Bab enam

466 Kata
Anaya Pulang dari mengajar aku mampir kecafe tempat dimana kemarin aku bertemu Lisa, tidak aku tidak datang bersama Lisa hari ini, aku datang sendiri karena Lisa masih banyak pekerjaan. Aku meminum jus jerukku sambil menunggu makanan ku datang, mata ku tidak sengaja melihat Mas Adit masuk kedalam cafe. Bukannya mas Adit masih di Roma? Aku menghampiri mas Adit dan meninggalkan makananku yang baru saja tiba dan diletakan dimeja, “mas Adit? Udah pulang? Kok ga ngabarin?” tanyaku membuat mas Adit terkejut, “iya sayang, aku baru saja pulang lalu mampir kemari” Mampir? Bukannya jarak bandara kekafe ini lumayan jauh, kenapa harus repot-repot datang kemari? “Papa, Ica sama mama kenapa ditinggal?” Aku menoleh pada ibu dan anak yang baru saja datang dan memanggil mas Adit papa? “sayang kamu salah orang, dia bukan papa” ujar wanita yang aku yakini adalah ibu dari anak yang mamanggil mas Adit ayah’ “mbak Indri?” ya aku ingat wanita didepanku sekarang, dia adalah cinta pertama mas Adit, dulu mbak Indri meninggalkan mas Adit ketika lagi sayang-sayangnya. “hai Nay, apa kabar?” Aku tersenyum lalu menggandeng tangan mas Adit, “baik mbak, mbak apa kabar? Kok nikah ga undang-undang” tanya ku membuat mbak Indri dan mas Adit jadi canggung. “aku nikah diluar negri Nay, btw sory karna ga undang” “mama mau pipis,” “iya sayang, mbak pergi dulu Nay, mas” “iya mbak” Aku mengajak mas Adit untuk duduk ditempat duduk ku tadi, setelah mas Adit duduk aku menatap mas Adit dengan cemberut. “mas kok ga bilang kalau udah pulang?” rengekku membuat mas Adit tersenyum lalu mengacak-acak rambutku. “gemas sekali, aku merindukanmu sayang” ujar mas Adit namun tidak menghilangkan rasa kesalku. “mas rencananya mau buat kejutan, eh malah ketahuan” “bohong!” “sumpah sayang” “baiklah aku percaya” “mas mau pesan apa?” tanya ku membuat mas Adit mengambil menu, “emm, samain aja sama kamu sayang” “kalau samain kenapa sok lihat menu mas” jawabku sambil geleng-geleng, mas Adit hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Setelah makan bersama aku dan mas Adit langsung pulang, tentu saja aku pulang dengan mobil mas Adit. Mobilku? Nanti juga sampai rumah dengan sendirinya. “lho, ini mainan siapa mas?” tanya ku ketika melihat ada mobil-mobilan dikursi belakang. “oh, itu punya anaknya teman sayang.” Aku menganggukan kepalaku dan tidak menanyakan apapun lagi, suasana mobil menjadi tenang karena aku memilih untuk tidur sedangkan mas Adit fokus untuk mengemudikan mobil. “sayang, bangun sudah sampai” Aku membuka kedua mataku ketika mas Adit membangunkanku, sudah sampai ternyata. Aku menggelengkan kepala ketika mas Adit ingin menggendongku. “bisa jalan sayang?” tanya mas Adit tapi malah mengingatkan ku pada Abimanyu yang tadi menggodanya. “bisa” jawabku sambil tersenyum “sempoyongan gitu” “efek masih ngantuk mas” Mas Adit membiarkanku berjalan sendiri, aku berjalan lebih dulu karena aku masih mengantuk. Aku berencana untuk melanjutkan tidurku lagi, aku sangat mengantuk hari ini. AYO KITA SIMBIOSIS MUTUALISME, SALING MENGUNTUNGKAN SATU SAMA LAIN DENGAN MENABUR POIN KERCERITAKU. CERITA KU MASUK RETING TERUS AKU BAKAL SEMANGAT UP. JANGAN PAKAI KOIN PAKE POIN AJA KARENA BISA DIDAPATKAN DENGAN GRATIS! LIKE N KOMEN YANG MEMBANGUN JUGA PERLU! To be continue,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN