Ramalan

1231 Kata
Masih di Beacon City. Disebuah lapangan luas terdapat beberapa orang yang sedang berlatih termasuk seorang gadis remaja berusia 17 tahun. Gadis tersebut sedang berusaha memanah papan setinggi manusia yang bergerak perlahan ditarik oleh seutas tali. Disebelahnya terdapat seorang remaja laki-laki seusianya yang juga sedang memanah serius. “Kudengar banyak dari orang yang bekerja di sebuah rumah mewah di pinggir kota Beacon.” Ucap remaja laki-laki tersebut. “Lalu kau juga akan bekerja di rumah mewah itu?” Remaja laki-laki itu memutar mata lalu melepaskan busurnya. Anak panah melesat cepat dan mengenai tangan kanan manusia papan. Dia berdecak sebab sudah kesekian kalinya selalu meleset. “Aku tidak berminat.” Tawa renyah keluar dari bibir gadis yang sejak tadi dengan serius membidik dengan tatapan matanya yang berwarna biru. Rambutnya yang panjang terurai sebatas punggung bergerak pelan tertiup angin. “Serius?” perkataannya seolah mengejek. “Tentu saja!” remaja laki-laki itu berkata sedikit lebih keras. Orang-orang yang sedang berlatih tanpa bersuara di sekitar mereka melirik keduanya sekilas. Diturunkan busur beserta anak panahnya. Ditatap gadis cantik yang berada di sampingnya. “Mereka yang bekerja di rumah mewah itu tidak bisa keluar lagi.” Gadis itu melepas busurnya dan anak panah melesat cepat mengenai tepat kepala manusia papan. Dia mengambil lagi lagi anak panah yang disampirkan di punggungnya lalu menempatkan di busur. Diliriknya temannya, “tetapi keluarga mereka hidup enak.” Ucapnya dan kini dia kembali melepas busurnya. Anak panah mengenai tepat di d**a manusia papan. “Wow.” Remaja laki-laki itu tidak memedulikan ucapan temannya. Dia terpana dengan apa yang terjadi. “Kau selalu memukau.” “Tentu saja.” Gadis itu tertawa lagi. “Tidakkah kau membalas pernyataanku?” “Yang mana?” gadis itu kembali mengambil anak panah. Dia kini menatap sepenuhnya temannya yang berdiri di sampingnya. “Aku menyukaimu.” Remaja laki-laki itu mengatakan seraya mengangkat bahu. Pipinya bersemu merah lalu berdehem dia mengambil anak panah yang ada di punggungnya dengan gugup. Gadis itu tersenyum. Diurungkannya membidik manusia papan yang masih bergerak pelan. Dia teringat pernyataan remaja yang berdiri di sampingnya itu. Laki-laki itu memiliki perawakan kurus dengan wajah yang lumayan tampan. Rambutnya yang hitam ikal dengan mata berwarna hijau itu menurutnya memang tidaklah buruk sama sekali. Remaja disampingnya tersebut termasuk disukai oleh gadis seusianya. Namun begitu, dia tidak memandang laki-laki disampingnya berlebih. Lagipula, dia tidak ingin berkomitmen di usianya yang masih muda. “Kau takut pada ayahmu?” tanya laki-laki itu lagi. “Tidak.” Dia segera menjawab cepat. Ayahnya memang memintanya tidak menjalin hubungan dengan remaja laki-laki manapun. “Aku hanya menyetujui keinginannya untuk tidak menjalin hubungan.” “Kenapa?” tatapan itu berubah bingung. “Kau sudah tahu alasannya.” Dia akhirnya meletakkan busur serta anak panah itu di meja yang ada di sisinya. “Karena kau disiapkan menjadi penerus dari keluarga Avyarg?” Gadis itu mengangkat bahu. “Michelle,” laki-laki itu memanggil nama gadis pujaannya lembut. Dia heran, betapa tidak tahunya gadis di sampingnya tersebut kalau dia begitu dipuja remaja seusianya. Banyak yang ingin menjadikan Michelle sebagai pendamping. Remaja seusia Michelle sudah menikah dan memiliki anak namun gadis itu masih saja memilih sendiri. “seorang penerus pun butuh pendamping. Jika kau tidak menyukaiku, tidakkah kau memilih salah satu dari pria-pria yang datang padamu?” Alis gadis yang dipanggil Michelle berkerut. “Aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.” gerutunya, “awalnya kita sedang membahas mansion di pinggir kota Beacon dan kenapa berujung pada lamaran? Aku tidak mengerti.” Pungkasnya kemudian memilih untuk pergi dari lapangan latihan. “Bukan seperti itu.” dia mengikuti langkah Michelle dengan busur masih dipegangnya. Langkah kaki Michelle begitu cepat berjalan meenuju sebuah danau buatan yang terdapat di tepi lain tempat latihan. Tempat yang biasa mereka kunjungi setelah latihan. “Aku hanya ingin tahu, kapan aku layak untukmu.” Michelle menghela napas pelan lalu berbalik, “Zuriel,” ucapnya, “aku sedang tidak ingin memikirkan mengenai hal itu. Ada banyak hal lain yang perlu kupikirkan.” “Misalnya?” Remaja laki-laki yang bernama Zuriel bertanya bingung. “tidakkah kau ingat hewan ternak yang mati mengering beberapa waktu lalu? Aku yakin itu ulah makhluk abnormal sejenis vampir.” “Aku tidak yakin. Mereka tidak ada.” Zuriel yang belum pernah melihat mahkluk-makhluk tersebut menyangsikan. Michelle memutar matanya lalu kembali berbalik. “Itulah salah satunya aku tidak menerimamu.” Ucapnya sepelan mungkin. “Kau tidak memercayai adanya makhluk lain selain manusia.” Pungkasnya. Sudah lama sejak penumpasan besar-besaran beberapa tahun silam. Penumpasan itu terjadi ketika dia masihlah bayi yang baru lahir dan kakek neneknya masihlah kuat dan hidup. Ayahnya bercerita padanya dengan berapi-api. Ayahnya bercerita bahwa mereka menumpas bangsa lycan yang menghuni hutan Indfamos. Mereka pun membakar istana para lycan. Selain lycan, mereka menumpas vampir. Mereka perlu berbulan-bulan untuk merencanakan penumpasan itu. Penumpasan yang berhasil adalah menumpas bangsa lycan. Bangsa vampir tidaklah mudah. Mereka cepat sekali bergerak dan menghilang atau bersembunyi. Dengan bantuan penyihir terkuat, mereka berhasil menumpas kedua bangsa itu. ayahnya yakin, bangsa lycan sudah punah dan para vampir tidak akan muncul secara terang-terangan seperti dahulu. Sejak penumpasan itu, mereka tidak pernah melihat lagi para makhluk abnormal. Walau begitu, pelatihan demi pelatihan untuk berburu makhluk abnormal tetaplah dilakukan. “Michelle, kau mau ke mana?” Zuriel bertanya seraya mengikuti gadis itu dari belakang. Michelle tidak menjawab. Kakinya terus melangkah menuju danau. Matanya tertuju pada pohon rindang yang didekatnya. Pohon oak yang tumbuh seorang diri di dekat danau tersebut. Pohon itu ditanam oleh kakek mereka yang mengatakan bahwa pohon oak itu merupakan pelindung bagi wilayah kecil mereka. pohon tersebut sudah dimantrai penyihir dan tidak akan ada yang bisa menyentuh wilayah mereka selain menebang pohon itu. “Pergilah.” Gerutu Michelle. Dia mulai kesal selalu diikuti Zuriel. Seolah dia pesakitan yang harus dijaga. “Aku harus bersamamu. Itu permintaan ayahmu.” Zuriel keras kepala terus mengekori Michelle. “Aku tidak perlu dikawal.” Dia masih mengerutui Zuriel serta sikap protektif ayahnya. “Ramalan bodoh.” Michelle mulai memaki. Dia teringat saat menguping pembicaraan ayahnya beberapa waktu lalu dengan seorang tamu wanita berpakaian serba panjang memiliki rambut putih panjang. Dalam sekelebat pendengarannya, wanita berambut putih itu berkata harus menjaga Michelle hati-hati sebab gadis itu sudah diramalkan akan menjadi bagian dari makhluk abnormal. Penyihir itu mengatakan bahwa ramalan bisa saja berubah seiring berjalan waktu. Yang jelas, makhluk abnormal terkuat sudah lahir dari titisan lycan dan Michelle akan menjadi bagian dari itu. Alis Michelle berkerut ketika teringat ucapan itu. Lycan menurut ayahnya sudah punah. Tidak ada lagi yang tersisa. Apakah masih ada satu yang terlewat? Pikiran itu membuatnya selalu bingung. “Aku tidak percaya ramalan.” Michelle menggerutu lalu duduk di bawah pohon oak. Zuriel berhenti lalu berkacak pinggang. “Tidakkah kau takut jika nanti pohon itu menelanmu?” Michelle melirik Zuriel lalu mendengkus. “Yang ada,” dia berkata, “jangan duduk di bawah pohon ketika hujan. Kau akan tersambar petir. Pohon ini pelindung kita. Bukan membunuh kita.” Zuriel memutar matanya, “terserah kau saja.” Ucapnya lalu duduk tidak jauh dari Michelle yang masih bersandar di bawah pohon oak. Yang Zuriel tahu dari ayah dan ibunya adalah pohon itu merupakan batas antara perlindungan wilayah mereka dengan wliayah luar. Duduk di bawah pohon oak tidak disarankan namun ayah dan ibunya tidak mengatakan apa akibatnya. Dia selalu melihat Michelle duduk di bawah pohon seperti itu. Dia yakin, kedua orang tua gadis itu tidak tahu. Jika tahu, mereka akan habis dimarahi oleh Brandon Avyarg ayahnya Michelle.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN