Spekulasi

1748 Kata
Rydian memeluk wanita sekarat itu lalu berteriak marah yang menyebabkan burung-burung malam beterbangan. Dia marah pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya tersihir oleh bujuk rayu wanita itu. Dia marah karena sudah menghilangkan nyawa seseorang. Tanpa Rydian sadari, bulu-bulu serigala dalam tubuhnya memendek lalu menghilang. Tubuhnya kembali kebentuk semua. Cakar-cakarnya mengecil dan menghilang. Menyisakan kepakan sayap yang ada di punggungnya. Rydian merasakan pergerakan dalam tubuhnya. Perlahan dia melepaskan tubuh wanita sekarat itu kemudian menatap kedua tangannya sendiri yang sudah berubah menjadi manusia normal. Rydian tersenyum karena berhasil berubah kebentuk semula. Dia melirik sayapnya. Sayap itu masih ada. Masih berwarna hitam. Dia mengulurkan tangannya lalu mengusap sayap itu dengan jari-jarinya. Sayapnya begitu lembut di jarinya. Dan, dia menyukai sayapnya itu. Rydian kembali menatap mayat wanita yang baru saja dibunuhnya di pangkuannya. Dia memejamkan matanya lalu menggeser perlahan mayat tersebut kemudian berdiri dan berusaha menjauhkan dirinya dari mayat itu. Didekap tubuhnya yang telanjang. Dia baru saja menyadari, bahwa dia harus meminum darah jika ingin kembali kebentuk manusianya. Dia tidak bisa berubah menjadi manusia karena darah vampir dan drakulanya mengunci insting serigalanya untuk berubah. Mata tajamnya menatap sekitar lalu kembali menatap mayat wanita berambut putih itu. Dia tidak mungkin meninggalkan wanita itu namun dia tidak ada pilihan. Dia harus pergi dari tempat itu. Dia masih dapat melihat dikegelapan walau tidak sejelas saat dia masih menjadi makhluk aneh. Lagi-lagi dia beranggapan bahwa darah vampir dan drakulanya yang membuatnya seperti itu. Rydian bangkit. Diusapnya sekali lagi sayapnya. Dia ingin sekali sayapnya itu menghilang dari punggungnya. Namun dia tidak tahu bagaimana caranya agar tidak terluka. Tidak mungkin dia memotong begitu saja sayapnya. “Menutup dan menghilanglah.” Gumam Rydian pada sayapnya. Seketika sayapnya menutup rapat di punggungnya yang membuatnya terkejut. “Bagaimana bisa?” gumamnya heran. Dia meraba punggungnya. Dapat dirasakannya lekukan-lekukan sayapnya menempel sempurna dipunggungnya. Diliriknya punggungnya susah payah. Samar dia dapat melihat punggungnya berwarna hitam. Dia harus memastikan melalui cermin. Apa yang terjadi dipunggungnya. “Muncul.” Gumam Rydian pada sayapnya. Seolah mengerti, sayapnya terbentang di punggungnya. Dia tersenyum lebar lalu sedetik kemudian dia sadar bahwa dalam tubuhnya sudah memiliki ilmu sihir yang diberikan oleh wanita berambut putih itu. Wanita penyihir yang entah tinggal di mana. Ilmu sihir yang dimilikinya tidak memerlukan mantra dan itu begitu mengejutkan baginya. Dia tidak perlu mengucapkan kalimat aneh seperti wanita berambut putih itu. Kemudian ditatapnya langit malam yang bertabur bintang. Dikepakkan sayapnya lalu terbang. Kali ini, dia membutuhkan pakaian. Ketelanjangan bukan hal biasa baginya. “Mungkin ada beberapa toko pakaian yang sudah tutup. Aku bisa mengambil satu stel pakaian.” Gumammya. Suasana rumah-rumah di bawahnya terlihat sepi. lampu-lampu dari pelita rumah penduduk memenuhi sepanjang penglihatannya. Dikepakkan sayapnya lebih tinggi lagi lalu tertawa keras. Dia benar-benar senang sebab sudah bisa berubah kebentuk semula walau harus membunuh seseorang. Lain kali, dia harus mencari cara agar dia tidak harus meminum darah manusia demi berubah wujud seperti semula. *** Tawa membahana di sebuah ruangan dengan berbagai macam peralatan untuk penelitian. Jake masih senang bukan main sebab manusia yang dijadikan objek penelitiannya berhasil berubah menjadi makhluk yang diinginkannya. Jake berdiri di sisi mayat seorang pria muda yang baru saja meninggal akibat pukulan benda tumpul. Pria muda yang tidak diketahui asal usulnya. Dikeluarkannya sebuah alat suntik terbuat dari perak yang sudah berisi racunnya. Racun seorang vampir murni yang hidup selama 500 tahun. Dan dia adalah vampir murni tersebut. Terlahir dari kedua orang tua yang sama-sama vampir. Jake menusukkan jarum suntik tersebut di leher mayat pemuda dengan senyum masih menghiasi wajahnya. Saat racunnya tersebut masuk ke dalam nadi mayat tersebut, seketika tubuh mayat itu bergetar hebat. Dia sudah tahu akhirnya namun dia tetap saja senang. “Ah, racunnya mulai bekerja.” Katanya mengangguk senang. Dia membiarkan mayat pemuda itu meronta-ronta di atas tempat tidur kayu. Kemudian dia melangkah menuju bagian lain tempat tidur kayu. Ditatapnya seorang wanita yang mulutnya ditutup kain dengan kaki dan tangan terbelenggu oleh tali. Wanita itu berusaha menggerakkan tubuhnya namun gagal. Kedua tangan dan kakinya memar-memar akibat berusaha melepaskan diri. “Ah,” Jake berdecak saat mengetahui siapa yang terikat. “Kau Merry bukan?” tanyanya yang dijawab dengan gelengan takut. Jake mengeluarkan alat suntik perak lain lalu menatap benda tersebut. Ditelusurinya jarum suntik itu dengan ujung kukunya yang tajam. “Katanya kau mencuri barang-barangku ya?” tanyanya dengan mata masih menatap jarum suntik tersebut. Wanita itu menggumamkan kata tidak jelas, “ah, jangan berbohong, Merry. Aku dapat membaca apa yang kau pikirkan. Kau memang mencuri barangku. Kau mencuri cincin berhargaku.” Disipitkan matanya. Dia dapat membaca dengan jelas pikiran-pikiran dalam otak Merry. Dia dapat melihat jelas ingatan Merry saat memasuki kamar pribadinya untuk mencuri beberapa barang berharganya termasuk cincin itu. Wanita itu adalah pekerja baru di mansionnya. Jake mengulurkan tangannya lalu menyentuh lengan Merry. “Kau harus kuhukum.” Gumamnya lalu segera menusukkan lengan tersebut dengan jarum suntik yang tadi dipegangnya. Seketika kedua bola mata Merry melotot lalu berteriak kencang dalam bekapan seutas kain usang, dan dalam waktu satu detik setelah racun itu masuk ke dalam nadinya, wanita itu menjadi abu. Jake menghela napas lalu berdecak kesal. Dia melemparkan jarum suntik itu ke sudut ruangan lalu menggeram. “Kenapa gagal lagi?” dia mengacak rambutnya kemudian berjalan mondar-mandir. Alisnya menyatu. “Apa yang harus aku lakukan?” gerutunya. Ditendangnya tempat sampah kayu yang ada di dalam ruangan itu hingga hancur. Dia kesal bukan main. “Kenapa manusia tidak bisa menerima racun vampirku?” dikerutkan alisnya mengingat sesuatu. Ditumpukan tangannya pada dinding berbatu bata merah, “Kenapa Rydian bisa menerima racunku? Bahkan tiga racun sekaligus? Manusia tidak ada yang bisa menerima itu. Mereka semua pasti jadi abu. Apakah ada yang salah dari sistem darah anak itu?” Vampir baru ciptaannya masih bergerak-gerak di atas meja penelitian dengan kedua mata tertutup rapat. Pikiran Jake melayang pada intaiannya terhadap Rydian beberapa bulan belakangan ini. Dia tahu kedua orang tua anak itu bercerai dan ayah dari anak itu terlilit hutang. Tuan Lockwood mendatanginya untuk meminjam uang. Disanggupinya permintaan tuan Lockwood asalkan dengan satu kondisi, anak-anak sebagai jaminan dan pria tua itu menyanggupinya. Dia ingat perkataan tuan Lockwood beberapa bulan lalu; “kau boleh ambil Rydian tetapi jangan Elena.” Perkataan itu diucapkan tanpa emosi dan sayangnya, dia tidak bisa membaca apa yang dipikirkan tuan Lockwood sebab pria tua itu seolah tahu bahwa dirinya dapat membaca pikiran seseorang. Sayangnya, pria tua itu menghilang sebelum dia dapat melunasi hutang-hutangnya. Jake kesal bukan main dan akhirnya dia membuat anak dan istri Lockwood menggelandang. Dia sengaja melakukan itu sebab dia penasaran dengan anak lelaki keluarga Lockwood yang benar-benar tidak bisa dia baca pikirannya. Alisnya lalu berkerut mengingat bahwa pikiran Rydian yang sulit dibaca sama dengan pikiran para lycan dan manusia serigala. Berbeda dengan pikiran manusia yang dapat dia baca semuanya tanpa kecuali. Jake menjambak rambutnya kembali. Anak remaja itu adalah anak dari Lockwood. Dia yakin itu. Rydian memiliki bau yang sama dengan bau keluarga Lockwood. “Apakah tuan Lockwood bekerja sama dengan penyihir? Sebab pikirannya pernah tidak bisa k****a saat mendatangiku. Apakah Rydian juga diberikan mantra penyihir?” Jake mengepalkan tangannya lalu memukul pelan dinding. “Sialan dia. Bagaimana caranya dia bisa bertemu penyihir? Sudah lama mereka menghilang dari kota ini.” Teringat sesuatu, dia merogoh saku jas panjang yang dipakainya lalu dikeluarkan sebuah tabung kecil. Senyumnya terbit. “Aku hampir melupakan ini.” Gumamnya mengangkat tabung kecil itu di depan matanya. Senyumnya semakin lebar. Dihiraukannya suara berisik dari mayat pemuda yang ada di ruangan itu. Mayat itu mulai berubah menjadi vampir. “Darah ini akan membuktikan semua prasangkaku. Akan aku periksa darah ini. Dengan begitu, akan kuketahui siapa Rydian sebenarnya.” Jake yakin bahwa remaja itu memiliki darah lain dalam sistemnya. Tidak mungkin bagi Rydian menerima racun mematikan itu dengan baik. Dia melihat bagaimana anak itu berlari dengan sangat cepat ketika merasakan kesakitan luar biasa. Tidak pernah dia melihat kejadian memukau itu di depan matanya. Rydian telah membuatnya berharap besar namun saat dia mencoba ke manusia lain tetap saja sia-sia. Dia kembali mengantungi tabung berisi darah Rydian lalu memejamkan matanya. “Mari kita menuju masa depan.” Gumamnya kemudian menjentikkan jarinya dan dalam sekejap dia sudah berada di ruang laboratorium serba lengkap dan modern. Senyum Jake melebar. Dia mengeluarkan tabung itu dalam kantung jas panjangnya dan diletakkan disebuah rak tabung. Dia menghela napas pelan, “inilah hebatnya memiliki kemampuan teleportasi ke masa depan.” Lalu dia mengangkat bahu, “dan hanya aku satu-satunya.” Katanya lagi tersenyum bangga. “Ini akan memakan waktu,” diperhatikannya darah itu, “aku harus bersabar demi mendapatkan hasilnya dan menunggu anak itu datang menemuiku dengan sukarela.” Sementara itu. Dengan siku, Rydian yang sudah berubah wujud menjadi manusia normal membobol sebuah toko pakaian. Dia meringis merasakan sikunya yang berdarah dengan pecahan kaca yang menempel. Saat itu hendak mengeluarkan pecahan kaca tersebut, pecahan itu sudah terlepas dengan sendirinya dan lukanya menutup lalu menghilang. “Wow.” Dia takjub dengan kondisi tubuhnya sendiri. Penasaran, dia mengambil pecahan kaca lalu menyayat lengannya. Lengannya robek lalu mengeluarkan darah berwarna biru. Alisnya naik saat melihat darah itu kembali masuk ke dalam kulitnya lalu menutup seperti semula. “Hebat.” Decaknya. Dia tidak memusingkan kenapa darahnya yang merah berubah menjadi biru. Pasti itu disebabkan dengan kondisinya yang sudah berubah meenjadi makhluk abnormal mengerikan. Rydian menggeleng pelan lalu melemparkan pecahan kaca tersebut. Dia masuk ke dalam toko pakaian tersebut. Matanya memindai sekitar. Dia mengambil beberapa potong pakaian ukuran dewasa. Saat hendak memakainya, matanya tertuju pada cermin yang ada di toko tersebut. Diperhatikan punggungnya melalui cermin dan dia terpukau. Tato hitam melekat di punggungnya berbentuk sayap yang menutup. Disentuh punggungnya perlahan. Dia dapat merasakan sayap-sayap hitam itu melekat sepertinya gambar timbul. “Wow.” Entah berapa kali dia menggumamkan kata itu dalam satu hari. Kemudian, dia memerhatikan tubuhnya sendiri. Ditelengkan kepalanya ke satu sisi saat melihat otot-otot di lengan dan perutnya. Wajahnya pun tidak luput dari pandangannya. Garis wajahnya berubah tegas dan sorot matanya menjadi lebih tajam. Untuk saat ini, dia senang atas perubahan tubuhnya. Dia bukan lagi remaja kecil yang lemah. Dia berubah menjadi remaja kuat yang tangguh. Segera dia memakai pakaian yang dia ambil tadi. Pakaian untuk ukuran orang dewasa itu cocok ditubuhnya. Dia teringat ucapan Jake Romano bahwa dirinya akan terus bertumbuh hingga usia 20 tahun. Dia memprediksikan tubuhnya ini berada di sekitar dua puluh tahun lebih. “Jadi,” gumamnya memerhatikan dirinya sendiri di cermin, “tubuhku seperti pria kira-kira tiga puluh tahunan saat usiaku menginjak dua puluh tahun nanti.” Setelah mematutkan diri di cermin, dia kemudian berbalik seraya berpikir, “ke manakah aku?” gumamnya, “apakah aku harus menemui Jake sekarang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN