Anaya
Setelah berbelanja dengan Lisa aku kembali pulang, dirumah yang gelap. Aku melewati ruang tamu tanpa mengidupkan lampu berjalan menuju kamar. Kenapa aku tidak menghidupkan lampu? Tentu saja karena aku sudah hadal tata letak rumahku sendri.
Aku langsung berbaring dikasur dan memejamkan kedua mataku, sebenarnya aku tidak mengantuk tapi tetap saja aku harus tidur karena besok aku ada jadwal mengajar.
Drt...drt...
Aku membuka mataku yang sudah ingin terlelap karena bunyi ponselku, aku merabah tasku dan mengeluarkan ponselku.
Mataku menyipit karena cahaya ponsel yang begitu terang, ada pesan dari nomor yang selalu menghubunginya. Nomor yang tidak dikenal, aku meletkan ponselku asal lalu kembali tidur.
Aku membuka mataku dengan malas karena bunyi alarm ku yang sangat berisik, mau tidak mau aku harus bangun dari tidur. Aku menoleh kesampingku, tidak ada orang. Beginilah nasib suami seorang pebisnis selalu ditinggal sendiri, aku merasa seperti wanita lajang sekarang seperti yang dikatakan Lisa temanku.
Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mandi tentu saja, hari ini aku sedikit bersantai karena jam mengajarku pukul 10 pagi dan sekarang masih pukul 7 pagi.
Aku suka bermain air, itulah kenapa aku baru selesai mandi setelah jari-jari tanganku keriput karena kedinginan. Hujan? Tentu saja aku suka, hujan adalah air yang turun langsung dari langit. Anugrah Tuhan yang tidak boleh aku abaikan begitu saja. Semua nya yang berbau air aku suka, karena apa? Karena aku suka bermain air.
Setelah berpakaian rapi aku mengambil tas kerjaku waktunya pergi kekampus. Aku mengeluarkan si putih dari garasi.
Tin..tin...
Astaga kaget, aku memegang dadaku yang jantung ku hampir copot karena suara klakson yang sangat kencang dan tiba-tiba.
“NAYA BARENG AKU AJA KEKAMPUS! KITA SATU ARAH!”
Abimanyu, lagi-lagi pria muda itu. Aku sama sekali tidak habis pikir dengan pria muda itu, mau cari mati datang kerumahku atau apa! Aku mengabaikan Abimanyu dan masuk kedalam mobilku,
“NAYA! NAYA! TUNGGUIN IH,!” teriak Abimanyu yang masih dapat terdengar olehku, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap kekanak-kanakan Abimanyu.
Aku melihat kaca spion dari belakang mobil ada motor Abimanyu yang mengejar mobilku. Ah, bukannya aku kegeer an atau karena kami satu kampus, hanya saja Abimanyu itu ah sudah lah membicarakan Abimanyu membuat moodku turun saja.
Aku memarkirka mobil ku serempak dengan Abimanyu yang memarkirkan motornya, Aku berjalan agak cepat tapi langkah kaki Abimanyu besar sehingga bisa menyamakan langka kakiku.
“kaki kamu kenapa?” tanya Abimanyu membuatku mengakat sebelah alisku.
“aku tanya kaki kamu kenapa?”
“apanya yang kenapa?” tanya ku balik tampa menatap balik Abimanyu, malu cuy dilihatin sama anak-anak didikannya. Apalagi sekarang para fans dari Abimanyu, pada galak semua. Aku tidak takut dilabrak atau diomongin hanya saja ya begitulah.
“kek ada lukanya gitu?”
“ga ada tu”
“oh, berarti bisa jalan dong” ujar Abimanyu membuat langkah ku berhenti lalu menatap Abimanyu tajam.
“buta? Jelas bisalah” jawabku lalu meninggalkan Abimanyu.
“yuk kapan?” ujar Abimanyu yang sekarang sudah disampingku lagi.
“hah?”
“iya, kapan kita jalan!”
“gila! Lol!”
AYO KITA SIMBIOSIS MUTUALISME, SALING MENGUNTUNGKAN SATU SAMA LAIN DENGAN MENABUR POIN KERCERITAKU. CERITA KU MASUK RETING TERUS AKU BAKAL SEMANGAT UP. JANGAN PAKAI KOIN PAKE POIN AJA KARENA BISA DIDAPATKAN DENGAN GRATIS! LIKE N KOMEN YANG MEMBANGUN JUGA PERLU!
To be continue,