Akhirnya, Rydian berinisiatif mengunjungi ibu dan adiknya. Kakinya menjejak di tanah hutan Indfamos bersamaan dengan petir menyambar dan turun hujan. Ditatapnya langit. Hujan turun begitu lebat malam itu. perumahan penduduk sudah terlihat di depan matanya. Dia dapat melihat aktifitas yang dilakukan warga pada malam berhujan itu. Ada yang berusaha menampung air hujan dengan ember-ember, ada yang berusaha memperbaiki atap rumah, dan sebagainya. Hidungnya dapat membaui sekitar. Harum darah manusia membuatnya benar-benar meneteskan air liur. Dia menggeleng lalu mundur. Bukan saatnya dia mengunjungi ibu dan adiknya. Dia sedang kehausan kini dan dia tidak mau membahayakan keduanya. Mereka satu-satunya keluarga yang masih hidup. Tiba-tiba pikiran aneh muncul di kepalanya. Apakah bisa dia meru

