Nathalie bersama Kaisar menyusuri koridor bersama, karena perkataan Kaisar semalam yang mengatakan bahwa Velia selalu berusaha mencari perhatian adiknya. Itulah yang sekarang terpikirkan di benak Nathalie, dia penasaran dan ingin melihat langsung.
Kelas Kaisar dan Velia jelas saja bersebelahan, karena itu juga Nathalie mengikuti Kaisar sampai ke kelasnya dengan alasan ingin ke toilet. Padahal tujuan Nathalie memang ingin melihat interaksi mereka berdua.
Nathalie benar-benar masuk ke toilet agar Kaisar tidak menaruh curiga kepadanya. Berdiam diri sebentar, lalu kembali keluar.
Velia yang sengaja menunggunya di depan pintu toilet kembali mendorong Nathalie agar masuk dan menguncinya. Kini di dalam toilet hanya ada mereka berdua yang saling melemparkan tatapan satu sama lain.
"Tumben banget kakak kelas ke toilet lantai satu." Velia melipat tangan di bawah d**a, bersandar di dinding.
"Enggak ada larangan, siapa aja boleh ke sini."
"Gue tau niat lo yang sebenarnya, asal lo tau kalau gue sebenernya suka sama Kaisar."
"Candaan lo enggak lucu tau gak!"
"Siapa yang bercanda, oke gue bakalan jujur sama lo. Sebenarnya antara gue sama Given itu enggak ada apa-apa, awalnya gue emang suka sama dia pas pertama kali dikenalin sama mama dan papa. Orang tua kita temenan, dan papa gue yang bantu perusahaan papanya Given sekarang. Mereka sepakat buat jodohin kita berdua, karena itu juga gue perlahan jatuh cinta sama Given."
"Tujuan lo kasih tau gue gini karena apa? Gue sama sekali enggak mau tau urusan kalian berdua," ujar Nathalie meskipun sejujurnya dia kaget mendengarkan penjelasan Velia.
Jadi Given juga sedang dipermainkan oleh gadis kecil ini?
"Ayolah, Natha. Lo enggak usah bohong, gue tau lo masih suka sama Given. Gimana kalau lo balikan sama Given, dan restui hubungan gue sama Kaisar."
Nathalie tersenyum sinis, sepertinya kata-kata yang dilontarkan oleh Kaisar semalam tidak sepenuhnya salah. Velia memang sangat tidak tau malu. "Adek gue bukan bahan mainan kali, yang bisa dioper sana-sini. Gue ikutan sedih karena Given jatuh ke dalam lingkaran permainan lo."
"Kaisar bukan bahan taruhan, gue bakalan dapetin dia. Tapi gue juga butuh bantuan lo, Natha. Gue rela lo balikan sama Given, minta sama papa buat bantuin perusahaan orang tuanya dia. Gue enggak bakalan mengekang Given lagi, lo boleh ambil dia kembali dari gue."
"Sayangnya gue enggak tertarik."
Velia tetap keras kepala, dia menghadang pintu agar Nathalie tidak bisa keluar. "Enggak usah munafik dengan cara ngomong kayak barusan."
"Minggir, Velia! Gue enggak ada waktu buat ladenin orang konyol kayak lo."
"Cukup iyain aja, setelah ini gue bakalan izinin lo pergi."
Nathalie melangkah mendekat dan memegang bahu Velia. "Gue enggak bakalan buat Kaisar sedih, cuma pengen dapetin kesenangan pribadi." Nathalie mendorong Velia ke samping dan keluar dari toilet.
Sial, pagi-pagi dia harus berurusan dengan modelan cewek kurang waras.
****
Nathalie berada di ruang kelas, suara riuh karena guru sedang rapat juga tidak mengusik dirinya. Seolah-olah Nathalie memang tuli sekarang, padahal sedari tadi keempat biang kerok sibuk bercanda dan mengerjai murid lainnya.
Gue suka sama Kaisar.
Sebenarnya antara gue sama Given enggak ada apa-apa.
Kalimat itulah yang terus saja terputar di pikiran Nathalie secara berulang-ulang, dia tidak habis pikir bahwa ada orang seperti Velia. Seolah merasa paling sempurna, sehingga hobi nempel sana-sini.
Jika apa yang Velia katakan benar, apa Given memutuskan Nathalie juga karena terpaksa? Cowok itu hanya menuruti permintaan papanya, agar perusahaan mereka terselamatkan.
Ah, apa yang Velia katakan barusan belum tentu benar. Bisa saja gadis itu hanya mengarang cerita agar mempermudah rencananya, tidak seharusnya Nathalie goyah hanya karena ucapan omong kosong Velia tadi.
"Natha," panggil Fiera. Entah kali berapa dia sudah memanggil namun Nathalie tidak kunjung menjawab dan larut dalam pikirannya sendiri.
"Woy, Natha." Fiera memukul meja. Bukan hanya Natha yang kaget, tapi juga beberapa murid lainnya yang sedang membaca buku dengan tenang.
"Kenapa?" tanya Nathalie malas-malasan.
"Alastair ngajakin main truth or dare. Mumpung enggak ada guru, ikutan yuk."
"Ayuk gabung ke sini Natha." Sasa yang sudah bergabung dengan Alastair di meja belakang ikutan memanggil.
"Gue lagi enggak enak badan, jadi kurang fokus. Kalian aja yang main."
"Gak asik lo ah, ayolah Natha."
"Ra, gue benar-benar gak pengen main."
"Udahlah Fiera, kita aja yang main. Mungkin Nathalie emang lagi enggak mood."
Fiera mengalah dan ikutan bergabung dengan kelima orang lainnya. Alastair yang mengamati Nathalie tersadar bahwa ada sesuatu.
Tak lama kemudian Nathalie berdiri dari posisi duduknya dan melangkah keluar dari kelas sendirian.
"Eh, mau kemana tuh?" tanya Fiera karena Nathalie sama sekali tidak pamit.
"Mungkin dia emang lagi gak enak badan, bisa jadi mau ke UKS sekarang," ucap Sasa.
"Biasanya Nathalie minta ditemenin, kenapa sekarang berani pergi sendirian."
"Biarin aja, Sayang. Daritadi pagi Natha juga udah melamun. Mungkin dia emang lagi butuh waktu sendiri, kalau udah siap cerita juga bakalan cerita dengan sendirinya." Andre memberikan argumen untuk mengakhiri sikap Fiera yang heboh.
"Ayuk, main." Ajakan Rayn disetujui oleh lainnya.
Diantara enam orang yang memainkan truth or dare ada dua orang tidak fokus. Pertama ada Fiera yang khawatir Nathalie kenapa-kenapa, kedua ada Alastair yang penasaran kenapa Nathalie mendadak jadi pendiam hari ini.
Bukan ke UKS seperti perkiraan teman-temannya, Nathalie malah menaiki tangga menuju rooftop sekolah. Sejujurnya ini kali pertama dia berani naik ke rooftop tanpa tujuan sama sekali, Nathalie pikir menikmati angin dari atas sini akan lebih menyegarkan pemikirannya.
Pantas saja banyak yang memilih bolos untuk berada di sini, rupanya suasana di atas rooftop benar-benar sangat menenangkan. Perlahan Nathalie memejamkan matanya, dia seolah sedang terbang karena rambutnya tertiup lumayan kencang.
"Jarang banget liat seorang Nathalie bolos pas pelajaran."
Nathalie berbalik badan, sebenarnya tanpa berbalik juga dia sudah tau siapa pemilik suara ini. "Kenapa lo ke sini?"
"Tadi enggak sengaja liat lo jalan sendirian dengan pandangan kosong, takutnya bakalan terjadi apa-apa. Makanya gue langsung nyusul ke sini buat mastiin," ucap Given.
"Lo bisa lihat kalau gue enggak kenapa-kenapa."
"Lagi ada masalah?" tanya Given dan Nathalie hanya menggeleng. "Cuma ada hal yang mengusik pikiran gue sekarang."
"Kelihatan dari sorot mata lo, dari dulu tiap ada masalah atau sesuatu yang menganggu isi pikiran. Lo pasti butuh waktu sendirian, dan bakalan ngomong kalau waktunya udah pas."
"Bagus deh kalau lo masih ingat hal-hal kecil dari gue."
Given melangkah mendekat dan bersandar di tembok pembatas. "Gue gak bakalan lupain semua hal-hal sederhana dari lo, Natha."
"Oh ya, soal tadi malam gue minta maaf. Mungkin kata-kata Kaisar udah kelewatan, dia begitu karena capek latihan dan aktivitas makannya diganggu."
"Itu urusan Kaisar sama Velia, Natha. Bukan urusan kita, mereka juga udah sama-sama paham kapan harus minta maaf."
"Gue cuma enggak enak aja, karena omongan Kaisar mungkin menyakiti perasaan pacar lo."
"Hmm, gak usah dibahas."
"Lo kenapa ikutin gue ke sini? Bukannya ketua kelas harusnya jagain supaya murid di kelasnya enggak kabur."
"Ada Jaki yang jagain, lo tau sendiri mereka pada takut sama Jaki."
Nathalie perlahan tertawa, membayangkan bagaimana jahilnya seorang Jaki. Cowok itu juga sangat berpotensi mempermalukan orang lain di khalayak ramai.
Nathalie masih ingat dulu kala dia berpacaran dengan Given, ada salah satu murid kelas mereka yang menggoda Nathalie. Alhasil keesokan harinya saat olahraga Jaki menarik celananya hingga terlepas.
Sejak saat itu cowok-cowok takut jika Jaki kembali mengulang kebiasannya, dia tidak segan-segan menarik celana siapa yang membuatnya emosi.
"Kok malah ketawa?"
"Mendadak ingat sama sifat usil Jaki dulu."
"Parah 'kan? Makanya enggak apa-apa kalau gue titip mereka sama Jaki."
"Boleh gue tanya sesuatu sama lo?"
"Boleh, keliatan serius banget. Gue mendadak deg-degan kalau digituin."
"Tadi pagi Velia ngomong sama gue, dia bilang kalau hubungan kalian terjalin karena papanya bakalan bantuin perusahaan papa lo?"
"Dia ngomong kayak gitu sama lo?"
"Hmm, gue agak ragu. Makanya tanya sama lo sekarang, takutnya Velia cuma ngarang cerita karena dia suka sama Kaisar."
"Apa yang Velia bilang benar kok, gue enggak punya pilihan makanya iyain kemauan papa. Karena itu juga gue putusin lo secara tiba-tiba, padahal lo sendiri tau hubungan kita baik-baik aja waktu itu."
"Lo enggak masalah dengan kalimat Velia yang terang-terangan mengatakan suka sama Kaisar?"
"Gue enggak pernah suka sama dia, jadi kenapa harus marah."
"So, hubungan kalian berdua cuma sebatas drama? Keren juga kalau beneran iya."
"Gue cuma mengikuti alur yang dia mau, tujuan gue cuma supaya perusahaan papa berhasil."
"Gue gak bakalan setuju kalau Velia bakalan kejar-kejar Kaisar. Gue harap lo bisa nahan Velia supaya hubungan kalian terus bertahan."
"Gue gak bisa paksa perasaan seseorang, Natha. Kaisar gak mungkin bakalan suka sama Velia, lo enggak perlu khawatir soal itu."
"Gue enggak suka adik gue di deketin sama modelan kayak Velia, Kaisar benar-benar keliatan enggak nyaman."
"Oh jadi itu yang menganggu pemikiran lo sampai harus cabut sendirian ke sini?"
"Ketebak banget, padahal permasalahan sepele. Tapi entah kenapa gue kepikiran banget."
"Bisa jadi juga cemburu, karena selama ini Kaisar cuma milik lo. Pasti bakalan ada ketakutan kalau suatu hari nanti Kaisar punya pacar, suasananya bakalan beda."
"Gue enggak masalah kalau Kaisar punya pacar, yang terpenting jangan sama Velia. Selagi ceweknya baik dan bisa bikin Kaisar senang, gue bakalan dukung mereka."
Given menepuk-nepuk pundak Nathalie. "Udah enggak usah terlalu dipikirin, kebanyakan mikir sama hal yang belum terjadi yang ada nyiksa lo sendiri."
Nathalie menarik napas dalam-dalam, entah kenapa pemikiran untuk membenci Given hilang begitu saja setelah mendengarkan penjelasan barusan.
"Harusnya dari awal lo jujur aja, jangan main asal putusin."
Given tertawa keras. "pastinya juga lo enggak bakalan percaya dan menganggap gue lagi membuat sebuah alasan."
"Iya juga, terlalu rumit percintaan masa remaja."
"Tapi masa senangnya juga udah banyak, jadi enggak apa-apa kalau harus diselingi sama sedih. Bagaimanapun juga hidup harus balance."
"Kelihatan banget anak IPS yang belajar akuntansi, dikit-dikit bahasanya balance."
"Aduh, perbandingan kasta jurusan ini."
Lalu mereka berdua kembali larut dalam pembicaraan santai, hingga Nathalie benar-benar lupa dengan pemikiran yang mengusik sebelumnya.
Berbicara seperti ini, Nathalie merasa hubungannya dengan Given kembali baik-baik saja. Hal buruk yang pernah terjadi, memang perlahan harus dilupakan.