Abah menatap nomor kamar yang sesuai dengan yang Rangga sebutkan. Perlahan tangannya mendorong pintu itu. Hatinya sudah dikuatkan, dia akan tegar di depan Sisil demi membuatnya merasa aman. “Bismillah! Kuatkan hatiku Ya Allah!” gumam Abah sambil mendorong pintu ruangan. Derit pintu membuat Sisil yang tengah merintih sendirian menoleh. Abah terkejut ketika tampak Sisil tengah merintih kesakitan, sekitar wilayah kaki Sisil sudah begitu banyak cairan. “Astaghfirulloh!” Abah memekik sambil memburu Sisil yang menatapnya dengan air mata berlinang. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat. “Abah ... perut Sisil sakit, Bah ...,” rintihnya membuat Abah semakin panik. Sisil menggenggam tepian ranjang tempatnya berbaring. “Tenang, Sil! Abah segera panggilkan dokter!” ucap Abah sambil mengusap ke

