah dua hari ini bang Rivan terbaring belum sadarkan diri dirumah sakit dan sudah dua hari ini juga aku tak melihat batang hidup Alda. Aku sedikit berdelik ngeri mendengar penuturan dokter tadi bagaimana caranya aku menjelaskan itu pada Bang Rivan. "Heumm..." "Alhamdulillah, kalo Abang udah sadar"ucapku sambil mendekatinya. "Gue dimana Sa?" Tanya bang Rivan sambil menatap sekeliling. "Abang dirumah sakit" jawabku. "Rumah sakit..." Ucapnya heran lalu terdiam. "Harsa tolongin gua Sa tolong..!!" Teriaknya seperti orang yang sangat ketakutan. "Tolong apa bang, jangan teriak - teriak ini rumah sakit"ucapku menenangkannya yang mengamuk entah apa sebabnya. "Perempuan itu gila Sa, kita bisa terbunuh jika terus berada didekatnya"ucap bang Rivan dengan ada seperti orang ketakutan. "Perempuan mana?, Siapa?" Tanyaku heran. "Dia gila Sa , dia hampir memotong p***s gua"ucapnya sambil menangis. "Siapa bang? , udah jangan nangis malu didengar orang bang, nanti orang merasa terganggu juga" ucapku lagi. Bang Rivan langsung terdiam sambil memeluk bantal dengan erat dengan raut wajah penuh ketakutan. "Siapa?, Alda yang Abang maksud" tebak ku. Namun anehnya dia langsung menggeleng dan menatapku dengan ekspresi aneh. "Terus siapa bang?" Tanyaku lagi. Bang Rivan kembali terdiam dan membaringkan tubuh diranjang. "Sa gimana?" Tanya nya setelah lama terdiam. "Ya gimana , apanya yang gimana?" Ucapku heran. "An_uu gimana Sa?" Tanya nya lagi sambil melihat kedalam selimut. " udah ditangani Dokter tinggal nunggu proses penyembuhan nya aja" jawabku. "Tapi gak ada yang bermasalah kan?" Tanya nya lagi. Aku hanya bisa diam bingung mau darimana dulu menjelaskannya kepada bang Rivan. "Harsa..!!, Kok diem jawab dong" ucapnya emosi . "Iya gak ada masalah, semuanya baik- baik saja. " ucapku berbohong aku takut jika berkata jujur dia akan mengamuk lagi. "Keadaan kamu gimana Van?" Tanya mama yang datang dari arah luar. Aku berjalan mundur membiarkan mama mendekati bang Rivan. "Mama kapan datangnya?" Ucapku sambil mencium tangannya. "Baru tadi, ini ada apa sih kok bisa lukanya disitu , coba jelaskan kepada mama apa yang sebenarnya terjadi" ucap mama . Bang Rivan terlihat linglung dan menatapku memintaku berbicara kepada mama. "Mah, kan bang Rivan baru siuman jadi harus banyak - banyak istirahat kata dokter" ucapku mengalihkan pembicaraan. "Oh gitu yaudah ceritanya nanti saja sekarang kamu istirahat yah sayang" ucap mama lembut sambil mengelus kepala bang Rivan. "Harsa ikut mama, mama mau bicara" ucapnya sambil menarik lenganku. "Ada apa mah?, Mama mau bicara apa?" Tanyaku heran. "Mama denger , mama sambung kamu itu lagi hamil ya ?" Ucapnya serius. Aku mengangguk pelan sambil menggaruk kepalaku yang tidak terasa gatal. "Anak siapa?" Tanya mama spontan yang membuatku langsung menatapnya. "Maksud mama?" Tanyaku pura - pura tak mengerti. "Adik kamu atau bukan?" Ucapnya lagi. "Bukan.." jawabku spontan lalu resplek aku menutup mulutku dengan tangan. "Terus kalo bukan , lantas siapa?" Ucap mama dengan nada bercanda. "Enggak maksud aku itu adik tiri..iya adik tiri aku mah" ucapku sambil tersenyum. "Emm kamu ini, oh ya papa kamu enggak kesini atau masih dimabuk istri barunya"ucap mama lagi. "Entar malam katanya" ucapku. "Emang Abang kamu harus banget ya nginap?" Tanya nya lagi. "Iya mah soalnya harus dibawah pantauan Dokter, katanya sih paling baru boleh pulang lusa" jawabku. "Ohh gitu yaudah kamu udah berapa hari disini?, kamu pulang aja gih biar mama yang temenin Abang kamu" ucapnya lagi. "Udah dua hari, yaudah deh aku pulang dulu ya mah"ucapku sambil mencium tangannya lalu berjalan pergi. *** "Harsa kamu sudah pulang?" Ucap papa saat aku baru saja masuk kedalam rumah. "Oiya pah soalnya disana ada mama temenin Abang" ucapku sambil berjalan mendekatinya. "Lagian Abang kamu itu kenapa bisa gitu , jatuh atau apa kok bisa lukanya disitu mana harus dapat 15 jahitan lagi" ucap papa sambil menyimak televisi. "Aku juga gak tau pah, oh ya mama Alda mana?" Tanyaku sambil melihat sekeliling. "Oh ada dikamar , katanya kecapean" jawab papa. "Yaudah deh aku kekamar dulu ya" ucapku sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku. *** "Mah ngapain dikamar aku?" Tanyaku heran saat melihat mama Alda berada dikamarku. "Sayang kamu udah pulang" ucapnya lembut sambil memegang tanganku. "Iya, oh ya kejadian yang dialami bang Rivan pasti ada sangkut pautnya sama mama"ucapku sambil melepas tangannya. "Kamu nuduh mama?, Mama lagi hamil loh gak mungkin dong mama ngelakuin itu"ucapnya sambil berjalan mendekati pintu. "Mah kok pintunya dikunci?"ucapkan heran namun mama Alda hanya tersenyum. "Mama kangen sama kamu" ucapnya sambil mendorong tubuhku. "Mah apaan sih mama mau ngapain?" Ucapku sambil berusaha menghindar darinya. "Kamu kapan sih punya waktu buat aku dan anak kita"ucapnya dengan raut sedih. "Mah ada papa diluar, tolonglah mah aku tau aku salah tapi tolong jangan bertingkah seperti ini"ucapku sambil menatapnya. "Bertingkah seperti apa, " ucapnya lagi sambil terus memepet tubuhku disandarkan ranjang. Lalu ia mulai menarik baju dan celana ku sebisa mungkin aku menahan tubuhnya tanpa melukai Bayi yang ada didalam kandungan nya. Namun entah kenapa sikapnya semakin menjadi saja yang membuatku mau tak mau mendorong tubuhnya. "Mah tolong jangan menghukumku dengan cara seperti ini, aku tau aku salah aku kan sudah berulang kali meminta maaf apa mama tidak bisa memaafkanku" ucapku. "Auh sakiiit, kamu tuh sayang gak sih sama anak kamu" ucapnya sambil mengusap pipinya yang mulai basah oleh air mata. "Mama tidak melukai Abang mu malah kamu tuduh" ucapnya lagi. Ada apa dengan Alda kenapa dia jadi begini?, Apa yang sebenarnya ia inginkan?. Secara logika memang tidak mungkin ibu hamil bisa melakukan itu lantas siapa yang melukai bang Rivan?. Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN