Rydian memilih bersembunyi di bagian belakang gudang. Dia berjuang berjam-jam agar bisa kembali seperti semula. Sangat sulit baginya yang tidak bisa mengendalikan kemarahannya. Jake yang tidak memberi petunjuk apa pun padanya membuatnya tidak bisa berubah menjadi manusia.
Lama dia menunggu dirinya untuk berubah kembali seperti semula namun tidak kunjung terjadi. Dia menggeram kemudian ingat bahwa Jake mengatakan tinggal di Beacon City. Itu adalah kota yang tidak jauh dari Panstone. Perlu waktu satu jam perjalanan jika berkendara menggunakan kereta kuda.
Rydian dapat mendengar suara ibunya dan adiknya yang mengeluhkan dirinya menghilang lagi padahal hari sudah mulai malam. Rydian berusaha menenangkan dirinya namun gagal. Dia tidak bisa merubah bentuk mengerikannya menjadi manusia.
Sayap hitam pekatnya mengepak pelan di belakang punggungnya. Dia masih tidak bisa mengendalikan sayapnya untuk mengembang dan menutup sesuai keinginannya. Dia pun tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan sayap itu dari balik punggungnya. Dia ingin mematahkan sayap itu namun dia sadar, hanya akan melukainya. Sayap itu adalah bagian dari tubuhnya. Dia dapat merasakan tulang-tulang bergerak dari sayapnya yang masih mengepak pelan.
Rydian masih dapat berpikir jernih. Dia bisa memikirkan bagaimana caranya berubah bentuk. Pikirannya masih manusia. Dia berasumsi bahwa darah vampirnya atau drakula yang mengunci pikiran untuk menjadi binatang buas seperti setengah lcyan atau yang bisa dikatakan oleh orang sebagai manusia serigala.
Rydian menggerakkan punggungnya beberapa kali berusaha agar sayapnya itu mengepak lebih kencang lagi dan berhasil, sayap itu bergerak kemudian mengembang lebih lebar lagi. Dia memejamkan mata, membayangkan bagaimana terbang. Tidak mungkin dia memiliki sayap tetapi tidak bisa terbang. Kemudian, sayapnya mengikuti pikirannya. Seketika udara malam yang dingin menerpa bulu-bulu serigalanya yang hitam. Dibuka matanya lalu mendongak. Langit malam yang pekat dihiasi oleh bintang-bintang. Untuk sementara waktu, dia menyukainya.
Dia terbang melintasi langit malam yang gelap. Dia melihat rumah-rumah penduduk dengan pelita berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Sekejap saja dia lupa pada tujuan awalnya untuk mencari. Alih-alih menuju Beacon City yang terletak di barat, dia terbang ke utara menuju hutan terlarang Indfamos. Hutan yang menurut ibunya merupakan tempat berkumpulnya makhluk-makhluk mengerikan. Hutan yang membuat manusia tidak akan bisa lagi pulang ke rumah. Dia terkekeh geli mengingat ucapan ibunya sebab dia sekarang mungkin menjadi salah satu dari makhluk-makhluk mengerikan itu.
Rydian menukik tajam menuju hutan Indfamos. Dalam penglihatannya, hutan itu tidak begitu menyeramkan. Berbeda ketika dia masih dalam bentuk manusia. Hutan adalah tempat yang sangat dihindarinya.
Rydian mendarat dikedua kakinya. Kaki serigalanya menginjak ranting-ranting kering hingga berbunyi gemeretak patah di telinganya yang super. Matanya memandang sekitar. Hutan itu begitu tenang dan damai. Hanya ada beberapa suara binatang malam yang bersuara nyaring memecah keheningan malam. Dia heran, ke mana perginya monster yang dikatakan oleh penduduk? Atau itu hanyalah isu agar anak-anak tidak masuk ke dalam hutan?
Rydian menghembuskan napasnya berat. Tubuhnya masih berbentuk setengah manusia serigala, setengah vampir dan setengah lagi drakula. Dia belum bisa berubah kembali menjadi manusia normal. Sayapnya masih mengepak di belakang punggungnya. Kepakannya menyebabkan ranting dan daun beterbangan di sekitarnya.
Dia memilih untuk berjalan kaki seraya berpikir bagaimana caranya agar bisa berubah wujud kembali seperti semula. Matanya menatap sekitar. Begitu banyak binatang yang tertangkap matanya. Mulai dari rusa yang sedang tidur, ular yang melilit pohon, hingga binatang kecil seperti kelabang dapat dilihatnya dengan jelas. Seluruh panca indranya setelah berubah menjadi hyrid semakin tajam dan jelas, Berbeda saat dia masih menjadi manusia.
Telinganya dapat mendengar jelas berbagai suara binatang. Matanya dapat melihat di kegelapan malam dengan terang dan jelas namun ketika matahari bersinar, matanya tidak dapat melihat berbagai warna selain merah. Suasana malam dilihatnya seperti pergantian antara sore menuju malam. Redup.
Rydian menggerakkan punggungnya dan seketika sayapnya menekuk di belakang punggungnya. Dia kembali menggerakkan kakinya. Kedua tangannya membabat habis tanaman yang menghalangi jalannya.
Bau menggiurkan membuatnya mendongak lalu mengendus udara yang membuat air liurnya menetes seketika. Dalam sekejap saja dia sudah lapar dan ingin sekali memakan apa pun yang membuat bau itu menyenangkan.
Diikutinya bau itu hingga dia melihat seseorang tergeletak di atas tanah basah. Wanita dengan rambut putih, memakai gaun panjang yang sudah kotor. Rydian dapat melihat darah merembes dari perut wanita itu. Dia dapat mendengar detak jantung wanita itu yang berdetak lemah. Dia paham, bau menggiurkan itu berasal dari darah yang keluar dari tubuh wanita itu.
Bau menggiurkan itu membuat langkah kakinya semakin mendekat dan mencoba mengendus lagi. Air liurnya menetes membaui darah yang merembes dari tubuh wanita yang sekarat tersebut. Darah itu keluar begitu banyak dan hampir memenuhi tubuh wanita itu.
Kedua sayap Rydian mengembang lebih lebar lagi dan kukunya memanjang. Dia begitu lapar dan ingin sekali memakan wanita berambut putih dengan wajah yang belum kentara jelas sebab tertutupi rambutnya. Dia berpikir bahwa wanita itu mungkin sudah tua.
Rydian berdiri menjulang di hadapan wanita yang sekarat dengan gaun yang robek di sana-sini. Gaun yang dia perkirakan berwarna putih itu sudah berbaur menjadi satu dengan darah. Wajah wanita itu masih tertutupi rambut putihnya yang panjang. Air liur Rydian menetes melihat perut yang mengeluarkan darah. Tenggorokannya terasa terbakar ketika dia sudah berhadapan dengan wanita itu. Dia ingin sekali darah wanita itu.
Tangan Rydian terjulur, disentuhnya ujung luka wanita itu dengan kukunya yang tajam. Darah menempel di ujung kuku. Didekatkan jarinya di depan wajahnya, diperhatikan darah yang ada di ujung kukunya dengan lapar. Kemudian dia menjulurkan lidahnya ingin merasakan bagaimana darah wanita itu di lidahnya ketika didengarnya rintihan wanita.
Wanita itu bergerak perlahan membuat Rydian mundur. Diperhatikan wanita itu mengangkat kepalanya dan Rydian terkejut saat matanya bertatapan dengan mata wanita itu. Wanita itu masih muda. Mata wanita tersebut berwarna cokelat muda. Rydian berkedip menatap wanita itu.
“Bunuh aku.”
Bisikan itu membuat Rydian terkesima hingga dia mundur lagi. Suaranya begitu merdu di telinganya. Suara itu begitu menenangkan jiwanya yang sangat sepi. Dia menyukai suara itu terdengar. Bahkan rintihannya begitu menyenangkan di telinganya.
“Aku bosan hidup. Bunuh aku.”
Wanita itu bersuara lagi. Permintaan wanita itu membuat Rydian ingin bertekuk lutut dan segera menghabisinya. Dia mendengus yang terdengar seperti geraman, membuat wanita itu memejamkan mata.
“Beast, bunuh aku.”
Mata Rydian berkedip mendengar suara merdu itu. Wanita itu memanggilnya Beast. Dia tidak suka dipanggil Beast. Panggilan itu membuatnya menggeram. Dia bukan makhluk mengerikan. Dia bukan makhluk buruk rupa.
Kemarahan memenuhinya mendengar wanita itu memanggilnya lagi dengan sebutan Beast. Seakan sengaja ingin membuatnya marah. Rydian maju. Dia masih menggeram pada wanita yang kini memejamkan mata, siap menerima ajal. Dia dapat mendengar detak jantung wanita itu yang menggila. Wanita itu takut yang membuatnya tidak tega. Kemudian dia kembali mundur.
“Aku tidak bisa.” Ucap Rydian. Sayap dibelakang punggungnya menutup perlahan seolah mengerti kegelisahan hati sang pemiliknya.
Wanita muda berambut putih itu menatap Rydian. “Aku mohon. Bunuh aku, Beast.”
Permintaan itu sangat putus asa terdengar oleh telinganya. Dia tidak ingin membunuh siapa pun kecuali Jake. Pria gila itu adalah orang yang benar-benar ingin dia bunuh. Rydian menggeleng pelan saat wanita itu memohon lagi padanya. Kini wanita itu muntah darah. Ditelan ludahnya susah payah demi menghalau laparnya, lalu dia nmenggerakkan punggungnya kemudian sayapnya mengembang lebar dan mengepak perlahan.
‘Terbang!’ batinnya dan sayapnya mengikuti keinginannya. Dia tidak ingin membunuh manusia manapun. Dia memang terlihat keji namun dia tidak ingin membunuh tanpa ada alasan kuat.
Rydian terbang lurus ke atas kemudian dia menunduk demi melihat keadaan wanita muda itu. Dia melihat wanita itu memandangnya dari bawah. Mata wanita itu terlihat putus asa dan takut.
Dapat di dengarnya suara rintihan wanita itu berkata, “Aku sudah teraniaya. Aku ingin mati. Tidak ada gunanya aku hidup. Kumohon padamu, bunuh saja aku. Aku dengan senang hati memintamu.”
Darah yang merembes dari luka di perutnya masih dapat tercium di hidung Rydian. Begitu menggoda. Begitu menyenangkan jika dia dapat menghisap habis darah wanita itu. Namun Rydian tidak bisa. Dia tidak ingin meminum darah. Dia bukan monster. Dia adalah Rydian Lockwood, seorang manusia biasa dari kelaurga Lockwood yang miskin dengan ayah yang pergi entah ke mana.
Tangan wanita itu perlahan terangkat. Bibirnya bergerak membacakan kalimat yang tidak dimengerti oleh Rydian. Seketika, tubuh remaja itu bagaikan tertarik ke bumi. Rydian menggeram. Dia yakin, wanita itu bukan wanita biasa. Wanita itu bisa jadi penyihir. Dia mencoba mengepakkan sayapnya lebih keras lagi untuk melawan yang berakhir gagal. Wanita itu semakin keras menariknya agar jatuh.
“Apa yang kau lakukan?” Rydian menggeram berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan sihir itu.
Mata Rydian dapat melihat sinar putih mengikat kakinya dan ujung sinar lain terdapat pada tangan wanita muda yang sekarat itu. Wanita itu menariknya seperti layang-layang. Kembali dia menggerakkan kakinya berusaha agar sinar putih terlepas namun sia-sia. Sinar itu semakin kuat mengikat kakinya seiring dengan gumaman mantra dari bibir wanita itu yang mengatakan agar ikatan semakin diperkencang.
Wanita itu menggumamkan mantra lagi yang membuat bau darah yang menggiurkan semakin tajam tercium dihidung Rydian. Membuat matanya bersinar semakin merah. Rydian tidak dapat mengelak lagi. Rydian berteriak lalu mendaratkan tubuhnya tepat di atas wanita itu.
“Kau!” Rydian menggeram menumpukan kedua tangannya di sisi kepala wanita muda sekarat itu.
“Kumohon.” Bisik wanita itu padanya. Tatapan itu sangat memelas dan putus asa. “Kau akan mendapatkan imbalan setimpal jika kau membunuhku.” Bisiknya menatap mata Rydian. Wanita itu sedang menyihirnya dan dia tahu itu. Kekuatan sihir itu begitu kuat hingga dia tidak bisa lagi melawan.
Rydian menelan ludah lalu menjilat bibirnya. Ditatapnya denyut nadi leher wanita sekarat itu lalu berkata penuh kelaparan, “aku ingin sekali menghisap habis darahmu hingga kau kering.”
Wanita itu tersenyum lemah. Dia sepertinya senang mendengar ucapan pria aneh yang dipanggil Beast itu. “Hisap darahku,” bisiknya, “dan kau akan mendapatkan kekuatanku. Aku pasrah memberikan padamu.”
Rydian menggeleng lalu menagakkan tubuhnya. Seakan tahu apa yang akan dilakukannya, wanita sekarat itu menguncinya hingga dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia dapat melihat disekelilingnya terdapat sinar putih. Mengungkung mereka berdua.
Bibir wanita itu lalu berkomat-kamit yang membuat Rydian mendekatkan kepalanya di leher wanita itu. Aroma yang menggiurkan menusuk hidung. Dia dapat merasakan kenikmatan walau hanya dengan menghirup aroma wanita itu.
Rydian memejamkan mata lalu berkata dalam hati; maafkan aku.
Kemudian tanpa bisa dicegah olehnya, dia menusukkan gigi-giginya yang tajam di lekukan leher wanita itu. Terdengar bunyi gigi menusuk daging saat dia berusaha merobeknya agar dapat mengeluarkan lebih banyak darah lagi. Dia memeluk wanita sekarat itu seraya menghisap darahnya. Rasanya begitu menyegarkan. Mengalir melalui tenggorokannya. Darah wanita berambut putih itu begitu sangat teramat manis.
“Kuberikan semua kekuatanku padamu, Beast,” bisik wanita itu di telinganya. Tangannya dengan lemah mengusap kepalanya seraya menyalurkan seluruh kekuatan yang dipunya padanya, “Kau tidak akan terkalahkan. Semua abnormal akan tunduk … padamu.”
Suara wanita itu menyadarkannya. Rydian menghentikan hisapannya lalu menatap wanita yang masih dipeluknya. Wanita itu diam tidak bergerak. Tubuhnya berubah menjadi abu-abu seolah tidak ada darah yang mengalirinya. Tubuh Rydian bergetar hebat. Dia telah membunuh seorang manusia selama kehidupannya.
***