"Katanya semakin kamu suka sama seseorang, semakin terlihat kamu gila dan tidak ingat lagi jika akan disakiti."
***
Klub penyiaran melakukan siaran pada pukul tujuh pagi, kebetulan hari ini adalah Nathalie yang bertugas piket. Dia bersama teman-teman satu ekskulnya sudah berkumpul di ruang siaran.
Mereka pastinya sudah menyeleksi email yang masuk di setiap minggunya. Klub penyiaran sekolah membebaskan para murid mengirimkan sebuah podcast karya pribadi.
Kebanyakan dari mereka mengirimkan email dengan nama rahasia, terlalu malu jika ketahuan. Karena ada beberapa dari mereka yang malah sengaja memberikan sebuah kode kepada orang yang disukai.
"Email ini yang harus lo baca, ya." Karissa selaku ketua klub penyiaran membuka sebuah email.
"Oke, Kar."
"Semuanya udah siap? Kita bisa mulai sekarang."
"Selamat pagi semuanya, saat ini kalian sedang mendengarkan siaran dari klub edelweis SMA Dwiputra. Kali ini kita bakalan bacain nih satu email dari pengirim rahasia. Sepertinya kalimat yang dikirimkan bertujuan untuk seseorang nih, langsung aja kita baca kali ya."
Nathalie memfokuskan pandangannya ke layar laptop.
Teruntuk kamu yang berada di lingkaran ada dan tiada di hidupku.
Ada kalanya aku bertanya kepada diriku sendiri.
Sebenarnya aku masih memiliki kamu, atau memang sudah melepaskan?
Kadang pemikiran kita tak lagi bersama terkesan seperti ilusi untukku.
Setiap kali kamu terlihat, aku hampir kembali menyapa.
Perpisahan denganmu tak pernah terasa benar-benar nyata.
Ada banyak hari yang ku habiskan untuk kembali meyakinkan diriku, bahwa takdir memang sudah memberikan jarak di antara kita berdua.
Meskipun tak lagi bersama, akan selalu ada aku yang memantaumu dari jauh.
Mengamati gerak-gerik kamu yang terlihat semakin baik-baik saja tanpa aku.
Syukurlah aku merasa lega, kamu masih bisa berdiri tegak tanpaku. Artinya, kamu perempuan kuat dan hebat.
Tak henti-hentinya aku meneruskan hobi candu untuk menatapmu dari jauh.
Suatu hari nanti, aku berharap kita bisa kembali bersama lagi.
Aku akan kembali menjemputmu lagi, meneruskan kisah kita yang sudah pernah usai.
"Wah, bagus banget ya kata-katanya. Pasti si ceweknya langsung deg-degan kalau tau podcast barusan ditunjukkan untuk dirinya. Nah, itu saja untuk podcast hari ini. Sampai berjumpa di podcast berikutnya, dan jangan lupa berbagi kalimat-kalimat indah yang pernah kalian rangkai untuk seseorang.
"Aku Nathalie Serena dari klub penyiaran edelweis pamit undur diri. Selamat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan selamat pagi semuanya."
Nathalie bangun dari posisi duduknya, dia menghampiri Karissa yang hampir keluar dari ruangan. "Kar," panggilnya.
"Kenapa, Nat?"
"Email yang barusan gue baca udah lama dikirimnya?"
"Sekitar semingguan sih, lagian sekarang gak terlalu banyak yang kirimin email. Jadi, gue langsung milih email yang tadi."
"Oh gitu."
"Kenapa dengan email barusan, lo merasa aneh?" tanya Karissa.
Nathalie menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, bagus aja makanya gue penasaran sama pengirimnya."
"Kalau gak ada yang penting lagi, gue duluan ke kelas."
"Oke, Kar."
Nathalie kembali duduk di kursi ruangan ekskul. Dia merasa de javu dengan kalimat yang baru saja selesai dibaca, seolah email tersebut ditunjukkan untuk dirinya.
Apa Given yang mengirimkan email tadi? Tapi tidak mungkin, Given bukan bagian dari cowok yang bisa menulis kalimat puitis.
Pintu ruangan klub ekskul terbuka, Karissa kembali masuk. "Belum balik ke kelas ternyata."
"Lo kenapa balik lagi?"
"Laptop gue ketinggalan saking buru-burunya mau ulangan." Karissa menyengir.
"Semangat ujiannya Karissa."
"Masuk kelas sana, Natha. Kelamaan sendirian sama bengong di sini yang ada lo kesurupan."
****
Fiera memberikan Nathalie minuman bersoda yang baru saja dia belikan dari kantin. Hari ini mereka bertiga berada di tribun lapangan untuk menyaksikan cowok-cowok latihan.
Nathalie menunggu Kaisar, sekalian melihat Alastair juga sebenarnya.
"Ngomong-ngomong siapa sih cowok yang lo suka, gak pernah mau kasih tau gue."
"Gak bakalan disukai balik, jadi gue gak bisa kasih tau lo."
"Apa jangan-jangan podcast yang Natha baca tadi pagi itu pengirimannya lo?" tanya Fiera.
Sasa menggeleng. "Bukanlah, gue enggak jago merangkai kata."
"Bohong, bisa aja lo belajar sekarang."
"Bukan Sasa pengirimnya," ucap Nathalie. "Pengirimnya pasti cowok, karena ada kalimat yang menyatakan bahwa dia mengkode seorang cewek."
"Dari kata-katanya kayak orang udah putus sih," ucap Sasa.
"Iya juga ya, tapi bisa jadi cinta bertepuk sebelah tangan."
"Enggak, Ra. Fix itu ditunjukkan buat mantannya, gue masih ingat kalimat yang 'Aku akan kembali menjemputmu lagi, meneruskan kisah kita yang sudah pernah usai.' Udah jelas banget itu buat mantannya.
Benarkah itu Given?
Nathalie mendadak kembali memikirkan, pasalnya dia merasa memang untuk dirinya. Apa jangan-jangan Nathalie saja yang kelewat percaya diri.
Namun selama ini feeling Nathalie tidak pernah salah, tapi Given tidak bersekolah hari ini. Nathalie tau setelah melihat Jaki yang datang ke kantin bersama teman-temannya tanpa kehadiran Given.
Apa cowok itu sakit? Atau Given mengikuti orang tuanya ke luar kota? Entahlah, untuk apa juga Nathalie memikirkan hal tersebut.
Sial, podcast tadi pagi kembali mengusik pemikiran Nathalie karena Fiera dan Sasa kembali membahasnya.
"Natha, lo sakit?" tanya Fiera.
"Enggak kok, cuma rada ngantuk aja."
"Bisa pulang duluan, mau gue pesenin taksi?" tawar Sasa.
"Enggak usah, Sa. Gue gak kenapa-kenapa."
Alastair tersenyum lebar setelah keluar dari ruang ganti pakaian dan melihat kehadiran Nathalie di sana. Meskipun dia tau jelas bahwa Nathalie datang untuk menunggu adiknya.
Alastair langsung merangkul bahu Kaisar yang berjalan di sebelahnya, kemudian melambaikan tangan ke arah Nathalie.
"Lama-lama lo keliatan bucin sama Kakak gue, Bang."
"Keliatan banget?" tanya Alastair.
"Hooh, kayak jatuh cinta banget sama kakak gue."
"Kakak lo menarik sih, makanya gue suka banget."
Peluit dibunyikan oleh pelatih, semua anggota ekskul basket berkumpul dan melakukan pemanasan. Mereka semua berlari memutari lapangan beberapa kali, kemudian melakukan pemanasan berikutnya dipimpin oleh Alastair.
"Seperti yang kalian semua tau kalau dua minggu lagi bakalan ada turnamen antar sekolah, harapan gue mulai sekarang kita bisa buat jadwal sedikit lebih padat dari biasanya. Kalau ada dari teman-teman kita yang keseringan gak datang latihan, mari sama-sama kita rangkul dia buat latihan bareng. Bagaimanapun juga, kita perlu menyeleksi dan mendapatkan tim yang pas." Alastair selaku ketua memberikan informasi.
"Banyak banget Bang sekarang yang malas latihan, apalagi musim hujan kayak sekarang."
"Makanya kita harus merangkul dia, menginginkan dia perihal janji yang sudah pernah diucapkan saat mendaftarkan diri ke ekskul ini. Bisa kita kerja sama untuk ini?"
"Siap, bisa."
"Langsung saja kita mulai latihannya, untuk hari ini gue gak bakalan ikutan latihan karena bakalan lihat cara kalian bermain. Andre, tolong bagikan menjadi dua tim."
Andre maju ke depan. "Untuk tim pertama ada gue sebagai kaptennya, dan tim kedua ada Rayn. Selanjutnya gue sama Rayn bakalan milih anggota tim."
Alastair memilih berjalan ke pinggir lapangan, berada di posisi ini dia bisa memantau lebih jelas pergerakan teman-temannya.
"Alastair kalau lagi gini keliatan cocok banget jadi kapten sepak bola."
"Setuju gue sama Fiera, dia terlihat keren banget. Pantes aja banyak yang naksir," ucap Sasa.
"Apa semua orang memandang Alastair seperti kata kalian?" tanya Nathalie.
"Jelaslah, kecuali lo doang yang gak bisa melihat seorang Alastair yang terlihat menakjubkan."
Nathalie menatap lurus ke depan dengan fokus ke arah Alastair yang memberikan beberapa nasehat dan juga trik kepada teman-temannya. Cowok itu juga terlihat beberapa kali mencatat nama-nama temannya di buku.
Jika sedang serius seperti sekarang, Alastair benar-benar terlihat berbeda. Untuk pertama kalinya Nathalie berkata ikutan menganggumi Alastair seperti murid lainnya.