Penawaran

976 Kata
Setelah membereskan dua mayat tersebut, kaki Rydian mengikuti ke mana Jake pergi. Dia mengikuti vampire itu hingga ke rumah megah. Rumah yang Rydian anggap seperti mansion atau mungkin lebih mirip istana. Rumah itu berada tepat di pinggir kota Beacon City, terapit lahan gandum luas dan hutan Indfamos. Rumah yang dari luar seperti tidak ada penghuninya. Pintu gerbang mansion itu sangat tinggi dan tidak akan bisa dilompati oleh manusia biasa. terbuat dari kayu tebal yang menurut Rydian sulit untuk dipukul dnegan tangan kosong. Diliriknya Jake, pria itu pasti dengan mudah mematahkan kayu dengan mudah. Dia yakin. Gerbang itu dijaga oleh beberapa orang bertubuh besar. Jake memiliki banyak pengawal dan juga pesuruh. Rydian dapat mendengar detak jantung para pengawal dan pesuruh Jake. Rydian mengerutkan alisnya. “Kau mempekerjakan manusia?” tanya Rydian dengan suara pelan namun pasti bisa didengar oleh Jake. Jake mengangguk. “Kita butuh keseimbangan.” Rydian memutar matanya sebab dia sudah tahu ke mana ucapan itu. Jika satu saja pekerja itu membuat kesalahan, pasti sudah dihabisi oleh Jake. Memikirkan itu membuat Rydian kembali menggeleng pelan. Jake membawanya ke sebuah ruangan kerja. Pria itu duduk di kursi kerjanya sementara Rydian memilih untuk berdiri. Dia memandang vampire itu tidak sabar. Jake tertawa melihat raut wajah Rydian. Dia mengangkat tangannya meminta anak muda tersebut duduk. “Duduklah di manapun kau suka.” Rydian memilih duduk di sofa panjang. Dia menatap Jake kesal. “Apa yang harus kulakukan?” Dia menggeram mendengar suaranya sendiri. Suaranya seperti orang yang putus asa. Dia masih menyimpan kesal pada Jake. Dia ingin sekali menebas pria itu dengan tangannya sendiri. Kekesalannya tidak surut sebab dia telah dihabisi hidup normalnya dan menjadi makhluk yang tidak akan pernah mati. Dia memikirkan adik dan ibunya. Dia tidak suka memikirkan bahwa keduanya menua dan tiada sedangkan dirinya masih muda walau usianya nanti ribuan tahun. Sendirian dan tidak ada teman. Pikiran itu membuat Rydian menggeram lagi menampilkan gigi-giginya yang tajam pada Jake, Jake tertawa melihat sikap remaja yang dia ciptakan itu. Dia bukannya marah tetapi senang. “Kau kenapa?” tanyanya santai. “Aku ingin membunuhmu.” Jake menyandarkan punggungnya di kursi. Ditatapnya remaja itu masih dengan tatapan santainya seolah tahu bahwa Rydian tidak akan membunuhnya. Remaja itu hanya bingung dan dia yakin, anak itu akan menuruti apapun keinginannya. “Dan kau tidak akan membuat adik serta ibumu hidup enak jika membunuhku.” Jake berkata pelan. Rydian semakin menampilkan giginya. Dengan gerakan cepat, dia berdiri di hadapan Jake. Digebrak meja itu kencang namun meja itu anehnya tidak terbelah ataupun retak. Vampire murni itu hanya mengangkat alisnya pada sikap Rydian yang sepertinya berapi-api. “Jake!” Kini bukan Rydian lagi melainkan Beast. Wajahnya sudah berubah dan sayap yang terlipat dipunggungnya hendak merobek kaus yang dipakainya. “Sudah kukatakan sebelumnya,” Jake masih duduk tenang, “kau sudah berubah dan tidak bisa lagi kebentuk semula.” Beast menggeram. Kukunya menggores meja dengan bunyi decitan keras. “Inilah yang kau butuhkan, Rydian.” Jake berkata lagi, “kau selalu menderita dan kini kau tidak terkalahkan. Kau bukan lagi remaja sakit. Apakah aku benar?” Belum sempat Rydian membuka suara, hidungnya membaui darah lalu ketukan di pintu terdengar. Dia mulai mengendus udara dan hal tersebut membuat Jake menghela napas pelan. Pria itu berdiri dari duduknya. Ditatapnya Rydian sesaat lalu berjalan menuju pintu. Dibiarkannya saja remaja itu mengendus. “Jangan membalikkan tubuhmu jika tidak ingin pekerjaku ketakutan dan membuat keributan di desanya. Aku tidak mau pemburu mendatangi kita.” Ucapnya pelan lalu membuka pintu. “Pemburu?” tanya Rydian dengan suara sangat pelan. Jake melirik Rydian yang masih mengendalikan kemarahannya. Dia mengulurkan tangannya menerima nampan berisi camilan dan dua buah gelas tinggi berisi anggur merah. “Kau boleh kembali.” Perintah Jake pada gadis muda yang ada di hadapannya. Dia dapat mengetahui apa yang dipikirkan gadis itu. Dan pikiran gadis itu membuatnya tersenyum tipis lalu menutup pintu. Aroma darah itu begitu membuat Rydian ingin berbalik dan menyerang. Dia padahal sudah minum darah manusia sebelum ke mansion Jake namun tetap saja tergiur. Dia harus mengendalikan hasratnya pada darah manusia namun dia tidak tahu caranya dan hanya Jake yang bisa. “Apa?” Rydian melirik Jake yang masih tersenyum seraya membawa nampan itu ke meja. “Jika kau tahu apa yang dipikirkan pekerjaku barusan, kau akan senang.” Rydian menggeram menampilkan giginya. “Aku tidak bisa membaca pikiran seepertimu.” Dia tidak suka tebak-tebakan. Hidungnya mencium bau menyengat dari gelas tinggi. “Akan kukatakan saja.” Jake meletakkan nampan itu di meja kerjanya. Diambilnya satu gelas tinggi lalu meneguk sedikit isinya. “Dia tertarik padamu dan ingin membawamu ketempat tidur.” Kini alis Rydian naik. “Aku tidak berminat.” Jake menyengir, “jika aku jadi kau, aku akan membawanya lalu kuhisap habis darahnya. Dia pernah menjadi gadis penjaja tubuh di desanya sebelum memilih untuk bekerja di sini.” “Aku tidak berminat.” Rydian mengulangi perkataan itu lagi. Dia tidak mau menghisap darah manusia lagi. Cukup tiga orang yang menjadi korbannya. Dia tidak ingin menciptakan rumor di Beacon City atau desa-desa lain. “Aku tidak ingin menghisap darah langsung dari tubuh manusia.” Tambahnya. Kemarahan mulai surut. Kukunya perlahan memendek. “Oke.” Jake meletakkan minumannya. Ditatapnya Rydian. “Aku akan mengajarimu caranya mengendalikan keinginanmu pada darah asalkan kau ikut denganku.” Rydian mundur. Dia sebenarnya tidak mau mengikuti Jake. Pikirannya bergejolak. Dia tidak ingin keluarganya menderita namun dia juga tidak ingin menghabisi nyawa lebih banyak lagi. “Tidak perlu kau risau mengenai keluargamu.” Jake seakan tahu apa yang dipikirkannya, “mereka akan kuberikan uang dan rumah. Akan kukatakan pada mereka bahwa itu adalah imbalan sebab kau bekerja padaku. Itu untuk menutupi sebab kau bersamaku.” Rydian memejamkan mata. Dia berusaha bersikap tenang dan tidak ingin terbawa emosi. Sulit. Dia masih baru dan dia masih belum bisa mengendalikan emosi yang menguasainya. “Bagaimana?” pertanyaan itu kembali keluar dari bibir Jake dengan gigi bertaring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN