Istriku Mengandung Cucuku (14)
(Akibat Dari Perbuatannya)
POV Harsa
Ketika aku berjalan hendak menuju ruang tengah tak sengaja aku melihat mama Alda yang seperti tengah menelpon seseorang .
Aku menghentikan langkahku lalu berjalan mendekatinya.
[Iya, jangankan satu dua pun aku akan kasih] ucapnya disambungkan telepon.
Apa yang mau dikasih?, Gumamku .
[Tenanglah, dia pasti setuju] ucapnya lagi.
Siapa yang setuju?, Ada apa ini apa ini ada sangkut pautnya dengan anakku.
Aku berusaha abai dan berjalan pergi menuju lantai atas sadari pagi aku tak melihat bang Rivan kemana dia.
***
"Harsa....!"panggil mama.
"Iya, kenapa mah?" Tanyaku heran.
"Kamu menginginkan anak ini?" Tanya nya sambil mengelus perutnya.
"Emang kenapa mah?" Tanyaku balik apa mama Alda tidak menginginkan mereka.
Mama hanya menggeleng lalu menatapku dengan tatapan penuh arti.
"Apa mama tidak menginginkan mereka" tanyaku hati - hati.
"Harsa jika mereka sudah lahir kamu mau mereka bersamamu atau bersamaku?" Tanyanya lagi yang membuatku terdiam.
Aku hanya diam dan berusaha mencerna ucapan Alda.
"Jika kamu mau mereka bersamamu maka aku akan pergi jauh dari hidup kalian namun jika kamu ingin mereka bersamaku tolong jangan cari kami dan jangan mengakui dirimu sebagai Ayah mereka"ucapnya panjang lebar.
"Ak_uu..." aku bingung harus jawab apa jika mereka bersamaku mana mungkin aku tega membiarkan mereka jauh dari ibu mereka.
Namun jika aku membiarkan Alda membawa mereka berarti aku tidak akan pernah bisa bertemu mereka lagi.
"Cepat jawab kenapa diam saja.."ucapnya memecah lamunanku.
"Beri aku waktu untuk berfikir"ucapku sambil berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari Alda.
***
Sekarang usia kandung Alda sudah memasuki 9 bulan itu artinya tinggal menghitung hari kapan bayi itu akan lahir ke dunia ini.
Apa sebaiknya aku biarkan saja Alda merawat mereka dan mengiklaskan saja.
Tapi aku sudah terlanjur sayang pada mereka walaupun kenyataannya belum memberitahuku benar tidak mereka anakku.
"Ngapain malam - malam diluar sendirian?" Ucap papa mengagetkanku yang tengah duduk di kursi taman depan rumah.
"Cari angin didalam panas" ucapku sambil menghapus air mata yang tidak terasa kapan jatuh dari sudut mataku.
"Ah cari angin, gayamu" ucapnya sambil duduk didekatku.
Aku menatap wajah papa terlihat begitu banyak beban disana ,aku benar - benar menyesal atas perbuatanku dimasa lalu.
Tidak bisa aku bayangkan bagaimana perasaan papa saat tau anak kesayangan telah mengkhianati kepercayaan dan telah berbuat hal yang menjijikan.
Ketika kami sedang larut dengan pikiran masing - masing tiba - tiba terdengar suara seperti benda jatuh dan asalnya dari dalam rumah.
"Suara apa Sa?" Tanya papa ternyata dia juga mendengarnya.
"Gak tau pah, mungkin bibi lagi nyuci piring kali"ucapku.
Papa hanya diam sepertinya dia tak puas akan jawaban dariku.
"Mama mu itu Sa sekarang berubah banget" ucapnya sambil menghela nafas berat.
"Lah emang kenapa?" Tanyaku .
"Entahlah, sekarang dia seakan menjauh dari papa"ucapnya dengan nada sedih.
Ini adalah salah bang Rivan kenapa dia bisa memikirkan rencana seperti itu tapi selain menyalahkan bang Rivan ini juga adalah salahku sendiri dengan begitu bodoh mengikuti kemauan bang Rivan.
"Ya mungkin hormon ibu hamil kali pah" jawabku berusaha menenangkan nya.
"Tapi dia itu sangat berbeda Harsa dia seakan seperti orang lain "ucap papa sambil melepas kacamatanya dan mengusap pipinya yang basah.
"Papa nangis, ayolah pah jangan nangis "ucapku semakin merasa bersalah rasanya.
Lihatlah Harsa kau telah membuat orang yang selalu tersenyum dan ceria itu menangis kerena ulahmu.
"Ah nangis, papa gak nangis cuma kelilipan dikitt"ucapnya berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman.
"Halah jangan bohong pah" ucapku lagi.
"Apa dia sudah tidak mau lagi bersama papa ya , atau dia punya yang lain dibelakang papa"ucap papa sambil menatap langit gelap tanpa bintang.
"Ah pikiran papa itu sudah terlalu jauh, sudahlah jangan berfikir macam- macam"ucapku lagi.
Papa hanya terdiam dan berdiri lalu berjalan pergi.
"Papa mau kemana pah?" Tanyaku.
"Mau menenangkan pikiran kerumah om Heru"ucap papa sambil terus melanjutkan langkahnya.
Mengungkapkan kebenaran memang lah sangat sulit tapi menyembunyikan kebenaran itu lebih sulit dan menguras pikiran apalagi melihat seseorang menderita mereka perbuatan kita .
***
Sadari pagi tadi aku tak melihat bang Rivan, apa dia pergi kalo dia pergi kemana dan kapan dia pergi.
"Bang...!!"ucapku sambil mengetuk pelan pintu kamarnya.
Namun tak ada sahutan darinya apa dia tidak ada didalam.
"Bang Lo didalam kan?" Ucapku lagi namun tetap tidak ada sahutan.
Aneh sekali tidak biasanya dia tidur selelap ini sampai tak mendengar suara teriakan ku memanggilnya.
Karena penasaran aku membuka pintu kamar itu ketika pintu terbuka aku begitu kaget melihat pemandangan di hadapanku.
"Bang loh kenapa?" Ucapku saat melihat bang Rivan tergeletak dilantai tak sadarkan diri.
Darah segar mengalir dilantai yang asalnya dari alat Vitalnya terlihat celana yang ia kenakan basah oleh darah.
Aku melihat sekeliling ruangan sampai pandanganku berhenti saat aku melihat kayu dan juga pisau yang tergeletak didekat bang Rivan.
Apa alat Vitalnya luka kenapa begitu banyak darah dilantai? Dan siapa yang melakukan ini padanya?.
Bersambung-