Elena terkekeh di depan pintu dapur. Michelle masih dalam gendongan Rydian, menyembunyikan kepalanya di leher pria itu seraya tertawa malu. Jantungnya berdegup kencang setelah ciuman tersebut. Begitu memabukkan dan menyenangkan jika diulang beberapa kali lagi. “Kau dari mana?” Rydian bertanya pada adiknya setelah mengatur napasnya yang memburu. Dia ingin sekali mengurung Michelle di kamar. “Sedang berjalan-jalan saja.” Elena menjawab lalu berputar pada tumitnya. “Lakukan di kamar. Kau tentu tahu di mana kamarku.” Setelahnya gadis itu terbahak dan berlalu begitu saja. “Kau mau ke mana Elena?” Rydian masih mendekap Michelle di pelukannya. Satu tangannya mengusap kepala gadis itu. “Membantu Mom.” Jawab Elena seraya setengah berteriak, “lanjutkan kegiatan kalian.” Rydian berdecak. Mic

