16. Kembali Berjuang

1597 Kata
Lagi-lagi Nathalie tidak bisa menemukan kehadiran Alastair di kelas, bukan karena membolos seperti hari sebelumnya namun cowok itu sejak pagi sudah dipanggil untuk melakukan latihan sepak bola. Bukan hanya Alastair, tetapi itu juga berlaku untuk Rayn, Daffrin, dan juga Andre. Maklum saja turnamen semakin dekat, jadi mereka harus memadatkan jadwal latihan agar bisa mendapatkan hasil sesuai dengan harapan. Meskipun guru yang mengajar berhalangan hadir, tapi ruang kelas XI IPA 4 tetap terlihat tenang. Maklum saja empat pentolan keributan kelas tidak berada di ruangan, jika keempat orang itu ada pasti keributan sudah terjadi akibat aksi usil yang suka menganggu ketenangan murid lain. "Lo berdua bosan gak sih?" tanya Fiera yang mematikan ponselnya setelah puas men-scroll t****k. "Bosan sih, cuma gak jadi bosan karena lagi nontonin pacar." Fiera menghela napas, apapun situasi dan kondisi. Sasa akan terus tenang jika mendapatkan wifi lalu menonton acara kesukaannya. "Lo enggak bosan nonton gituan setiap hari?" tanya Fiera, dia saja merasa bosan melihat t****k. Rasa-rasanya semua aplikasi pada akhirnya membuat dia bosan dan jenuh. "Enggak sih, soalnya tiap hari acaranya kan beda-beda. Kecuali kalau di rumah, baru gue ulang-ulang yang udah terdownload." "Pantesan lo tahan banget menjomblo," ucap Fiera lagi. "Males gue pacar-pacaran, takut disakiti. Beginian jauh lebih menyenangkan gak bakalan patah hati," jawab Sasa santai. Selama ini dia tak pernah merasakan kesepian meskipun tidak memiliki seorang pacar. Saat kelas X Sasa pernah berpacaran dengan murid kelas XII, ujung-ujungnya dirinya hanya sebagai pelampiasan. Merasa trauma perihal cinta, Sasa memutuskan tidak jatuh cinta lagi. Sejak saat itu juga kehidupannya di isi oleh sekumpulan cowok-cowok Korea yang menemani hari-harinya. Namun, Sasa juga menganggumi seseorang. Hanya menganggumi, dia tidak berniat meneruskan perasaan ini. Lebih baik begini, Sasa tidak akan merasakan sakit. "Tapi kebanyakan kalau udah suka korea-korea gitu emang bikin lupa buat cinta-cintaan sama cowok di real life. Gue pas SMP pernah nge-stan satu boyband, seriusan gak pernah ada niatan buat suka sama cowok real life." "Nah, 'kan! Lo belum pernah aja Fiera, kalau suatu hari nanti lo patah hati. Coba aja alihin diri ke korea, gue jamin move on bakalan ampuh." "Asli, gue kagak pernah sekalipun nonton Korea. Makanya heran kenapa orang bisa suka banget nontonin drama, bahkan jadi kpopers." "Emang lo kalau gabut ngapain?" tanya Sasa. "Scroll t****k, buka instagram." "Lo enggak suka nonton film Ra?" "Suka, cuma gue pemilih banget. Kalau pemainnya gue gak kenal ya gak bakalan nonton, meskipun ceritanya bagus." "Keseringan bucin sama Andre sih, jadi lupa menikmati kesenangan yang lain," sindir Nathalie. "Kayak dulu lo enggak bucin aja sama mantan b*****t itu, malahan lebih bucin lo dibandingkan gue." "Lo masih ingat gak Natha, perkara Given mendadak ada latihan futsal dan kalian gak bisa pulang bareng? Lo bahkan nangis di depan gerbang," ucap Sasa lalu tertawa. "Gue masih ingat banget tuh, Sa. Dia gak mau pulang dan rela nungguin Given biar bisa rayain anniversary bareng. Sumpah Natha, lo dulu keliatan b**o banget." Nathalie yang merasa aibnya dibongkar hanya bisa menahan malu dengan pipi yang perlahan memerah, dia juga bingung kenapa dulu sangat terlihat bodoh. "Nyesal enggak kalau diingat sekarang?" tanya Sasa. "Gue merasa jijik dengan diri gue yang dulu. Bisa-bisanya gue bersikap kayak orang d***u gitu," Fiera sontak tertawa puas mendengarkan jawaban Nathalie. "Itu yang gue sama Sasa rasain, gue aja sampek merinding liat lo yang kayak gitu Natha." "Emang terlalu bucin itu enggak baik, ya. Semua bakalan nyesal pada waktunya." "Jangan sampek lo nyesal kayak gue, Ra." Nathalie memperingatkan. "Aman, karena gue sama Andre enggak bakalan putus!" Sasa mendorong pelan jidat Fiera. "Percaya diri banget ini anak satu." "Lo mau gue tonjok?" Fiera menantang dengan melipat ujung lengan kemejanya. "Fiera mode lakik keluar!" teriak Nathalie lalu dia dan Sasa berlari keluar dari kelas, disusul oleh Fiera yang beberapa kali tertawa puas melihat ekspresi wajah kedua sahabatnya. **** Mereka berhenti tepat di lapangan sepak bola, kompak bersembunyi di belakang tubuh Andre yang tidak tau apa-apa. "Ndre, pacar lo lagi ngamuk seram banget." "Fiera, kebiasaan deh nakut-nakutin teman sendiri." "Aku cuma bercanda sayang, mereka aja yang panikan." "Asal lo tau, Ndre. Gue hampir mau ditonjok sama Fiera barusan!" Sasa mengadu kepada Andre untuk memin perlindungan. Fiera membentuk senyum mengerikan lalu melambaikan tangan kepada Sasa. "Anak kecil, sini main sama Tante." "Enggak mau, Tante mirip Joker." "Udah-udah gue enggak ikutan, karena yang salah emang Sasa daritadi." "Natha, kok lo gitu sih. Lo rela gue dihabisin sama hulk ini?" Andre beralih berdiri di sebelah Sasa. "Daripada berantem, mending kalian duduk di sana aja. Nontonin kami latihan, lagi enggak ada guru 'kan?" "Nah, benar. Mendingan kita duduk di sana aja, Ra. Lo bosan juga di kelas pasti." Nathalie merayu Fiera dan perlahan menyentuh bahu gadis itu dengan hati-hati. Untung saja Fiera mode laki sudah menghilang, digantikan oleh Fiera bucin yang sekarang tersenyum menggemaskan ke arah Andre. "Aku bakalan nonton biar kamu tambah semangat!" "Iya, sayang. Duduknya di sana aja biar enggak kepanasan." "Oke, sayang." "Panas darimana mendung gini?" bisik Sasa di telinga Nathalie. "Diem aja, bahaya kalau ngamuk lagi. Gue capek harus lari-larian kayak tadi." "Ayuk kita duduk di sana," ajak Sasa lalu berlari terlebih dahulu. Alastair yang melihat kehadiran Nathalie di lapangan tersenyum tipis, dia meminta izin kepada pelatih untuk beristirahat sebentar. Memang sejak tadi Alastair lah yang paling kewalahan mengatur timnya, dia juga belum istirahat sama sekali. Jadi begitu meminta izin, pelatih langsung mengiyakan. Lagian Alastair bukan robot yang tidak bisa merasakan kelelahan. Dia berjalan mendekati Nathalie dengan sebotol minuman mineral di tangannya. Begitu dia duduk di samping Nathalie, terlihat raut wajah gadis itu perlahan menegang. Sudah lama tidak bertegur sapa, pasti Nathalie merasa kaku. Baiklah, biarkan Alastair yang mencairkan suasana. "Gue dengar-dengar kalau cewek tulen enggak bisa buka tutup botol di depan cowok, mau coba gak?" Alastair menyerahkan botol tersebut kepada Nathalie. "Gue enggak bisa, Al." "Coba dulu makanya." Nathalie berusaha membuka, namun tutup botol tersebut terasa licin dan tangannya juga terasa lumayan sakit. "Tuh, 'kan enggak bisa." "Bukanya pakek hati, biar bisa. Siniin gue buka." Alastair kembali mengambil alih, sekali percobaan botol tersebut langsung terbuka. "Ini minum." "Buat gue? Lo aja, pasti haus karena kecapean latihan." "Lo lebih haus karena habis dikejar sama hulk versi cewek." Alastair mengabaikan pelototan mata dari Fiera. Perlahan Nathalie mengambil alih botol minuman tersebut lalu meneguknya. "Lo berdua mau minum gak?" Nathalie menawarkan kepada kedua sahabatnya. "Tau aja gue haus, lo emang sahabat paling peka." Sasa menyambut minuman itu dengan senyum bahagia. "Jangan dihabisin." peringatan tersebut diucapkan oleh Fiera. "Kemarin lo enggak masuk sekolah kemana?" "Teman-teman gue enggak bilang kemana?" "Mereka cuma bilang lo ada keperluan aja, makanya izin. Selebihnya mereka enggak bilang apa-apa." "Kemarin peringatan kematian orang tua gue, seperti rutinitas tahun biasanya gue sama kakak bakalan ke makam, sekalian curhat sama papa dan mama." "Gue salut, lo kuat banget." "Kalau gue enggak kuat, nanti gak ada yang bisa lindungi kakak. Gue enggak mau dia kenapa-kenapa, karena cuma dia yang gue punya sekarang." "Gue bisa melihat seberapa besar rasa sayang lo dari binar mata, lo keliatan tulus banget." "Kalau dia pergi, dunia gue bakalan hancur total Natha. Gue enggak punya tempat pengaduan lagi, lo tau sendiri kalau dunia itu makin lama makin jahat." "Gue ngerti sama ketakutan lo, tapi selama lo percaya semua bakalan berjalan sesuai rencana. Gue yakin, semesta enggak bakalan patahin ekspektasi lo." "Lo mendadak jadi bijak." "Gue enggak bijak, Al. Gue cuma mengatakan apa yang ada di pikiran gue." "Bagus deh, pikiran lo ternyata masih normal. Soalnya gue kira udah enggak waras lagi." "Alastair ngeselin mode on." "Harusnya lo senang kalau gue udah ngeselin lagi." "Kenapa gitu?" tanya Nathalie yang belum mengerti. "Berarti tandanya gue udah enggak marah lagi sama lo, Nathalie Serena." Alastair menarik kuat-kuat hidung Nathalie sampai gadis itu berteriak meminta dilepaskan. "Sakit tau." "Lebih sakit lagi perasaan gue pas tau lo ketemuan sama Given, padahal lo jelas-jelas udah kasih kesempatan buat gue." "Gue benar-benar minta maaf untuk itu, sejujurnya emang gak ada yang terjadi antara gue sama Given malam itu." "Udah gue maafin, makanya gue ajakin lo ngobrol sekarang." "Bagus deh, gue lega kalau lo benar-benar udah enggak marah." "Lo takut kalau gue marah?" tanya Alastair. "Iyalah, lo kelihatan serem kalau marah." "Padahal gue terlihat berkali-kali lipat lebih keren kalau lagi marah." "Menurut lo aja kali gitu, beda sama orang yang lihat." "Gue lanjut latihan dulu, lo tetap nonton 'kan?" "Iya, gue bakalan di sini." "Oke, gue latihan dulu." Begitu Alastair pergi Fiera menyenggol lengan Nathalie dengan tenaga dalam yang dia miliki, hampir saja Nathalie kejengkang ke samping karena senggolan yang tiba-tiba. "Giliran sama Alastair lupa kalau ada gue sama Sasa di sini." "Asli, Ra. Gue berasa lagi ngontrak di dunia barusan. Nathalie emang suka lupa keadaan kalau udah sama doi." "Sorry, gue cuma fokus sama pembicaraan. Takutnya Alastair masih marah sama gue." "Alastair bukan cowok yang ngambekan kali, kalau dia lagi marah lo cuma perlu kasih dia waktu untuk menenangkan diri. Setelah itu Alastair bakalan balik lagi tanpa perlu diminta." "Kayaknya lo tau banyak tentang Alastair." "Andre sering cerita makanya gue tau, itu juga alasan kenapa Andre, Daffrin, sama Rayn sayang banget sama Alastair. Dia pasti merasa sendirian semenjak orang tuanya pergi." "Gue bersyukur karena Alastair dipertemukan sama orang baik kayak teman-temannya." "Lo harus jadi salah satu orang baik di kehidupan Alastair, Natha," ucap Fiera. Benar, sudah seharusnya Nathalie berada di radar yang dekat dengan Alastair. Cowok itu membutuhkan lebih banyak kasih sayang agar lupa dengan kesedihan yang dia miliki. Nathalie selalu berharap agar Alastair selalu bisa berdiri tegak dan bertahan. Nathalie berharap tidak pernah ada kata ingin melenyapkan diri dari bumi dalam pemikiran Alastair, bagaimanapun juga Alastair tidak boleh hilang. Alastair harus bertahan, dia pasti kuat. Nathalie sangat yakin bahwa Alastair akan selalu bersinar dengan caranya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN