Seberengsek-berengseknya aku jadi orang
Jangan pernah aku berniat untuk melakukan itu
Nggak sampai paket kamu samaku, kayaknya terkendala di tengah jalan
Mungkin di Amerika mungkin juga di Gresik yang banyak polisi tidurnya itu lho.
Dia yang memulai maka dialah yang harus memulai
Sedikit sakit, di sana, di ujung hatiku yang paling sudut.
Mencelos, karena sikapmu.
Kumenatap lampu jalan yang berwarna oranye, lalu kubertanya pada diri sendiri, kenapa aku tidak bisa lembut? Kenapa aku tidak bisa lembut.
Antara takut termakan cakap, takut kena karma, sama takut apa yang mendorong buruk
Kumelihat aksi gegabahmu, namun ku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Itu semua tidak apa-apa, saya tidak bisa berperilaku baik-baik saja.
Aku tidak bisa berbicara baik-baik saja di saat kutahu semuanya tidak baik-baik saja.
Kalau iya, iya. Kalau enggak, enggak.
Tidak perlu kita mencari-cari pembenaran atas sikap kekanakan kita masing-masing.
Kesempatan itu hanya datang 1 kali. Kalau datang 2 kali maka itu bonus. Kalau 3 kali itu artinya keajaiban. Kalau 4 kali itu berarti aku kebaek'an. Kalau 5 kali aku bodoh. Kalau 6 kali, gilo.
Dia benci samaku? Lebih baik melihat muka merungutnya daripada melihat senyum palsunya.
Siapa pun yang dikecewakan oleh orang yang dia sayangi, bukan hanya dua, bermuka lima pun dia bisa.
Nggak ada waktuku untuk menyelesaikan kehancuran kau, karena seluruh waktuku hanya kupersembahkan untuk mendoakan kebaikan kau.
Nggak ada hujan, nggak ada panas, dan nggak ada petir menyambar, tiba-tiba dia melolong ganas.
Membuat Anda tertarik karena sifat bijakmu, namun membuat kubenci karena membuat bijakmu palsu dan terkesan dibuat-buat.
Hanya dia dan Yang Maha Mengetahuilah yang tahu siapa yang menjadi target sindirannya.
Kalau kamu butuh sekutu untuk melawan rivalnya, tolong saja aku. Jika tidak sibuk, aku akan membantu.
Topeng yang Anda gunakan terlalu murahan sehingga kedokmu dapat terlihat dengan sangat jelas dalam waktu singkat.
Dasar kau lelaki bodoh, terlalu mengharap ke titik semu.
Yang kojaman aku jadi orang, aku yang bisa diginikan.
Hatiku rasanya dicubit-hasta, diremas-remas, disentil-sentil, disepak-sepak, diguling-guling, pokoknya brutal lah. Saat tahu bukti yang disodorkan itu cukup masuk akal logis kepadaku.
Musuh terbesarku ada 2 namanya si iri dan si puji. Ada yang kenal.
Kutak bisa membenci hal ini meskipun kumau, karena kutahu pasti ada sesuatu yang mengganjal di benak yang terlibat.
Ceritakan apa yang ingin diceritakan dan sembunyikan apa yang ingin disembunyikan.
Dengan kata lain target sindirannya itu kurang peka.
Sebenarnya jika target sindirannya bukan masalah, tapi jika yang bukan target sindirannya yang membutuhkan. Coba menantang luar biasa gawatnya hal itu.
Memangkanlah omak-omak zaman sekarang saja naik turun peringkat saja pun dilibasi. Ish ish ish.
Aku dan hatiku yang rusak ini sulit untuk berkompromi.
Matamu cukup membuktikan apa yang terucap di bibirmu tak selaras dengan apa yang tersimpan di hatimu.
Sesuatu yang diambil kembali mungkin dikembalikan seperti sediakala sementara kau melemnya dengan lem setan atau lem iblis.
Jika kamu berkenalan dengan deritaku maka kujamin kamu akan jatuh cinta.
Apa yang Anda ketahui tentang penderitaan?
Maaf karena sombong, tetapi jika dibandingkan antara kita, asam asin manis pahit pedasnya kehidupan sudah kukecap penuh nestapa, sementara kau seujung kuku pun belum membahas kehidupanmu.
Jadi kusarankan janganlah sok oke memvonis diri sendiri sebagai pihak paling penting di antara kita.
Kujuga semua kata percuma, tiada paham setitik debu pun diri kau.
Orang yang terlalu senang menikmati deritanya, lama-kelamaan lupa bagaimana bisa melupakan.
Ihh kek yang di TV tu tu jang kutengok ini.
Dalam urusan rasa, tidak ada yang bisa dilakukan.
Aku harap amunisimu sudah cukup kuat untuk melawanku. Aku harap bom waktumu sudah cukup tangguh untuk menghancurkanku. Aku harap disiapkanmu sudah cukup matang untuk diraih. Sampai tiba di hari. Aku tidak perlu sibuk mengkhawatirkan keadaanmu. Sampai kompilasi tiba di hari H, aku yakin kaulah pemenangnya.
