Bab empat

487 Kata
Bab 4 Author “cari mati saja kau!” ujar Sam teman Abimanyu setelah Naya benar-benar pergi, Abimanyu hanya tersenyum menaggapi Sam. “namanya juga cinta” jawab Abimanyu dan mengshout bola basket hingga masuk kedalam ring. “cinta sih cinta, kau kan tau bu Naya sudah menikah” ujar Sam sambil geleng-geleng kepala lalu tidur terlentang dilapangan basket. Abimanyu yang melihat temannya tidur, ia juga ikutan tidur terlentang sambil melihat langit menjelang sore, “cinta ga mengenal sudah menikah atau belum, karena cinta murni datang dari hati.” Ujar Abimanyu puitis membuat Sam hanya geleng-geleng kepala. Temanya ini memang gila, lihatlah hanya Abimanyu seorang dari kalangan mahasiswa yang memanggil Naya dengan nama saja tampa embel-embel ‘ibu’ “kalau bu Naya cerai....” “aku bakal datang lebih awal agar tidak didului oleh orang lain” potong Abimanyu membuatnya mendapat pukulan pelan dari Sam. “maksud ku, dia pasti sedih” “kenapa? Kenapa harus sedih?” Sam hanya bisa memutar bola matanya dengan malas, “dimana-mana ya rumah tangga kalau ujung-ujungnya cerai pasti ada masalah dan pasti bu Naya sedih” “kan ada aku, aku akan menghiburnya hingga kesedihannya hilang!” “tapi untungnya suami Bu Naya sangat baik dan sepertinya sangat mencintai Bu Naya. Mereka pasangan yang serasi” “ga dapat Naya ga nikah, bro” ujar Abimanyu serius. Karena memang hanya Naya dan Naya didalam hatinya, tidak ada yang lain. “banyak yang lain bro yang lebih cantik, sexy, body goal” Abimanyu melihat Sam dan menurunkan tangan Sam yang mengudara karena menjelaskan body goal/. “memang banyak, tidak terheningga malah” “trus kenapa masih sama bu Naya?” “Naya itu beda bro, kalau kau beli air mineral rasanya kek ada manis-manisnya” ujar Abimanyu membuat Sam geleng-geleng kepala. Temannya ini memang harus segera dibawa kepsikiater. Sementara dicafe A sekarang Lisa dan Naya sedang mengobrol riang, biasa kalau wanita sudah berkumpul maka akan bergosip. “suamimu belum pulang?” tanya Lisa membuat Naya menggelengkan kepalanya, “belum, masih ada pekerjaan di Roma” jawab Naya, “punya suami tapi ga bisa kelonan, ditinggal kerja terus” sindir Lisa membuat Naya cemebrut. “dari pada tidak punya suami” “tapi aku bisa kelonan” “kelonan, bahasamu Lis! Nikah!” “ga! Enak sendiri bebas” jawab Lisa sambil mengibaskan rambutnya, “ya kan tetap aja, kau harus mencoba” “kalau nikah ujung-ujungnya pisah, buat apa! Mending sendiri status jelas dan bebas” mendengar jawabann dari Lisa, Naya langsung terdiam. Yap, Lisa sahabat Naya ini menolak untuk berkomitmen, orang tua Lisa bercerai disaat Lisa membutuhkan kasih sayang ayah dan ibu. Masa kecil Lisa sama persis dengannya, tidak ada orang tua disamping mereka. Kedua orang tua menolak untuk mengajak Lisa untuk bergabung dengan keluarga baru dan pada akhir nya Lisa diurus oleh neneknya yang sekarang sudah meninggal. Drt...drt... “siapa?” tanya Lisa membuat Naya menggelengkan kepalanya, “ga tau, ga ada namanya” jawab Naya lalu meletakan ponselnya diatas meja. Lisa menganggukan kepalanya lalu meminum jus mangganya, Drt...drt... Naya mengabaikannya dan mensilent ponselnya, Lisa mencuri pandang ke ponsel Naya. “angkat saja siapa tau penting” “ga kenal” jawab Naya membuat Lisa menganggukan kepalanya. AYO KITA SIMBIOSIS MUTUALISME, SALING MENGUNTUNGKAN SATU SAMA LAIN DENGAN MENABUR POIN KERCERITAKU. CERITA KU MASUK RETING TERUS AKU BAKAL SEMANGAT UP. JANGAN PAKAI KOIN PAKE POIN AJA KARENA BISA DIDAPATKAN DENGAN GRATIS! LIKE N KOMEN YANG MEMBANGUN JUGA PERLU! To be continue,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN