“A—Abah … Sisil gagal, Bah! Sisil p—positif HIV AIDS!” ucapnya dengan netra berkaca-kaca. Sontak Abah menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Tubuhnya serasa berpisah dari tulang ketika Sisil berbicara seperti itu. Suasana makan yang tadinya semarak dan penuh kebahagiaan, berubah menjadi penuh mendung dan gelayut kesedihan. Secepat ini Tuhan memutar balik keadaan? Anjani memeluk tubuh Sisil yang sudah mulai gemetar. Dia menangis dan menangkup wajah dengan kedua tangannya. Dielusnya punggung Sisil lembut. Anjani mencoba menguatkan Sisil yang tampak begitu rapuh sekarang. Abah berdiri menuju kasir untuk membayar makanan mereka dan meminta semua makanan yang sudah dipesan dibungkus saja. Menatap putrinya yang rapuh membuat Abah kehilangan selera. Mereka bergegas pulang dengan mobil onl