Dan aku tidak akan memberikan pelit-pelit untuk tepukan tangan riang gembiraku.
Apa yang terlihat belum tentu disetujui.
Pertanyaan "apakah Anda tulus atau tidak?" terus berputar-putar lincah di otakku dan mengulitiku dengan brutal namun pelan.
Sakit jantungku, perih jiwaku, seakan terkoyak-koyak hatiku begitu pula ginjalku. Bayangkan sangat menderitanya aku.
Dia jijik, aku tak buka. Dia tak terbuka, aku jijik.
Aku masih pemain pemula. Jadi aku tidak terlalu lihai. Mungkin aku harus sering-sering berguru padamu yang aku akui cukup oke aktingnya.
Mengerti atau tidak bukan urusanku. Karena urusanku telah menyelesaikan kompilasi kalimat yang sudah diucapkan sudah dibubuhi tanda titik.
Aku tak punya hati, jadi aku tak takut kalau kau tuding demikian.
Jangan bermain getah jika kau takut lengket-lengket.
Untuk apalah kau menyindir jika kau sindir tak peka.
Oh bisa testimoninya kau, salutlah aku sama kau dan sainganmu itu. Lumayan hangat yah pergumulan kalian. Kupikir akan terjadi perang golok super panas mengingat sindiran kau sangat pedas ingat.
Nestapa yang dibuat-buat berhasil penderitaan sayangku.
Perlakuan dinginnya membuatku mati rasa.
Sebegitu parahkah sakit parah? Hingga melirikku saja pun ia enggan.
Nggak ada pperasaanku aku melakukan kesalahan ke dia, layakkah kelakuannya ini kuterima?
Aku sudah menyelesaikan sampai ke detail-detail kecil kesilapanku, namun tak sama sekali kutemukan salahku yang menuju ke arahnya atau sedikit kecipratan ke dia.
Sebegitu jahatnyakah diriku sampai mati hati yang mati karena ulah bodohku?
Berulang kali dia menangkup kedua kali dan berulang kali pula dia mati dikembalikan di hadapanku, namun kedua hal itu tak sama sekali dapat memmbuat jiwa kemanusiaanku tergugah karena aku sangat ditantang, yang akan diperbuat lagi memiliki impas dan tak enaknya juga memerlukan bantuan juga.
Aku jijiiiiiiiiiik aku jjjjjjjjjjjjjjjjjjik aku jijijik aku jiiiiiiiiiiijiiiiiii aku aku jijiklah pokoknya.
Jika aku berhasil melakukan apa yang tidak kan kan kanuterima? Jangan souvenir murahan ya. Sudah cukup sering dilihat. Inginku topeng dari emas sehingga saat ku bermain peran, kedokku sulit atau tidak mungkin kelihatan.
Aku bertanya padaku tentang mamakku sedang aku bermain sindir-sindiran bersama seseorang, kupikir apa yang kulakukan adalah yang paling benar dan pantas tetapi yang bertentangan dengan reaksi mamakku tidak memuaskanku kala itu. Mamak berkata ngapai kau sindir-sindiran utama. Aku bilang ya enggak papalah mak kan kami lagi beteem. Mamak berkata nggak ada gunanya itu, tau kau. Aku bilang kenapa rupanya mak? Kata Mamak kayak nggak ada perikemanusiaannya. Sontak kuberontak ASTAGHFIRULLAH HAL AZIM.
Saranku ya. Rendam dirimu di udara hangat, celupkan seluruh badanmu, lupakan semua tentang dia yang masih tersimpan di kepalamu, bakar badanmu. Setelah selesai, Anda telah menjadi orang yang baru.
Kenaifanmu yang sudah di ambang batas membuatku tak segan-segan untuk mengatakannya langsung padamu, sedang kau tahu itu dirimu sangat kuhormati.
Umpannya lumayan enak jadi aku terpancing ikut serta.
Menurutku, ikuti apa kata hatiku. Pemaksaan yang kau lakukan membuatku pening tujuh keliling. Parahnya pemaksaan yang kaulakukan itu kau kuahi dengan air mata buayamu sehingga untuk mengatakan tidak pun kutak sanggup.
Kuakui aku sedikit iba kompilasi melihatmu mendatangi dengan keadaan memprihatinkan. Tapi sikap sinisku padamu sangat kentara sehingga mempertahankan iba yang kurasa.
Rasanya sungguh tak mengenakkan bagiku melihat dirimu yang tadinya kekar kemudian menjadi lembek kayak bubur hanya karena ulahku.
Aku mengisi kepalaku sendiri dengan fakta bahwa aku adalah orang jahat kompilasi mengemis-ngemis memohon sedikit iba dan sukarelaku untuk membantunya mencapai satu kesempatan terakhir.
Aku mengatakan itu aku akan melakukan yang terbaik yang kubisa. Kalimat terakhir yang disetujui perjumpaan kami.
Skenario burukmu jelas-jelas kutolak, namun gagal kau tak bisa menangkanp pancaran itu dari kedua bola mataku.
Aku jadi gila sendiri mengingat fakta aku dulu pernah mengingat.
Hebat sekali miliknya, putuskan sisi emosionalku agar dapat mencapai keinginannya.
Mana mungkin dia bisa marah samaku sedangkan aku tahu itu aku adalah kartu Sebagai harapan terakhirnya.
Tak mungkin aku datangi si ini, sedangkan si ini sedang sibuk dengan urusannya. Tak mungkin aku datangi si itu, sedangkan si itu sibuk dengan urusannya. Apalagi si anu jelaslah tak mungkin karena kutahu si anu itu tak perlu. Makanya kudatangi kau, karena kaulah kayaknya yang bisa melakukan hal ini.
Sementara dia tak tau itu aku bermuka dua.
Aku hanya melihat tapi sebenarnya aku sinis. Saya hanya melihat tapi sebenarnya saya iba. Aku hanya bisa melihatnya. Aku hanya bisa tapi sebenarnya aku tidak bisa. Aku mengerti. Aku mengerti. Tapi aku mengerti.
Salah alamat sebenarnya dia akan datangi aku. Tapi sesuai janjiku setuju. Kan kulakukan apa yang terbaik yang bisa kulakukan untuk mencapai keinginannya.
Aku nggak mau disalahkan, namun aku juga tak mau dibenarkan. Karena aku ini tak jolas.
Lupa membikin huruf a jelas fatal.
Tak bisakah ia mengembalikanku menyelesaikan kalimatku yang baru ia memotongnya? Bagiku itu kesalahan fatal. Tapi tak apa dirinya kumaafkan karena guratan bahagia buatannya masih ampuh menggugah sisi emosionalku.
Aku ini bukan partisipasi, juga bukan gadisnya, tapi panjangnya panjang lebarnya itu membuatku begidik geli. Merasa tak cocok.
Hanya karena perempuan mau bunuh diri? Cemen loe!
Marah sih enggak, kesal nya iya. Ya iyalah mana yang berhasil dia marah samaku orang berhasil, dan proses tanpaku berhasil mencapai tiada arti. Jadi diriku mesti dijunjungnya tinggi.
Saya melihat dirinya menundukkan kepala seolah-olah ada di depanku, namun aku si berengsek ini menikmati hal itu seakan hal itu terjadi langka. Andai saja saat itu diabadikan. Betapa bangganya sendiri hanya karena hal sesepele itu.
Tingkah kekanakannya menghibur diriku. Melukis senyum manis. Dan mengumbar derai tawa bersamaan dengan derai tawanya yang terkesan dipaksakan.
Dengan mengakui itu aku ikut serta dalam mencipta nestapa yang barusan ia rasakan aku cukup terlempar, entah itu ke jurang duka atau ke bukit derita. Aku tidak tahu pasti, yang jelas aku baik-baik saja, tetapi yakin yang kurasakan tak bisa ditampik.
Seorang pengamat yang sedang membicarakan sesuatu. Hingga terjadi keputusan sepihak yang tak mengenakkan. Itulah aku, cewek dikecam. Tapi bukan salahku juga kan kalau aku dimintai jawaban oleh salah satu dari pihak tersebut, dan aku menjawab jujur dan tulus tanpa berpikir dengan otak. Lalu kenapa rasa gagal ini masih lengket?
Andailah waktu yang dapat diputar kembali, tidak akan pernah aku menjadi orang kepo yang dikunjungi sebagai orang yang peduli dengan kunjungan. Lebih baik saya waktu itu menjawab. Antah tak tau aku. Kan lebih enak di hati ini.
Mana kutahu kalau dia terlalu naif dan terlalu cinta ke si kawan ni.
Jangan sampai aku terus karena itu milikku.
Dia menjadikanku rusa berbelang lima belas. Aku bisa apa selain menyimpan belangnya.
Ouw terbang ke langit? Hanya karena memuji darinya? Kayaknya si enggak. Karena aku lebih memilih menetap di Amerika daripada naik langit, soalnya takut kompilasi masa tebang ke langitku telah habis, aku diperoleh di Indonesia. Dah lah ongkos ke Amerika mahal.
Orang kesayangannya tidak lebih baik dai aku.
Drama utama yang cocok kau ya! Bisa dua sisi, kasar ama lembut. Baik sama jahat. Woiii itu pujian atau ledekan.
Uhhh kutendanglah tanda seru kau itu nggak senang aku !!
Rilla? Orang yang dia sayangi dan percayai? Ohhh tidak tidak !!!! Sehebat apa sih Rilla ini sampai ingin dihancurkannya? Masih misteri dan ini masih ganjal.