Malam ini Nathalie bisa pulang sedikit lebih cepat, karena tadi memilih masuk kerja pukul tiga sore. Sembari menunggu taksi karena Kaisar tidak bisa datang menjemput, adik lelakinya harus menemani mama berkunjung ke rumah tantenya yang baru saja siap melahirkan.
Nathalie menghidupkan musik dari ponselnya setelah memasangkan earphone kedua belah kupingnya. Lagu All About You dari NCT yang menjadi favorit Nathalie menemani gadis itu menunggu.
Drttt.
Panggilan masuk dari Jaki, jarang sekali Jaki menghubunginya seperti sekarang. Mungkinkah ada keperluan penting, jika dulu hanya ada pembahasan tentang Given setiap kali cowok ini menelepon.
Apa sekarang juga berkaitan dengan Given.
"Iya, Jak. Tumbenan lo telepon gue."
"Daritadi pagi Given lagi sakit, bisa lo datang ke rumah dia sekarang. Given lagi sendirian karena orang tuanya gak ada di rumah."
"Kok gue, kenapa enggak lo aja?"
"Gue lagi ada latihan futsal sama anak-anak, lo temenin bentar aja. Nanti jam-jam sepuluh gue kesitu."
"Gue enggak bisa, Jak."
"Please, Natha. Lo gak kasian sama dia, Given lagi demam tinggi.".
"Dia punya pacar, kalau lo enggak lupa. Minta bantuan pacarnya, bukan malah nyari gue."
"Natha, hubungan Given sama Velia lagi enggak baik. Makanya gue minta bantuan sama lo, tolonglah bantu untuk waktu satu jam setengah aja."
"Sampek jam sepuluh lo belum datang, gue langsung pulang."
Terdengar suara tawa Jaki dari seberang sana. "Okey, Natha. Lo emang yang terbaik."
Tutttt.
Nathalie mematikan sambungan telepon dan naik ke taksi, dia meminta agar diantarkan ke rumah Given sekarang. Meskipun dia juga tidak tau harus berekspresi seperti apa saat bertemu dengan Given nantinya.
Rumah Given tampak sepi, berarti Jaki memang tidak berbohong. Nathalie dibukakan pintu oleh satpam dan diantarkan sampai pintu depan.
Nathalie melangkah dengan ragu, begitu juga jantungnya yang semakin berdebar setiap kali menaiki anak tangga membuatnya tambah dekat dengan letak kamar Given.
Menarik napas dalam-dalam, Nathalie mengetuk pelan pintu kamar yang masih terkunci rapat.
Tidak ada sahutan, apa Given tidur? Jika kembali mengetuk namun masih tidak ada jawaban, Nathalie akan pulang saja.
Tok tok tok.
"Masuk aja, Jak. Enggak gue kunci."
Given pasti mengira bahwa yang datang sekarang memang lah Jaki. Namun Nathalie tetap meneruskan langkahnya, dia melihat Given yang berbaring di kasur dengan handuk yang berada di dahinya.
Nathalie mendekat dan menyentuh dahi Given yang terasa sangat hangat. Perlahan cowok itu membuka matanya dan sedikit kaget karena Nathalie ada di hadapannya saat ini.
"Natha, kok lo di sini?"
"Sorry kalau lo merasa terusik, tapi Jaki minta tolong sama gue supaya nemenin lo dulu. Dia lagi latihan sama anak futsal lainnya."
"Gue sama sekali enggak terusik, malahan takutnya lo yang keberatan."
"Sebenarnya emang keberatan tapi gue enggak punya pilihan," ucap Nathalie.
"Gue gak kenapa-kenapa kalau sendiri, kalau mau pulang juga boleh Natha. Daripada lo merasa gak nyaman berada di dekat gue."
"Rumah lo sepi, asisten rumah tangga juga enggak kerja?" Nathalie sengaja mengalihkan topik pembicaraan sekarang. Jujur dia tidak memiliki jawaban yang pas kenapa mau datang ke sini, meskipun sebenarnya enggan.
"Iya, selalu pulang kalau udah siapin makan malam."
"Lo udah makan?" tanya Nathalie.
"Belum, makan juga rasanya pahit banget di mulut."
"Pasti kecapean makanya bisa sakit," ucap Nathalie. Tangannya mengambil nampan di atas meja belajar Given, memang benar cowok itu belum menyentuh makanan sama sekali.
"Lo harus makan, biar bisa minum obat."
"Gak enak, Natha."
Nathalie meletakkan nampan tersebut, kemudian beranjak mengambil satu buah jeruk dan mengupasnya. "Harus dimulai dengan makan ini dulu, biar lo ada selera."
Given tersenyum, Nathalie masih seperti dulu. Gadis itu selalu punya cara agar orang yang sedang sakit tetap makan.
"Gak usah banyak makan nasi, yang penting lo makan. Daripada nanti lemas, gak sembuh-sembuh mau tiduran di rumah terus?"
Setelah memberikan beberapa jeruk kepada Given, Nathalie beralih mencampur sop daging ke dalam nasi. Juga menambahkan ayam yang sudah disiur menjadi bagian kecil.
"Aaaaa." Nathalie mengarahkan sesendok nasi ke arah Given.
Cowok itu hampir tidak bisa menyembunyikan senyumannya, untuk sekarang dia seolah terlempar ke masa masih memiliki Nathalie. Masih bebas mendekati Nathalie kapanpun yang dia mau.
Given berjanji akan mentraktir Jaki saat sembuh nanti, Jaki ternyata diam-diam sangat membantu bukan hanya bisa membuat dirinya kesal.
"Lo sendiri udah makan?"
"Udah, di tempat siaran tadi."
"Kirain udah enggak kerja lagi, bagus deh kalau masih nerusin hobi."
"Iya gitu deh, daripada bosen di rumah."
"Masih jadi murid ambis sekarang?" tanya Given lagi, seolah dia memang tidak ingin percakapan dengan Natha harus berakhir.
"Masih dijaga dengan aman kok, lo sendiri gimana sekolahnya? Enggak sering bolos lagi 'kan?"
Given tersenyum. "Kadang-kadang kalau khilaf, apalagi pelajaran Bu Ratna. Lo tau sendiri gue paling males berada di kelas ka--"
"Karena dia selalu nyuruh lo maju ke depan."
"Gila banget 'kan? Padahal murid IPS bukan gue doang, tapi tetap gue aja langganannya."
"Dia suka hukum lo, makanya belajar yang rajin. Biar pas disuruh baju Bu Ratna kaget karena lo bisa."
"Lulusnya masih lama, padahal gue pengen cepat-cepat lulus."
"Kenapa gitu? Jadi mahasiswa gak semudah pemikiran lo, Ven. Malah lebih ribet dan harus hati-hati melangkah, salah dikit nilai lo anjlok."
"Enggak apa-apa, pengen aja kuliah biar bisa bebas bolos."
Nathalie menghela napas kesal, untung saja Given sedang sakit. Jika tidak, dia pasti akan memberikan beberapa cubitan mautnya.
"Udah lama kita gak ngobrol kayak gini, semenjak lo benar-benar kasih jarak buat gue."
"Gue butuh waktu buat berdamai, rasanya susah makanya gue memilih menjauh dari lo."
"Apapun yang lo mau bebas aja sih, terpenting lo selalu senang Natha."
"Gue berharapnya juga gitu, kita bisa sama-sama senang dengan hal baru yang kita miliki."
"Jadi beneran lo lagi dekat sama Alastair?"
"Gue berusaha kasih kesempatan aja buat dia."
"Tumbenan Kaisar gak bisa jemput lo."
"Dia lagi ke tempat Tante nemenin Mama. Lo sendiri udah berapa hari sakit? Orang tua gak tau kalau lo sakit?"
"Kondisi perusahaan papa lagi enggak baik-baik aja, dia lagi sibuk usaha sama mama supaya perusahaan kembali normal. Karena itu juga gue gak kasih tau mereka kalau lagi sakit, tepatnya enggak mau nambahin beban aja."
"Gue harap perusahaan orang tua lo segera membaik, ya."
"Makasih, Natha."
Jaki muncul dengan cengiran di wajahnya, tak terasa Nathalie sudah menghabiskan waktu yang lumayan lama di sini.
Karena Jaki sudah ada, berarti Nathalie memang sudah bisa pulang sekarang. Dia memakai kembali sling bag yang semula di letakkan di tempat tidur Given.
"Kalau gitu gue pulang dulu ya, Ven, Jak."
"Biar Jaki yang nganterin lo pulang," ucap Given.
"Enggak usah, Ven. Gue gak apa-apa pulang sendirian, udah biasa juga."
Jaki mencegah. "Apa yang Given bilang beneran kok, Nat. Bahaya kalau lo pulang sendirian, cari taksi juga bakalan susah jam segini. Biar gue yang anterin pulang, udah seharusnya sebagai ucapan terima kasih karena lo udah mau bantu gue."
"Ya udah deh kalau gitu. Gue pulang dulu, Ven. Semoga cepat sembuh."
"Hati-hati lo berdua."
Nathalie mengikuti langkah kaki Jaki, sembari menunggu Jaki mengeluarkan motornya Nathalie mengecek ponsel takutnya Kaisar menelepon.
Rupanya tidak ada sama sekali pesan dari Kaisar, lagian memang jam segini biasanya Nathalie pulang kerja. Nathalie hanya melihat ada beberapa pesan dari Alastair, namun tidak sempat membacanya karena Jaki sudah datang.
Nathalie akan membacakan pesan tersebut saat sampai rumah nanti, rupanya setelah berada di rumah dia juga kelupaan karena asik memakan makanan yang dibawa pulang oleh mamanya. Kemudian melanjutkan tidur karena merasa sangat kelelahan.