Meskipun Sarah sudah bertekad untuk bangun lebih dulu dari pada Abraham, namun nyatanya dia masih terlelap saat Abraham mengetuk lembut pintu kamar penghubung mereka. "Sarah? Apakah kamu sudah bangun? Sarah?" bisik Abraham sambil mencoba mendorong pintu penghubung itu. Ternyata, seperti kebiasaan Sarah, yang semakin lama Abraham semakin kenal, dia kembali lupa untuk menutup mengunci pintunya. "Wanita itu sangat beruntung dia memiliki Abraham sebagai bosnya, bagaimana jika dia memiliki bos seorang mes*m? Bisa habis dia," pikir Abraham saat pintu itu terbuka dengan sekali dorongan darinya. Sarah masih tidur dengan nyenyaknya di balik selimut putih. Wajahnya yang mungil berbentuk hati itu terlihat damai dibingkai dengan rambutnya yang berwarna gelap. Abraham dengan canggung mendekati tempa

