Rydian terperanjat dari duduknya. Hidungnya membaui aroma yang familiar. Michelle. seketika dia berdiri dari duduknya kemudian menyibak tirai yang menutupi jendela. Benar saja. Gadis itu berdiri di depan pagar rumahnya dengan payung. Hari sudah mulai malam dan masih hujan walau rintik-rintik. Dia dapat mendengar ibunya sedang merapikan tokonya bersama dengan Elena. Dia dapat mendengar sapaan ibunya pada Michelle yang datang malam-malam. “Ada apa kau datang?” kali ini suara Elena. Terdengar begitu ketus dan tidak suka. Rydian memilih untuk duduk kembali. Dia sebenarnya ingin menemui gadis itu namun dia tahu siapa dirinya sebenarnya. “Apa Rydian ada?” suara lembut Michelle menyapa pendengarannya. “Tidakkah bisa besok kau datang?” Elena kembali berkata. “Elena.” Ibunya memarahi putrin

