Katanya Ini Rumah Reyot

736 Kata
Tidak tahu sudah berapa puluh juta tetes keringat yang mengucur dari pelipis.Tidak tahu sudah berapa kilo joule energi yang dikerahkan.Tidak tahu juga sudah berapa puluh juta detik yang terlewati. Malangnya saya dan teman saya, Saude. Kami harus menggali tanah yang sumpah demi apa pun lebih pantas disebut batu daripada tanah. Alat yang kami gunakan pun hanya berupa cangkul kecil yang kualitas kerjanya kurang memuaskan. Lelah. Sungguh kami lelah. Di desa mungil yang sangat indah terdapat 10 penduduk dengan warna kulit yang berbeda. Adalah Kaveri nama desa mungil tersebut. Desa yang hutannya sedang kami kunjungi. “Semakin kumenyayangimu…. Semakin kuharus melepasmu dari hidupku.” Terdengar suara lembut. Saya dan Saude sedang KKN. Ketika kami mendengar suara lembut tadi, kami berlari terbirit-b***t ketakutan.  60 menit atau 1 jam lamanya kami berlari, sama sekali tidak memedulikan kondisi tubuh yang lelah. Tanpa sadar, kami ternyata berhenti di depan teras rumahReot, teman kami. Kami yakin 200% bahwa itu memang rumah Reot.Jadi tanpa berlama-lama, kami mengetuk pintu rumah Reot dengan rasa yang masih tertinggal di sana, maksudnya dengan napas yang masih belum bisa diajak kompromi. Masih terengah-engah. “Yot! Oh Yot! Tok-tok-tok! Dirumahnya kau?”Saude terus memanggil-manggil. Sementara, saya memilih tak acuh, memainkan gadget besar. Saya tahu desa ini tidak punya sinyal sama sekali, jadi niat awal hendak membuka notifikasi dari sosial media harus diganti dengan bermain game. Game yang tidak menarik sama sekali, Plantae vs Zombiae. Saude masih terus mengetuk-ketuk pintu rumah Reot. Saya tahu bahwa tangannya itu lelah. Namun, dia cukup lihai untuk menyembunyikan hal itu. Dia masih bersemangat mengetuk pintu, padahal sudah 20 menit terlewati. Suara pintu terdengar, saya menoleh cepat. Seorang pria dengan wajah yang sangat menakutkan keluar dari rumah itu, ia tidak sendiri, seorang wanita yang wajahnya juga menakutkan turut hadir. Mungkin itu istrinya. “Maaf, dek, Reotnya udah pindah ke rumah sebelah,” kata pria itu. Saude yang orangnya mudah kesal, mengambil batu yang ada di sekitar danmelemparkan batu tersebut ke kucing milik orang yang meninggali rumah ini. Saya mendesis dan mencubit lengan Saude, dia sungguh tidak berprikemanusiaan. Untungnya si abang dan si kakak pemilik rumah tidak membunuhnya. “Oh gitu, makasihya bang!” seru saya. Saude dan saya pergikerumahsebelah yang kata orang asingtadiadalahrumahReot, itu pun saya mesti menarik lengan Saude dengan susah payah. Dia itu orangnya mudah kesal tapi anehnya dia pendiam dan pemalu. Kami mengetuk pintu rumahReot dengan kesetanan. Jika tadi saya tidak turut andil dalam hal pengetukan pintu, maka sekarang saya begitu antusias untuk menyemarakkan suara ketukan pintu. Saude mendelik kesal, namun saya memilih tak acuh. Saya berteriak-teriak bagaikan petir di siang hari memanggil nama Reot. Delikan kesal Saude semakin jelas. “Kreikkk…… ” Suara pintu terbuka sungguh memekakkan telinga saya, tidak tahu kalau telinga Saude. Dari balik pintu terlihatlah seoang laki-laki yang sangat ganteng karena tinggal di desa. “Ehh………. Saude……..Ulisa..a..a.” Dengan rasa yang sangat rindu, dia berlari dengan kencang dan terjatuh karena ada sebuah batu yang nongkrong di situ. Oh malangnya Reot, dia terjatuh dan pingsan. Kami menggotong tubuh beratnya dengan sekuat tenaga, teman kami Reot semakin gemuk. Saya memegang kepalanya, sementara Saudemengangkat seluruh badannya. Kami rasa tulang-tulang tangan kami hampir retak bagaikan hati yang patah.Kami meletakkannya di sebuah sofa yang rusak sedikit. Hati saya mengatakan, oh ternyata begini nasib Reot. Kami menunggu selama 1 jam 15 menit 23 detik, akhirnya dia bangun dan memeluk Saude. Ketika dia hendak memeluk saya, sayalangsung menghindar. Mukanya murung karena tidak dapatmemeluksaya.Dia pikir saya perempuan apaan. Kalau dulu masih SMP, masih unyu-unyu bisalah. Ini sudah dewasa, mana mungkin. Keheningan tercipta selama sekian menit dan untungnya Saude yang baik hati mau memecah keheningan itu, saya mengembuskan napas lega. “Yot, bolehkah kami meminta dua gelas air putih,” pinta Saude. “Oh, tentu para sahabatku yang baik hati,” jawab Reot. Reot berjalan kedapur dan kembali dengan membawakan nampan besar. Karena begitu kehausan saya bangkit dan langsung menyambar teh manis dingin dari nampan, bahkan Reot belum meletakkan nampan itu di meja.  Reot dan Saude terkeut terpelongok melihat tingkah saya. Reot juga menawarkan sewadah besar kue coklat manis dan kami tidak bisa menolak rezeki nikmat itu. “Kalian ada urusan apas ehingga datang ke Desa Kaveri?” tanya saat kami sedang asik-asiknya menyantap kue coklatnya. “Jawablah Ulisa.” Saude seorang pemalu, dia menyenggol lengan saya.Akibat tindakannya, saya tersedak. Sebisa mungkin saya menahan diri untuk tidak memakinya dengan kata ‘cebong’ atau ‘k*****t’. Dengan punggung dan kepala yang bersandar nyaman di sofa, “giniloh Yot, saya dengan Saude ini melakukan kegiatan KKN.Tau apa itu KKN?” Reot menggeleng. “KKN itu Kriteria Ketuntasan Nasional.” Reot mengangguk. “Dari Universitas Majapahit ituloh Yot, yang bagus dan mahal itu.Ceritanya Pak Ferdinan memerintahkan kami mencari seton 2 kg emas,” Reot tersedak oleh ludahnya sendiri mendengar hal yang baru saya sampaikan.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN