Mangsa Kedua

1479 Kata
Rydian memilih untuk berjalan kaki, alih-alih terbang dan merusak baju yang baru saja didapatkannya. Dia sudah tahu dimana Beacon City sebab ayahnya pernah membawanya ke kota itu ketika mereka masih akur hanya untuk memeriksa beberapa peternakan mereka. Kini, semua hartanya habis dan entah pergi ke mana ayahnya. Rydian sudah sampai di Beacon City. Kakinya tidak lelah walau berjalan bermil-mil. Sihir telah membuat dirinya merasa kuat. Matanya mengedar ke sekeliling dan dia tersadar seketika bahwa dia tidak tahu di mana Jake Romano tinggal. Dia menggeram. Sialan! Makinya. Matanya menangkap seorang pria yang duduk di sebuah kursi panjang di depan toko yang sudah tutup. Hari masih gelap. Segera dia mendekati orang itu. “Permisi.” Rydian berkata pelan. Orang itu mendongak. Seorang tunawisma, pikir Rydian. “Kau kenal Jake Romano?” dia tetap bertanya pula. Pria itu menggeleng. Gelengan tersebut membuat mata Rydian serta merta tertuju pada leher. Denyutan tersebut tertangkap telinganya. Ditahan air liurnya yang sepertinya akan menetes. Manusia benar-benar menggiurkan kini menurutnya. Dia yang sudah berubah menjadi makhluk abnormal kini memandang manusia sebagai makanannya. Rydian menahan decakan serta air liurnya. Tentu saja orang itu tidak kenal. Jake Romano itu vampire, dan makhluk seperti itu tidak akan muncul dengan mudah dan bersosialisasi seperti dirinya. Perlahan dia mundur lalu berbalik. Kakinya bergerak lagi. Dia ingin menanyai orang lain lagi namun dia yakin, tidak akan ada yang kenal Jake Romano. Jalan-jalan Beacon City sepi. Dia tidak tahu pukul berapa saat ini. Dia perkirakan waktu sudah hampir tengah malam. Lampu-lampu kota sudah dinyalakan oleh petugas kebersihan kota yang merangkap sebagai penyala lampu. Telinganya menangkap suara rintihan meminta tolong. Suara seorang wanita. Melalui pendengarannya yang super, dia mengikuti suara tersebut dan kakinya berakhir pada sebuah jalan sempit diantara gedung tinggi yang mengapit. Matanya menyipit melihat seorang wanita dihimpit oleh dua orang pria bertubuh besar. Rydian bersidekap lalu berdehem keras. Deheman itu membuat ketiganya menoleh. Wanita yang sedang dihimpit oleh keduanya tersebut menatap Rydian. Memohon pertolongan. “Tolong aku.” Suaranya kecil dan tidak terdengar namun tidak dengan Rydian. Dia dapat mendengar jelas rintihan putus asa itu. Pakaian wanita itu koyak bagian depan. “Apa yang kudapatkan ini?” Rydian mengangkat alisnya. Jika sebelumnya saat masih menjadi manusia biasa dia takut, kini tidak. Dia yakin, kekuatan yang dimilikinya dapat menjadi benteng pertahanan dirinya yang sempurna. “Hey!” bentak salah satu pria itu. Yang menghimpit sang wanita di bagian depan. “Pergi. Jangan ganggu kesenangan kami.” Hidung Rydian menangkap aroma manis yang menguar dari ketiganya. Alih-alih pergi, dia melangkah maju. Langkah kaki itu begitu mantap dan tidak ada ketakutan seperti saat dia dikeroyok massa ketika dituduh mencuri. Gerakan Rydian membuat kedua pria besar itu seketika menyingkirkan wanita yang sejak tadi dihimpit keduanya. Merasa bebas, wanita itu segera berlari tunggang langgang dari tempat itu. Hal itu membuat Rydian berdecak. Hilang satu mangsa, pikirnya. Namun kemudian dia menggeleng. Wanita itu bukan makanannya. Ditatapnya kedua pria yang kini siap untuk menyerangnya, dua orang itu adalah mangsanya. Kuku jarinya mulai memanjang begitu pula giginya. Dia mulai menggeram. Geraman tersebut membuat keduanya terperanjat. “Vampir!” teriak pria yang tadi menghimpit sang wanita dari belakang. Rydian terus melangkah maju dan kedua pria itu mundur. Dia dapat merasakan sayapnya mulai bergerak dari balik baju yang dipakainya. Tidak ingin bajunya rusak, segera dia melepas bajunya dan melemparkannya sembarangan. Insting membunuh mulai menguasainya. Sayapnya seketika mengembang dan kedua pria itu terjatuh sebab terkejut. Menurut pandangan mereka, pria bersayap itu baru pertama kali dilihat. Bukan malaikat namun mereka yakin, pria bersayap itu adalah titisan atau utusan iblis. Sayap kelelawar berwarna hitam itu membuat kesan sangat teramat menakutkan. Sayap itu menurut keduanya sudah seperti sayap iblis yang terbentang menyeramkan. “Kau siapa?” gugup, salah satu pria besar itu bertanya. “Menurutmu?” suara Rydian berubah menjadi berat dan dalam. Dia tidak suka bermain-main. Dalam gerakan cepat, dia sudah berdiri di hadapan keduanya dengan tangan memegang leher mereka masing-masing. “Aku benci melakukan ini tetapi darah kalian menggiurkan.” Dia tidak ingin membunuh tetapi kedua pria itu jahat, jadi tidak masalah. Mereka megap-megap dan tidak bisa berkata. Mata mereka menyiratkan ketakutan yang sangat ketika jalan pernapasan sudah terhambat. Suara patahan leher dan kulaian lemas kedua penjahat itu membuat Rydian tersenyum. Menjilat bibirnya yang meneteskan air liur, segera dia menghabisi salah satu dari mereka. Menyedot darahnya hingga habis. Setelah kering, dia beralih pada yang satunya lagi. Giginya siap ditancapkan. Menyedot habis darah yang menggiurkan itu. Darah yang dihisapnya tidaklah enak. Tidak seenak darah wanita berambut putih yang dihisapnya beberapa waktu lalu. Decakan keras membuat Rydian menghentikan aksinya untuk menyedot habis darah itu. Seorang pria berdiri tidak jauh darinya. Jake Romano. Rydian melempar mangsa yang belum sempat dihisapnya lalu berdiri. dibiarkan darah menetes dari kedua taringnya yang tajam. “Kudengar dari kabar burung bahwa kau mencariku.” Jake Romano menatap Rydian. Dia selalu terpesona pada makhluk ciptaannya ini. Sayap yang membentang luas berwarna hitam pekat berkepak pelan dari balik punggung, gigi yang mengeluarkan taring serta kuku yang tajam. Anehnya, Rydian tidaklah berubah menjadi setengah serigala dan setengah lycan. Itu membuat remaja tersebut seperti iblis keturunan Lucifer. “Kau sialan!” maki Rydian yang malah membuat Jake terkekeh. “Ikut aku, kutepati janjiku padamu.” Katanya lalu mulai berbalik berjalan. Rydian menatap punggung Jake. “Apa yang membuatmu yakin aku akan menurutimu?” tanya Rydian skeptis. “Kau ingin adik dan ibumu hidup layak? Ikutlah denganku.” Mendengar kata adik dan ibunya, membuat Rydian memikirkan keduanya yang pasti sedang tidur dalam keadaan kelaparan. Sepotong roti tidaklah bisa membuat kenyang. Ibu dan adiknya perlulah nutrisi lain seperti gandum, s**u dan sayur-sayuran. “Bagaimana?” Jake berbalik, dia mengangkat alisnya. “Sudah jauh kau berjalan ke sini dan ….,” ditunjuk mayat yang tergeletak itu dengan dagunya, “harus membuang keduanya ke sungai atau hutan untuk menghilangkan asumsi orang-orang. Kau ceroboh.” Rydian menghela napas pelan. Dia tidak mau membuat adik dan ibunya hidup menderita. Sudah cukup ayahnya saja yang meninggalkan banyak hutang dan rumah besar serta nyamannya diambil oleh orang diakibatkan lilitan belenggu hutang itu. “Baiklah.” Rydian akhirnya setuju. Jake masih menatap Rydian dan sayapnya. “Kendalikan sayapmu.” Rydian ingin melakukan apa yang pernah dia lakukan untuk menutup sayapnya namun dia ragu melakukan itu di depan Jake Romano. Dia tidak ingin pria vampire itu curiga kenapa dirinya bisa mengendalikan sayapnya begitu cepat. Kemudian dia menggeram memikirkan hal itu. Jake adalah orang yang menciptakannya dan sudah sepatutnya pria itu yang membantunya untuk mengendalikannya bukan menyuruhnya. “Kau yang membuatku seperti ini.” Geramnya teringat kembali perlakuan Jake padanya ketika pertama kali dicekoki racun mematikan bagi tubuhnya yang manusia. “Oke.” Jake berdecak, “aku lupa kau masih baru.” Selanjutnya dia bergerak cepat mengangkat kedua manusia yang tadi diserang Rydian. Rydian hanya berdiri dengan sayap yang kini sudah mulai bergerak menutup. Jake dapat melihat itu lalu tersenyum tipis. “Apa?” Rydian bertanya tidak suka melihat senyuman itu. “Begitu,” Jake berkata lalu berjalan. Rydian mengikutinya, “tenangkan pikiranmu, dan sayapmu akan bekerja sama denganmu. Dia akan menutup di balik punggungmu.” “Oh.” Rydian menyahut. Dia sudah mempunyai sihirnya sendiri untuk menghilangkan sayapnya namun dia masih tidak ingin Jake tahu mengenai itu. “Bagaimana rasanya darah manusia?” Rydian segera menjilat bibirnya yang masih menyisakan darah manusia tadi lalu berusaha menyembunyikan kernyitannya. Darahnya tidak begitu lezat namun masih mengenyangkan perutnya. “Enak.” Gumamnya. Bertentangan dengan pikirannya yang pernah menghisap sampai kering darah wanita penyihir yang begitu manis. Jake membawa kedua mayat itu dikedua bahunya menuju hutan. Beacon City dan Panstone City dikelilingi hutan Indfamos. Bedanya, jarak antara hutan Indfamos dan Beacon City lumayan jauh jika berjalan kaki, berbeda jika di Panstone City. Hutan itu seolah tepat didepan mata. Jake yang memiliki kekuatan vampire dapat berjalan sangat cepat dan itu membuat Rydian mengikuti kaki cepat vampire murni tersebut. “Jalanmu cepat sekali.” Rydian protes. Terdengar tawa pelan Jake, “kau harus terbiasa.” Rydian memutar matanya. “Aku tidak ingin menjadi makhluk tidak normal.” “Tidak bisa. Kau sudah berubah.” Jake berkata seolah mengejeknya. Rydian yang mengikuti dari belakang hanya menggeram mendengar itu. Dia masih tidak menerima perubahan drastis tubuhnya. Kukunya mulai memanjang lagi. Dia mengangkat kedua tangannya dan menatap kesal Jake dari belakang. Begitu menyenangkan jika Jake ditebas dengan kedua tangannya. “Apapun yang kau pikirkan,” Jake mulai bersuara, “hentikan saja. Tidak ada gunanya.” Rydian memejamkan matanya sesaat lalu menghembuskan napasnya perlahan. Dia akhirnya memilih diam saja. Percuma saja dia membunuh Jake. Vampire murni itu akan tahu tiap gerak-gerik yang dia ciptakan dan entah bagaimana caranya. Diperhatikannya Jake yang membuang dua mayat itu kesebuah lubang. Pria vampire itu berbalik lalu berkacak pinggang. Ditatapnya Rydian dengan wajah datar tanpa ekspresi. “Walau pikiranmu tidak bisa k****a, tetapi apapun yang ingin kau lakukan, aku bisa tahu.” Ucapnya. Alisnya berkerut sedikit, “mungkin karena kau memiliki racun lycan, pikiranmu tidak bisa kubaca.” Pungkasnya lalu mengangkat bahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN