15. Peringatan Kematian

1089 Kata
Boleh aku meminta jemarimu untukku genggam, dunia terlihat begitu gelap dan kau harus tau aku selalu membenci kata sendirian." **** Setelah kejadian seminggu yang lalu, sampai sekarang Alastair tidak pernah bertegur sapa dengan Nathalie. Jelas saja sifat Alastair yang mendadak menjauh tidak seperti dulu hobi menganggu Nathalie menjadi pembicaraan murid di kelas itu. Alastair tidak melihat tanda-tanda bahwa Nathalie akan mengejar dan meminta maaf kepadanya, cewek itu kembali bersikap seolah memang tidak pernah memberikan kesempatan untuk Alastair. Beberapa kali juga Alastair melihat interaksi antara Nathalie dan Given yang semakin membaik, meskipun masih belum terlalu mengumbarnya ke publik tapi Alastair bisa melihat itu semua. Hari-hari Alastair kembali dihabiskan untuk banyak bermain bersama teman-temannya, dan untuk seminggu ini juga Alastair selalu membolos setiap harinya. Entahlah, Alastair lebih menikmati waktu sendirian sekarang. Hari ini Alastair tidak bersekolah, dia libur karena akan pergi ke makam bersama kakaknya. Rutinitas ini selalu dilakukan oleh Alastair setiap peringatan kematian orang tuanya. Alastair menyentuh nisan bertuliskan nama mamanya, rasa itu perlahan menyeruak meminta balasan. Alastair rindu saat mamanya memeluk dan mengelus rambutnya dengan lembut, Alastair merindukan mamanya yang mengomel setiap kali Alastair pulang latihan sepak bola dengan keringat dan malas mandi. Matanya menatap nama tersebut, tidak terasa sudah beberapa tahun Alastair tak pernah bisa menatap wajah mamanya secara langsung. "Mama, Alastair sekarang udah kelas XI. Enggak kerasa ya udah selama ini Alastair enggak dengar suara mama. Alastair kangen makan sarapan buatan mama, kangen mama marah kalau Alastair malas makan. Mama, bisa lihat Alastair 'kan? Sekarang Alastair tambah ganteng, tambah banyak yang suka. Tapi cewek yang Alastair mau enggak suka sama aku, Ma.  "Mama tau enggak kalau Alastair sering ditinggal sendiri, Kak Mey selalu sibuk sama kerjaan. Dia gila kerja kayak papa, hebat banget dia bisa pertahanin perusahaan papa sampek sekarang." Mata Alastair menatap kakaknya, lalu menyentuh batu nisan papanya. "Papa juga pasti ikutan bangga sama Kak Mey 'kan? Anak Papa yang satu itu sangat berguna, beruntungnya dia enggak pelit sama aku. Makanya mau aku puji secara tulus kayak gini." Mey yang semula hampir terharu perlahan menarik telinga Alastair kuat-kuat. "Anak lelaki Papa sama Mama ini hobinya habisin uang, kerjaannya keluyuran enggak jelas. Gak pernah betah di rumah karena bosan sendirian." "Sakit, Kak." Alastair mengusap telinganya yang terasa sangat sakit, memang kekuatan kakaknya tidak main-main. Selagi kakaknya berbicara dengan kedua orang tuannya, Alastair menatap kakaknya lama. Hanya dia yang Alastair punya sekarang, Alastair selalu berharap Mey berumur panjang. Alastair tidak pernah bisa membayangkan jika suatu hari nanti Mey ikutan pergi meninggalkan dirinya. Alastair berjanji akan membantu kakaknya mengelola perusahaan, pasti Mey merasa sangat lelah apalagi dia seorang perempuan. Alastair selalu takut jika kakaknya sakit, meskipun itu hanya demam. Kali ini Alastair berharap semoga tuhan benar-benar mendengarkan doanya. Tuhan, Alastair takut sendirian di dunia yang luas ini. Beberapa kali Alastair merasakan dunia ini gelap, untungnya dia masih memiliki tempat berpegangan kepada kakaknya dan juga teman-temannya. "Mama sama Papa yang tenang di sana, aku janji bakalan jaga Alastair dan perusahaan papa dengan baik. Papa harus selalu percaya sama aku, kita berdua enggak bakalan kecewain kalian." Alastair memeluk erat batu nisan mamanya. "Makasih sudah menjadi orang tua yang sempurna, sampai kapanpun Alastair akan selalu merindukan Mama." Mereka berdua memilih pulang dari makam karena hujan turun rintik-rintik. Akhir-akhir ini cuaca memang sangat kurang bersahabat. Alastair dan kakaknya menikmati bakso yang dijual tidak jauh dari area makam. Hujan turun semakin deras, benar-benar sangat menikmati makanan sederhana dengan cuaca yang mendukung. "Gimana sama cewek yang pernah lo bilang? Masih lanjutin perjuangannya?" "Bingung, kayaknya bakalan berhenti aja. Dia juga enggak kasih gue respon lebih, artinya dia emang enggak suka sama gue 'kan?" "Enggak juga, ada kalanya beberapa orang terlalu susah buat sadar sama perasannya. Apalagi lo bilang dia baru putus beberapa bulan sama pacarnya, pastinya dia butuh waktu buat beradaptasi dan mastiin perasaan yang sebenarnya itu gimana." "Menurut lo gue harus gimana?" tanya Alastair. "Kalau suka ya dikejar, kalau lo juga ragu sama perasaan ya udah berhenti aja. Tapi, jangan ujung-ujungnya lo malah nyesal." "Gue enggak pernah ragu sama perasaan, cuma dianya aja kayak gak yakin sama gue." "Tugas lo itu yakinin dia sekarang bukan mundur," ujar Mey. "Jadi gue beneran harus perjuangin lagi?" "Terlalu susah ngomong sama orang bodoh kayak lo."  Mey tidak habis pikir, sebenarnya adiknya ini benar-benar polos atau bodoh sih? Kenapa Alastair tidak kunjung mengerti harus melakukan apa sekarang. **** Malam harinya hujan tak kunjung berhenti, bukan berarti Alastair akan berdiam di rumah. Sudah dikatakan kalau dia bosan sendiri, meskipun sebenarnya ada Mey juga. Tapi gadis itu terlalu sibuk memeriksa kerjaan karena tidak masuk kantor seharian tadi. Alastair dan sahabatnya kompak meminta bertemu di depan sebuah minimarket langganan. Alastair datang paling telat, sedangkan mereka sudah menghabiskan segelas kopi hangat. "Tadi gue enggak alpa 'kan?" "Enggak tau, gue kagak sekolah." Rayn menjawab. "Lo enggak alpa, kalau Rayn jelas alpa karena mager ke sekolah." Andre memberikan informasi. "Natha tadi tanyain kenapa lo enggak sekolah," ucap Daffrin. "Lo bilang apa?" "Gue jawab sesuai kenyataan lah, kalau lo enggak datang karena ke makam orang tua lo." "Kayaknya Nathalie jadi dekat lagi sama Given, Fiera bilang gitu sama gue. Dia pernah ciduk Nathalie chattan sama Given." "Kalau cewek belum selesai sama masa lalu emang susah, masih ada b**o-begonya." Rayn berkata frontal. "Benar, cewek kebanyakan pakek hati. Dikit digombalin luluh lagi," ujar Daffrin. "Jadi gue harus gimana sekarang?" Alastair bertanya, dia semakin tidak yakin dengan misinya mendapatkan Nathalie meskipun sudah mendapatkan dukungan dari kakaknya tadi. "Jujur gue enggak berharap banyak kalau lo mau perjuangin Nathalie ataupun berhenti, karena kalau kecewa lo juga bakalan rasain sakitnya. Ikutin kata hati lo aja." "Gue setuju sama Andre, kalau lo mau mundur sekarang juga enggak apa-apa. Belum telat buat berhenti dari patah hati yang udah menunggu," sahut Rayn. "Lo yakin gue bakalan patah hati kalau lanjutin usaha ini?" "Jelas aja, Al. Nathalie itu masih suka sama Given, kalau mereka terus dekat kayak sekarang. Kemungkinan mereka balikan bakalan sangat besar, tunggu aja sebulan atau dua bulan lagi kalau lo percaya sama gue." Menurut pengalaman Daffrin, apa yang dikatakan barusan adalah sebuah fakta tidak bisa dibantah. "Kalau gue udah mulai, gue enggak bakalan berhenti." Itulah keputusan final Alastair untuk kali ini. "Lo enggak bercanda 'kan, ini perkara perasaan dan rasanya bakalan sakit kalau beneran kejadian enggak sesuai ekspektasi lo." s**l, perkataan Andre membuat Alastair kembali harus berpikir. Namun, Alastair tetap akan bertahan pada pendiriannya. Dia akan berusaha, meskipun ragu akan hasilnya.  Jika sudah jatuh cinta, Alastair tidak pernah bermain-main. Dia hanya perlu membuat Nathalie lupa dengan Given dan menerima kehadirannya. "Gue bakalan lanjutin perjuangan ini, sebagai cowok gentle gak ada kekalahan sebelum memulai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN