Teringat Jake, dia teringat ibu dan adiknya. Dia tidak tahu bagaimana keduanya saat ini. Dia hanya berharap mereka baik-baik saja.
Dia ingin mencari pekerjaan dengan kondisi tubuhnya yang sudah lebih besar namun orang-orang pasti heran dengannya. Orang-orang sudah mengenalinya sebelumnya dan dia tidak ingin mengambil resiko. Dia tidak ingin orang-orang curiga dengan perubahan drastis tubuhnya.
“Ah!” Rydian berdecak memerhatikan toko pakaian itu, “aku lupa memiliki sihir. Mari kita coba menggunakan sihir itu di toko ini.” Gumamnya kemudian dia mengulurkan tangan kanannya.
Memejamkan mata, dia berbisik kata, “Rapi seperti semula.”
Dalam sekejap, toko itu kembali seperti semula seperti sebelum dia merampok pakaian yang ada di tempat itu. Rydian tersenyum bangga pada hasil karyanya. Segera dia menuju pintu lalu menggumam kata ‘buka pintu’. Sekejap saja pintu terbuka. Saat dia sudah keluar, pintu kembali tertutup dengan sendirinya. Dan dia yakin, mereka tidak akan tahu jika ada satu atau dua potong pakaian yang hilang akibat dicuri.
***
Seorang wanita yang memiliki wajah cantik dengan gaun berwarna krem menutupi hingga batas kaki yang memakai sepatu sederhana terbuat dari kulit rusa, kemudian berdiri menjulang dua kali lipat dari tingginya. Dengan tubuh yang tinggi namun ramping dan memiliki cakar besar serta gigi yang tajam siap menerkam. Beberapa kawanan serigala yang sedang menggeram. Wanita itu hanya menatap biasa para kawanan serigala yang berjumlah sekitar dua puluh kawanan.
“Tenang.” Sura berat itu mengalihkan perhatian wanita cantik tersebut. Makhluk abnormal yang berukuran lebih tinggi dan lebih besar berkata pada segerombolan serigala tersebut. Dia berbeda dengan serigala lainnya. Dia berdiri dengan dua kakinya.
“Aku sedang berusaha, Joseph.” Wanita itu berkata pelan. Ditatapnya Joseph itu. Tidak ada rasa takutnya pada dua puluh kawanan serigala tersebut.
“Aku percaya padamu, Rosalie.” Joseph maju lalu merangkul bahu wanita itu. Rosalie tampak sangat kecil dan mungil dalam rangkulannya. Kemudian matanya mengedar ada kawanan serigala pengikutnya. Joseph adalah seorang Alpha dan Rosalie adalah pendampingnya. “Kawanan kita semakin berkurang.” Joseph berkata lagi. Suaranya berat dan dalam.
Geraman setuju tercipta memenuhi udara hutan Indfamos yang dilingkupi sihir. Seluruh serigala yang berdiri dengan empat kaki mereka menggeram.
“Beberapa waktu lalu,” Rosalie menimpali, “teman kita kembali diburu. Aku sudah meningkatkan sihir disemua lokasi kita, kuharap kalian tidak keluar dari jalur yang sudah kutandai agar para pemburu tidak menangkap kalian lagi.”
Joseph mengeratkan rangkulannya pada bahu Rosalie White. Dia benar-benar merasa sangat gagal menjadi pemimpin dari para klannya yang sekarang semakin sedikit. Seorang serigala menggeram dan Joseph tahu apa yang ada dipikiran serigala tersebut.
“Aku paham,” Joseph mengangguk, “Avyarg telah membuat kita seperti ini.”
Geraman lain tercipta. Bersahutan lalu melolong. Menyuarakan kegelisahan mereka.
“Ya,” Rosalie White menyela, “aku sedang berpikir bahwa mereka bekerja sama dengan penyihir tetapi bukti belum cukup.”
Serigala lain yang merupakan Beta dari kawanan itu menggeram lebih kencang. Mereka, para kawanan serigala tidak bisa berbicara layaknya sang Alpha. Walau begitu, baik Rosalie dan Joseph paham apa yang mereka pikirkan. Rosalie yang memiliki kekuatan lebih dapat membuat suaminya tidak berubah menjadi serigala sungguhan seperti kawanannya yang lain. Joseph yang memiliki darah setengah lycan membuatnya beruntung. Jika Joseph adalah lycan penuh, Rosalie yakin, sihir terkutuk itu tidak akan mempan terhadap suaminya. Dia mengunci pikiran suaminya namun tidak bisa membuat kawanan lain seperti suaminya yang dapat berbicara. Kekuatannya tidak begitu besar dan dia masih butuh latihan lagi agar bisa membuat semua rakyatnya berbicara.
“Kita kehilangan anggota keluarga kita. Itu benar, Beta.” Joseph setuju, “kami berdua pun kehilangan anak kami.”
Rosalie mencengkeram lembut bulu-bulu serigala suaminya yang hitam pekat.
“Bersabarlah,” Sang Alpha berkata lagi. Berusaha memberi titah. “Akan ada waktunya kita keluar dari kutukan ini. Sekarang kalian boleh kembali. Lakukan tugas kalian sebelumnya.”
Perintah itu seketika membuat semua pengikutnya membubarkan diri. Tinggallah Rosalie dan Joseph. Sang Alpha menghela napas pelan. Nampak begitu lelah. Mendengar helaan napas itu, Sang Luna menoleh. Diulurkan tangannya mengusap wajah suaminya. Wajah itu menatapnya sedikit melembut. Dia dapat membayangkan Alpha tersenyum padanya. Dalam pandangannya, Joseph tetaplah pendampingnya yang tampan.
Dia teringat pertama kali bertemu dengan pria itu. Ketika itu, dia sedang diserang beruang besar dan Joseph datang menolongnya saat pria itu sedang melakukan patrol di sekitar wilayah kekuasaannya. Tatapan beradu dan seketika mereka berdua sadar bahwa mereka adalah belahan jiwa abadi serta tidak terpisahkan.
“Kuatlah.” Rosalie berkata lembut pada suaminya.
Joseph mengulurkan tangannya mengusap kepala istrinya. “Tentu. Aku harus kuat dihadapan mereka. Tetapi tidak dihadapanmu.” Disurukkannya kepala besarnya dibahu Rosalie lalu memejamkan mata. Istrinya sangat wangi menurutnya. Dia menyukai bau yang menguar dari tubuh istrinya. Begitu menenangkan bagi pikirannya yang selalu kalut.
Rosalie tersenyum. “Kau mau makan? Aku sudah siapkan makanan.”
Joseph mengangguk. “Kau masak?”
“Ya.” Wanita itu membimbing suaminya menuju sebuah rumah sederhana berukuran besar. Rumah yang terbuat dari kayu pohon oak.
Rumah-rumah sekitar pun seperti itu. Terbuat dari kayu sederhana dan tidaklah terlalu mewah. Hanya cukup bagi mereka untuk tidur setelah lelah berburu. Kawanannya tidak suka makan daging matang sepertinya. Insting mereka yang sudah terbentuk seperti binatang, membuat mereka lebih suka berburu. Rosalie pun berusaha menjaga ekosistem alam agar tidak ada kepunahan hewan buruan dengan kekuatannya. Joseph sebenarnya suka makan daging mentah namun dia berusaha mendorong keinginan itu. Dia menghargai Rosalie yang terkadang masak dalam jumlah besar untuk semua kawanan agar mereka dapat merasakan daging matang.
Derak kayu bergema saat kaki-kaki Joseph masuk ke dalam rumah. “Jika aku tidak memiliki darah lycan dalam diriku,” dia mengikuti istrinya ke dapur lalu duduk di lantai. Rumah itu tidak memiliki furnitur banyak. Hanya dua buah kursi serta dapur bersih. Selebihnya adalah ruangan luas mengingat Joseph tidak akan muat duduk di kursi, jadi Rosalie menyingkirkan semua benda tidak berguna dan menyisakan dua buah kursi saja. “aku mungkin tidak akan waras.” Dia mengakhiri ucapannya.
Rosalie tersenyum. Dia membawa dua buah piring berisi makan mereka. Diberikan satu pada suaminya yang duduk di lantai dan dia pun duduk berhadapan dengannya. “Beruntung ayahmu adalah seorang lycan.” Dia berkata lembut.
“Ya.” Joseph mengangguk. Diulurkan tangannya yang besar dan menusuk daging yang dipotong kecil itu dengan kukunya yang tajam. diperhatikan daging yang masih setengah matang itu. “Aku suka kau memasak daging setengah matang.” Katanya lalu memakannya.
Rosalie tertawa. Tawa yang membuat Joseph senang. “Aku tahu selalu tahu kesukaanmu.”
“Aku hanya berharap dapat bertemu ayahku.” Joseph berkata pelan.
Rosalie menghela napas. “Maafkan aku.”
Ditatap istrinya lalu menggeleng pelan. “Kau tidak salah. Ayahku meninggal karena memang sudah takdirnya.”
“Jika bukan karena melindungiku, ayahmu masih hidup, Joseph.”
Rosalie ingat kejadian itu. Para lycan berjuang untuk tetap mempertahankan daerah mereka dari serangan pemburu namun gagal. Ayah joseph yang merupakan keturunan pertama bangsa lycan tidak luput dari serangan mematikan itu. Para pemburu seolah sudah menyusun siasat untuk merubuhkan kerajaan para lycan. Rosalie yang memiliki kekuatan sihir membantu mereka dengan mempertahankan kerajaan. Serangan yang tidak pandang bulu itu membuatnya menjadi sasaran pula. ketika itu Joseph sedang diutus ayahnya pergi menuju selatan. Mengunjungi salah satu aliansi mereka. Rosalie sedang hamil dan ayahnya Joseph mati-matian melindungi menantunya dan calon raja mereka dari serangan para pemburu. Namun akhirnya gagal.
Rosalie memejamkan mata ketika teringat permintaan ayahnya Joseph agar dia bersembunyi saat para pemburu hendak membakar kerajaan itu. Para lycan ditangkap satu per satu dan rumah yang telah menjadi tempat berlindungnya itu dibakar. Hanya ada beberapa pengikut yang berhasil selamat. Mereka merupakan serigala biasa yang bisa berubah bentuk. Mereka dari kalangan bawah. Kalangan omega yang tidak memiliki kekuatan besar. Tidak ada satu pun lycan yang selamat. Kecuali Joseph.
Namun Joseph bukanlah sepenuhnya lycan. Ibunya merupakan seorang manusia serigala kalangan omega yang sebelumnya bekerja di kerajaan itu. Hamil dari seorang lycan membuat wanita omega tidak sanggup. Lycan merupakan ras terkuat dilingkaran serigala abnormal. Jika manusia yang hamil anak lycan, bisa dipastikan tidak akan selamat. Lycan tumbuh lebih cepat dari ukuran bayi normal biasa. Jika wanita biasa hamil sembilan bulan, lycan yang dikandung hanya tiga bulan. Rosalie belum pernah melihat itu dengan mata kepalanya. Hanya Joseph yang pernah menceritakan padanya bahwa tidak mungkin ada belahan jiwa untuk lycan dan manusia biasa.
“Bagaimana kabar anak kita?” Rosalie tiba-tiba merindukan anaknya.
Joseph yang sibuk makan akhirnya menghentikan kegiatannya. Dia menatap istrinya lalu pandangannya berubah sedih. Anaknya, satu-satunya yang dia harapkan sebagai penerusnya kelak terpaksa diberikan oleh orang lain. “Dia pasti sehat dan selamat.”
Rosalie menunduk. “Beruntung kutukan itu tidak sampai padanya. Dia seolah melindungiku walau masih dalam kandungan.” Semua yang ada di kerajaan itu dikutuk oleh seorang penyihir hitam. Kutukan mematikan yang tidak sampai pada Rosalie yang sedang mengandung calon penerus bangsa lycan. Lycan memang tidak pernah bisa terkena kutukan sebab mereka adalah titisan langsung yang diciptakan oleh dewi bulan.
“Aku tahu,” Joseph mengangguk setuju, “dia masih memiliki setengah darah lycan, setengah darah manusia serigala dan setengah lagi darahmu. Sihirmu. Aku yakin dia dapat melindungi dirinya. Pada saatnya tiba nanti, dia akan berubah. Aku yakin, dua orang itu akan menjelaskan pada anak kita nanti.”
Rosalie mendongak, “usia berapa dia akan berubah?”
“Aku dulu berubah saat usiaku menginjak sembilan belas tahun.”
Alis Rosalie berkerut, “masih dua tahun lagi.”
“Ya.” Joseph mengangguk. “Jangan khawatir, Sayang. Anak kita kuat. Dia passti masih hidup.”
“Dan gagah sepertimu.” Rosalie menimpali seraya tersenyum.