17. Kaisar vs Velia

1508 Kata
"Mendung belum tentu hujan, dekat belum tentu jadian. Yang sudah berpacaran saja belum tentu sama-sama memiliki rasa, bisa saja hanya terpaksa." Malam hari Nathalie merasa bosan berada di kamarnya, dia tidak tau harus menonton apa untuk mengisi kegabutan karena list drama koreanya sudah ditonton semua. Nathalie harus meminta rekomendasi drakor lainnya dari Sasa besok, biasanya Sasa selalu mempunyai judul drama dengan alur yang mengesankan. Suara ketukan pintu membuat Nathalie sangat malas untuk bangun dari posisi tengkurapnya. Di luar sedang hujan deras, memang sangat nikmat untuk bergulung dengan selimut tebal. Tidak menghidupkan AC saja udaranya sudah sangat dingin, apalagi jika menghidupkan bisa-bisa Nathalie membeku. Kaisar membuka pintu kamar dengan kasar, dia menarik selimut tebal kakaknya. "Temenin cari makan, lo enggak mau kelaparan di rumah 'kan?" "Gue enggak lapar, Kaisar." "Lo mager bukannya enggak lapar. Gak usah bohong sama gue sekarang." "Lo aja yang pergi, gue nitip makanan." "Enak banget, gue gak mau keluar sendirian. Buruan, Natha. Mama sama papa gak pulang malam ini, makanya gue ajakin lo cari makanan di luar." "Lo tau di luar lagi hujan 'kan? Masak mie aja bisa, jangan ribetin diri." "Ada mobil, buruan bangun enggak usah banyak alasan. Gue lagi malas berdebat sekarang." "Kayaknya lo kecapean latihan makanya gampang emsoi." Nathalie mengalah, bahaya juga jika Kaisar benar-benar marah. Nathalie mengambil salah satu hoodie tebal, menggerai rambut agar tidak merasa kedinginan. Memoleskan sedikit bedak tabur, dan liptint. "Buru, nanti lipstik lo bakalan ilang juga pas makan nanti." "Iya-iya bawel amat lo." Nathalie menyusul langkah Kaisar dari belakang. Kaisar meminta Nathalie menunggu, sedangkan dia mengeluarkan mobil dari garasi. "Gue bisa juga kali langsung disuruh masuk mobil, bukan malah hujan-hujanan kayak gini." "Naik." "Tumbenan lo mau bawa mobil, biasanya lo tinggal sampai mesinnya berkarat." "Mau makan apa?" Kaisar mengalihkan pembicaraan karena terlalu malas menjawab pertanyaan Nathalie barusan. "Lo sendiri mau makan apa?" Nathalie malah balik bertanya. Daripada mengatakan terserah, takutnya Kaisar malah tambah emosi. "Gue mau makan semua makanan hangat, gue laper banget seriusan. Dari sore tadi enggak makan, energi gue serasa habis total." "Mukbang nih ceritanya? Ayuk deh, gue ikut aja lo mau bawa pergi kemana yang penting makan gratis." Kaisar memilih memberhentikan mobilnya di area penjual pinggir jalan yang menjual aneka bakso, nasi goreng, soto, dan juga beberapa makanan berkuah lainnya. "Bang, pesan soto ayam dua, bakso dua, nasi goreng dua, teh hangat, sama air putihnya juga dua." "s**l, lo benar-benar kelaparan kayaknya. Tapi rasanya gue enggak bisa habisin semuanya sendiri kalau sebanyak itu." "Itu baru makanan pembuka, nanti kita butuh dessert. Gimana kalau beli bakpau, roti bakar, martabak, atau bubur kacang merah." "Sar, lo belum juga makan menu utama. Pasti bakalan kenyang banget, gak bakalan sanggup makan yang manis-manis lagi." "Sanggup, kita bisa makan itu di rumah. Sampek rumah pasti bakalan kelaparan lagi, gak mungkin juga pas pulang langsung tidur." "Iya deh terserah lo, kayaknya papa kasih banyak uang tadi." "Ini uang gue sendiri ya, Natha. Lo bersyukur karena mau gue traktir." "Iya bersyukur banget." Begitu makanan disajikan, Nathalie meneguk ludahnya. Rasanya benar-benar sangat mengunggah selera melihat makanan yang berada di hadapannya sekarang. Apalagi ditambah hujan yang turun semakin deras, terlihat sangat mendukung kegiatan mukbang ini. Nathalie menambahkan saus dan juga cabai ke dalam kuah, lalu menyeruputnya perlahan. Rasa-rasanya benar-benar sangat enak, Nathalie tidak merasa rugi mau menemani Kaisar malam ini. Jika tidak jadi mengikuti Kaisar, pasti dia akan merasa menyesal karena hanya bisa memakan mie instan. Meskipun mie instan enak dan menjadi favorit, tapi makanan di hadapannya sekarang jauh lebih enak. "Gue yakin lo sekarang bersyukur karena udah gue paksa tadi." "Ini enak banget seriusan, lo sering makan di sini?" "Lumayan sering sama anak-anak kelas, Alastair juga sering makan di sini. Gue tau tempat ini juga dari dia." "Wah, selera Alastair ternyata bagus juga." "Pastinya, Alastair pilih-pilih makanan. Jadi kalau kata dia enak, gue pasti langsung percaya emang enak." "Harganya gimana? Gue enggak mau cuci piring ya, Sar." "Murah dong, intinya gue mampu bayarin." Nathalie menikmati makanan dengan senyuman mengembang. Beberapa kali dia menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Kaisar tidak habis pikir, kenapa hampir semua cewek berperilaku seperti Nathalie sekarang. Terkesan berlebihan padahal hanya memakan makanan yang enak. Kehadiran dua orang yang baru saja tiba agak mengusik Nathalie, apalagi saat gadis itu berjalan mendekati mereka tanpa rasa malu. "Enggak nyangka gue bakalan ketemu sama lo di sini, Sar. Lagi makan malam sama Kakak nih ceritanya? Udah lama juga ya kita gak saling ngomong, Kak."  Melihat sikap sok ramah itu Nathalie mendadak kehilangan selera makan. Tentu saja Velia datang bersama Given ke sini, jangan bilang kalau Given juga menyukai tempat ini. Nathalie membenci jika semua tempat yang dia suka harus ada Given juga. Jika dulu tidak apa-apa, tapi tidak untuk sekarang. "Pergi sana, enggak usah ganggu gue sama Nathalie. Pacar lo udah nunggu tuh, pasti dia pengen makan cepat-cepat." "Galak mulu lo, Sar. By the way besok kelas kita praktikum barengan 'kan?" Kaisar mengedikkan bahunya acuh. Dia tidak habis pikir dengan Velia yang sudah memiliki pacar, tapi masih sangat hobi menganggu bahkan menggodanya. Dari sikap dan tingkah yang Velia tunjukkan selama ini, Kaisar yakin bahwa gadis ini tidak sepenuhnya menyukai Given seperti dugaan awalnya. Perlahan Alastair melirik Given yang sudah duduk dengan ponsel di tangannya. Apa mereka sedang bermain-main dengan hubungan ini? Makin lama dilihat, mereka terlihat seperti orang asing yang dipaksa bersama. "Lo udah beli perlengkapan buat praktikum besok?" Habis sudah kesabaran Kaisar, dia bangun dari posisi duduknya dan memukul meja dengan kuat. Suara keras yang keluar dari perbuatan Alastair mengganggu beberapa orang yang sedang makan. "Kalau gue bilang pergi ya pergi, gak usah kegatelan jadi cewek. Di sana ada pacar lo, enggak harusnya lo malah bersikap sok akrab sama gue." "Gue cuma nanya soal praktikum besok, kenapa juga harus marah?" "Gue merasa terganggu dengan pertanyaan gak penting lo itu, mau gue beli atau enggak itu bukan urusan lo. Jadi, sana pergi!" Kaisar mendorong bahu Velia hingga cewek itu jatuh terduduk. Given yang melihat itu jelas saha langsung mendekat dan membantu Velia berdiri. "Kalau enggak suka, ya jangan dorong juga lah. Dia cewek, kekuatannya berbeda jauh sama lo." "Gue enggak suka cewek kegatelan kayak dia, belum puas lo udah dapetin Given? Dan sekarang mau coba deketin gue? Ngaca, lo itu enggak ada cantik-cantiknya buat bertingkah kayak sekarang. Selain enggak cantik, hati lo busuk, dan juga terlihat murahan." "Kaisar, cukup! Lo udah kelewatan." Given yang mendengar saja ikutan sakit hati, bagaimana dengan Velia. "Makanya bawa cewek lo pergi, gak usah rusuhin orang." "Sar, udah. Kita pulang aja." Nathalie memegang lengan adiknya. "Gue juga udah enggak selera buat makan di sini karena dia." Kaisar membayar makanan yang dipesan. "Awas aja kalau lo masih tetap ngusik gue di sekolah, gue gak bakalan segan-segan buat permalukan lo di depan banyak orang." "Cukup, Kaisar. Udah cukup, kita pulang sekarang!" Nathalie menarik tangan Kaisar, tidak baik juga jika Kaisar terus melontarkan kalimat yang menyakiti hati orang lain. Begitu masuk ke mobil, Nathalie mencegah Kaisar untuk langsung menyetir. Dia bisa melihat kilatan emosi dari mata Kaisar, bahkan adiknya beberapa kali mengembuskan napas kasar. "Lo lagi emosi, gue gak mau sampai terjadi kenapa-kenapa." "Gue pastiin bakalan aman sampai rumah." "Gue gak percaya, kita tetap di sini untuk beberapa menit sampai lo benar-benar udah enggak emosi." Kaisar memukul setirnya, entah kenapa emosinya terus naik. Padahal dia jarang emosi seperti sekarang, mungkin karena dia terlalu membenci Velia karena merusak hubungan kakaknya. "Lo kenapa bisa semarah itu sama dia? Gue enggak pernah dengar sebelumnya lo bisa ngomong sekasar itu, apalagi dia itu cewek." "Dia menjijikkan, gue gak suka cara dia terus dekatin gue seolah enggak punya pacar. Kelihatan enggak ada harga dirinya sama sekali." "Jadi, Velia beneran deketin lo?" "Gue enggak mungkin mengarang cerita cuma agar terlihat keren, gue ngomong sesuai fakta Nathalie. Dia di sekolah terus aja cari kesempatan supaya bisa ngobrol sama gue, bahkan nyentuh tangan gue." "Tapi kenapa dia marah banget pas tau gue ngobrol sama Given, padahal gue cuma minta kalkulator gue dibalikin." "Udah gue bilang dia menjijikkan, dia gila, enggak mau kekurangan. Makanya gue mikir kalau dia sama Given enggak saling suka, pasti ada sesuatu di antara mereka." "Kemarin-kemarin gue lihat mereka masih lengket banget, kemungkinan gak saling suka itu kecil." "Enggak ada ya gak mungkin di dunia ini, Natha. Given putusin lo aja bisa, padahal keliatan bucin tiap hari. Lo enggak pernah tau drama apa yang dimainkan seseorang di setiap hubungan, cuma mereka yang tau. Kita cuma dikasih lihat bahagia senangnya aja." "Kalau Velia berusaha deketin lo lagi, kasih tau sama gue." "Gue bisa tanganin sendiri." "Dengan cara kasar kayak barusan?" tanya Nathalie tidak habis pikir dengan Kaisar malam ini. "Cara kasar aja enggak mempan, Natha. Apalagi pakek cara halus yang ada dia malah lupa diri." "Lo bisa bersikap biasa aja, enggak usah kasar, enggak usah lembut." "Gue gak bisa janji untuk mengiyakan." Kaisar menghidupkan mesin mobilnya. "Kita pulang sekarang, gue muak di sini lama-lama." "Lo enggak jadi beli dessert seperti rencana tadi?" "Tentu aja jadi, gue malah berkali-kali lipat lebih lapar sekarang karena emosi barusan." Dasar Kaisar, giliran makanan dia tidak pernah lupa. Apapun kondisi dan situasi, makanan enak tetap menjadi prioritas untuk seorang Kaisar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN