14. Sibuk?

1251 Kata
Ada rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh Nathalie setelah sadar bahwa dia sama sekali tidak membacakan pesan yang dikirimkan oleh Alastair tadi malam. Dia benar-benar lupa dan juga kelelahan, hingga tertidur lelap dan bangun di pagi hari. Kaisar yang mengamati kakaknya yang hanya mengaduk nasi goreng di hadapannya bertanya. "Gak lapar?" Nathalie tersentak, menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya. Dia akan meminta maaf kepada Alastair nanti, dan mengatakan hal sejujurnya. "Kata Fadil, tadi malam siaran lo selesai cepat. Setelah itu ke mana? Kok gak langsung pulang?" Fadil adalah teman satu kelas dengan Kaisar yang juga bekerja di tempat yang sama dengan Nathalie.  "Enggak kemana-mana cuma cari angin aja sambil jajan." "Kenapa enggak kasih tau kalau pulang cepat?" tanya Kaisar. "Ya enggak apa-apa, emang salah kalau gue enggak kasih tau?" "Enggak juga sih, cuma kalau pas lo sengaja gak pulang dan terjadi apa-apa kita gak sadar. Karena masih mikir lo masih kerja." Apa yang dikatakan oleh Kaisar sepertinya benar, bahaya juga jika benar terjadi apa-apa kepada Nathalie. "Ma, aku sama Kaisar berangkat." **** Sampai di sekolah Nathalie langsung mencari keberadaan Alastair namun hasilnya nihil, bangku cowok itu masih kosong padahal Nathalie juga datang lima menit lagi sebelum bel. Fiera yang asik saling menyuapi makanan di kursi belakang, dan ada Sasa yang pagi-pagi sudah melanjutkan menonton drama China kesukaannya. Saat Daffrin masuk kelas bersama Rayn juga tidak ada kehadiran Alastair di sana. Kemana sebenarnya cowok itu pergi, apa Alastair tidak masuk sekolah hari ini? Tapi Alastair selalu berkata tidak suka libur sekolah karena akan sendirian di rumah. "Daf, Ray, lo berdua gak bareng Alastair?" "Tadi makan bareng di kantin, cuma Alastair katanya mau bolos aja pelajaran pertama. Kenapa nyariin?" tanya Rayn. "Kangen ya sama Alastair." Daffrin menggoda. "Enggak kenapa-kenapa sih, soalnya gak biasanya kalian cuma berdua." "Iya nih, satu lagi diajak makan ke kantin malah bucin." Rayn mengarahkan matanya kepada Andre yang hanya menyengir. Jaki yang datang tiba-tiba ke kelas XI IPA 4 menjadi fokus utama, bukan pertama kali sih dia datang tiba-tiba seperti ini. Murid kelas IPA 4 juga sangat tau bahwa Jaki adalah sahabat terdekat Given, biasanya cowok ini selalu datang jika ingin bertemu Nathalie sesuai perintah Given. Apa kali ini kedatangan Jaki ada sangkut pautnya dengan Given? "Dompet lo ketinggalan di rumah Given." Nathalie mendadak kaku saat banyak pasang mata menatap ke arahnya. Fiera yang semula sedang membucin saja sudah melangkah mendekat dan berdiri di sebelah Nathalie sekarang. Sasa juga ikutan menghentikan aktivitas menontonnya dan malah mendengarkan pembicaraan antara Jaki dengan Nathalie. "Makasih, gue kira udah hilang." "Keadaan Given juga jauh lebih baik, mungkin besok bakalan sekolah." "Oh, iya." Nathalie semakin gugup karena tatapan mata Fiera yang seolah meminta penjelasan dengan interaksi pagi ini. "Gue balik ke kelas dulu," pamit Jaki dan melangkah keluar dari kelas. "Apa yang gue dengar tadi sesuai kenyataan?" tanya Fiera. "Lo datang ke rumah Given karena dia sakit?" Sasa ikut menyambung kalimat tanya Fiera barusan. "Gue bisa jelasin semuanya sama kalian, ini enggak 100% kayak isi pikiran kalian?" "Emang isi pikiran gue apa?" Nada bicara Fiera terdengar berbeda. "Gue gak pernah suka liat lo berhubungan lagi sama Given apapun alasannya, ingat Natha cowok b******n itu udah nyakitin lo. Mau dia sakit ataupun mati, lo enggak harusnya bisa secepat itu mau ketemu sama dia!" "Given juga punya pacar, kenapa harus lo yang diminta bantuan? Enggak tau malu banget jadi cowok," ucap Sasa. "Jadi benar lo datang ke rumah Given tadi malam?" Nathalie menganggukkan kepalanya. "Gue enggak lama di sana, cuma bentar karena Jaki latihan futsal. Mama sama papanya lagi di luar kota, dan Given juga lagi berantem sama pacarnya." "Emang dia sakit apa sih harus ditemenin, enggak ada lo juga dia bakalan baik-baik aja!" Andre mengelus pundak Fiera, sepertinya gadis ini memang semakin tersulut emosi. "Ra, Sa. Gue benar-benar cuma nemenin dia doang enggak lebih." "Cowok b*****t itu pasti senang banget liat kedatangan lo semalam." Fiera tersenyum sinis.  "Udah-udah jangan diterusin yang ada kalian bertiga beneran berantem, niat Natha emang cuma buat nemenin doang. Kalau Given malah berpikir berlebihan itu sih opininya dia aja." Andre melerai perdebatan tersebut, tidak baik juga jika mereka bertiga berantem karena saling mementingkan ego. "Kecewa gue sama lo, Natha." Fiera keluar dari kelas sendirian. Andre meminta Sasa menyusul, takut juga jika Fiera malah memukul orang asal demi melampiaskan emosi. "Makasih, Ndre. Gue beneran enggak mikir apa-apa semalam selain mengiyakan permohonan Jaki." Andre menepuk-nepuk bahu Nathalie. "Wajar kalau Fiera marah, dia cuma takut lo disakitin lagi. Lo tau sendiri kalau Fiera sama Sasa sayang banget sama lo." "Iya gue tau, pasti mereka enggak mau gue jatuh ke lubang yang sama." **** Niat awal ingin membolos pelajaran pertama berlanjut sampai bel waktu istirahat berbunyi. Alastair menyesap dalam-dalam rokok yang berada di antara jemarinya. Sudah lama dia tidak melakukan hal seperti ini, rasanya benar-benar sangat menyenangkan. Di atas rooftop gedung empat lantai ini, Alastair bisa melihat seluruh bangunan yang terpampang nyata. Kakinya diayunkan dengan perlahan, beberapa kali menutup mata saat semilir angin dingin meniup rambutnya. Sepertinya sebentar lagi akan hujan, terlihat dari langit yang mulai mendung. Suasana hari ini seolah memang menemani Alastair, mengatakan bahwa Alastair tidak sendirian. "Gue kira lo udah loncat ke bawah karena enggak masuk kelas." Alastair melihat Nathalie yang berjalan mendekat lalu duduk di sebelahnya. "Untung gue gak phobia ketinggian, kalau enggak pasti gak ke sini." "Tau dari mana gue di sini?" "Teman-teman lo, kenapa bolos?" "Pengen aja, udah lama gue enggak bolos." Alastair mengalihkan wajahnya, dia enggan menatap Nathalie untuk sekarang. "Lo marah sama gue?" tanya Nathalie, sudah seharusnya dia menyadari kesalahan bukan malah berbicara santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Apa alasan gue buat marah?" "Karena gue gak baca pesan yang lo kirimkan semalam." "Gue tau lo sibuk," ucap Alastair. "Dan gue emang bukan prioritas, jadi santai aja kalau lo emang gak bisa balas chat semalam." "Enggak gitu, Al. Gue benar-benar kecapean terus ketiduran." "Gimana sama Given semalam?" "Lo tau?" Nathalie agak kaget mendengarkannya. "Gue semalam rencana mau jemput lo karena Kaisar enggak bisa, tapi gue telat datang dan liat lo udah duluan naik taksi. Buat mastiin tetap aman, gue ikutin taksinya. Eh, ternyata itu bukan arah ke rumah lo." "Hmm, Given lagi sakit dan Jaki minta tolong sama gue buat temenin dia bentar. Itu aja, enggak ada yang lebih dari gue sama Given tadi malam." "Kalau ada hal lebih juga enggak apa-apa, gue juga gak punya hak buat atur hidup lo Natha." "Alastair kalau lo marah sama gue tinggal bilang. Jangan malah berpura-pura gak kenapa-kenapa tapi omongan lo kayak lagi menyindir." Alastair membuang puntung rokoknya. "Gue kira emang beneran udah dapat kesempatan, Natha. Tapi ternyata enggak, sedari awal gue emang bayangan dan sampai kapanpun bakalan gitu. Gue emang kelihatan bercanda dengan cara deketin lo, tapi perasaan gue kalau udah sayang itu tulus. Gue gak pernah main-main sama perasaan orang." "Al, gue ben--" "Serius dan sesetia apapun seseorang menunggu, dia bakalan capek juga sama yang enggak pasti. Bagi gue, lo emang gak pernah bisa digapai selagi masih bertahan di masa lalu." "Alastair lo beneran marah sama gue 'kan? Jangan bohong, gue tau dari cara lo ngomong." Alastair berdiri dari posisi duduknya, dia menepuk celananya yang sedikit kotor. Nathalie juga ikutan bangun dan posisi mereka berhadapan sekarang.  "Jawab! Lo marah 'kan?" "Gue cuma cemburu dan sakit hati aja, perasaan gue bukan mainan Nathalie." Setelah berkata demikian Alastair memilih pergi, dia tidak ingin meneruskan perdebatan ini. Takutnya malah tidak bisa mengontrol emosi dan Nathalie akan sakit hati dengan perkataannya. Biarkanlah Nathalie merenungi kesalahannya, baik jika dia sadar. Jika tidak, mungkin memang Alastair yang harus mundur sebelum meraih keberhasilan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN