Semua anggota sepak bola berkumpul di lapangan pada pukul delapan pagi, sekitar tiga puluh menit lagi pertandingan akan dimulai. Kebetulan tahun ini SMA Dwiputra menjadi tuan rumah, jadi sebisa mungkin mereka akan menunjukkan yang terbaik agar bisa membanggakan sekolah.
Mereka semua melakukan pemanasan dengan berlari beberapa kali mengelilingi lapangan, kemudian meloncat-loncat agar tidak mudah lelah saat bertanding nanti.
Nathalie datang bersama kedua sahabatnya, di tangan mereka membawa plastik lumayan besar berisikan minuman dan juga makanan ringan. Pandangan mata Nathalie sempat bertemu dengan Given yang datang ke lapangan bersama Jaki.
Nathalie membalas senyuman dari Given dan perlahan dia mulai merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Pandangan mata Nathalie beralih menatap Alastair yang juga menyadari kedatangannya, cowok itu meloncat-loncat dengan melambaikan tangan penuh semangat. Nathalie tertawa karena aksi Alastair terlihat kocak, apalagi sekarang mereka berada di tempat umum.
Alastair memang tidak tau tempat dan tipikal manusia yang tak perlu menjaga image untuk diakui keren. Dengan begitu saja Alastair mendapatkan banyak fans, apalagi jika menjadi lelaki misterius yang irit bicara. Bisa-bisa semakin banyak orang yang penasaran dengan kehidupannya.
"Andre sayang semangat! Aku yakin kamu pasti bisa jagain gawang dengan baik."
Teriakan dari Fiera mengundang perhatian banyak orang. Sementara Andre yang menjadi kiper hari ini membalas teriakan itu dengan membentukan jarinya menjadi love. Mode bucin, meskipun di lapangan tetap bakalan kambuh.
Seakan dunia terus saja menjadi milik pasangan bucin ini, sedangkan orang lain yang berada di lapangan hanya sedang mengontrak sementara waktu saja.
"Lo enggak semangatin Alastair?" tanya Sasa.
"Apa gue harus teriak kayak Fiera barusan?"
"Jangan deh, gue malu kalau dua sahabat gue terlihat bucin."
Nathalie tertawa. "Nah itu lo tau, lagian Alastair bukan pacar gue. Jadi agak gimana gitu kalau ikutan teriak kayak barusan."
"Benar juga, nanti malah heboh para akun lambe membicarakan lo dengan Alastair."
Setelah berteriak keras Fiera membuka kemasan roti dan memakannya, dia memang belum makan apa-apa. Jadi membutuhkan banyak energi untuk meneriakkan nama sang pacar agar semakin semangat.
Pertandingan dimulai setelah wasit membunyikan peluit, semua murid SMA Dwiputra bermain dengan baik dan berhasil mencetak angka di menit ke delapan belas.
Awal yang baik untuk pertandingan yang menegangkan ini.
"Rayn, oper ke gue."
Rayn mengoper bola ke arah Daffrin. Setelah itu Daffrin menendang ke arah Alastair, usaha mencetak gol kedua tidak berhasil karena kiper dari sekolah sebelah berhasil menghadang.
"Tendang, Sar." Teriak Alastair kepada Kaisar yang sekarang menguasai bola, sayangnya kembali gagal meraih gol.
Pertandingan terus berlangsung dengan sengit. Andre sangat kewalahan menghadang bola yang akan masuk ke gawang mereka, untung saja usaha cowok itu selalu berhasil.
Fiera yang menonton semakin terkagum-kagum dengan permainan hebat pacarnya. "Jaga hati gue aja bisa, ya kali jaga gawang yang gampang malah gagal. Enggak mungkin 'kan?"
"Iya, enggak mungkin."
"Andre pacar lo emang keren."
"Iya dong, karena itu gue selalu makin sayang sama dia."
Sasa dan Nathalie menganggukkan kepalanya, biarkanlah Fiera bersenang-senang sekarang. Merusak mood cewek ini, yang ada berdampak buruk bagi ketentraman kehidupan Nathalie dan Sasa.
Mereka berdua tidak ingin jika harus berlari-larian di lapangan demi menghindari Fiera yang mengamuk seperti kejadian tempo hari.
Pertandingan babak pertama usai, mereka semua diberikan waktu beristirahat dua puluh menit. Nathalie memberikan minuman isotonik kepada Alastair dan menyerahkan tisu juga kepada cowok itu agar bisa mengelap keringat yang membanjiri hampir seluruh wajahnya sekarang.
"Aduh ngos-ngosan banget gue, berasa kejar-kejaran sama banteng." Alastair mengeluh sedangkan Nathalie yang mendengarkan itu tidak bisa menahan tawa.
"Ketawa lo, seriusan gue capek banget. Perasaan pas latihan enggak secapek ini."
"Sekarang capek kecampur sama deg-degan makanya lo kayak kelelahan gitu."
"Kayaknya emang iya sih, apalagi sekolah sebelah juga jago banget mainnya."
"Permainan kalian keren banget, enggak perlu takut kalah kayak gitu. Dengan dukungan suara dari gue kalian pasti bakalan menang dengan mudah," ucap Fiera.
"Iya dong, apalagi dengar teriakan lo telinga gue rasanya mau budek." Perkataan Rayn mendapatkan pukulan kuat dari Fiera. Memang cowok itu sangat hobi menganggu singa yang sedang jinak.
Fiera yang sedang kalem diganggu, pastinya langsung terjadi keributan tak terduga sekarang. Fiera yang terus memukul dan Rayn yang berusaha mencegah juga menghindari pukulan.
"Ndre, tenaga pacar lo kuat banget. Kalau gue sampek cedera gimana? Kita enggak bakalan bisa menang nanti,"
Alastair mendorong jidat Rayn dan berkata. "Lebay lo, masak dipukul cewek aja bisa cedera."
"Dipukuli cewek modelan hulk gini pasti bakalan cedera lah."
"Ngomong apa lo barusan?" tanya Fiera yang kembali ingin melayangkan pukulan.
"Bercanda, Ra. Emosian banget jadi cewek."
"Udah, Sayang. Kasian Rayn kalau kamu pukulin terus." Rayn bersyukur karena setelah Andre berbicara, gadis hulk itu kembali menjadi kalem seperti sebelumnya. Memang kalau sudah bertemu pawang akan berbeda ceritanya.
"Minuman buat gue mana? Jangan bilang habis," ucap Daffrin.
Sasa memberikan minuman yang masih tersisa kepada Daffrin. "Masih ada lagi gak?" tanya Nathalie. "Gue mau kasih buat Kaisar."
"Ada, nih. Kebetulan kita beli lebih satu."
Nathalie mengambil minuman tersebut dan mendekati Kaisar yang sepertinya sedang diganggu oleh gadis tidak tau malu bernama Velia.
"Sar, minuman buat lo."
"Makasih, Natha."
"Aduh, Kak Natha. Gue juga udah bawain minuman buat Kaisar nih. Tapi daritadi ditolak terus, padahal rasa yoghurt nya enak banget."
"Kayaknya dia enggak mau nerima minuman dari lo," ucap Nathalie. "Kaisar juga enggak terlalu suka yoghurt, dia lebih suka minuman isotonik kalau habis olahraga kayak gini."
"Pergi sana." Kaisar mengusir. Karena sejak tadi dia memang merasa risih dengan kehadiran Velia, cewek itu bahkan meneriakkan namanya saat pertandingan tadi.
Velia akhirnya pergi setelah menghentakkan kaki dengan kesal. "Sekarang gue percaya kalau dia emang hobi gangguin lo," ucap Nathalie.
"Syukur deh kalau lo enggak mikir itu semua cuma karangan, supaya gue terlihat keren."
"Permainan lo tadi bagus, gue harap bisa cetak gol di babak kedua."
"Pasti bisa, makanya lo ikutan teriakin nama gue."
"Ogah banget." Nathalie mendorong pelan d**a bidang adiknya dan kembali bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Pertandingan babak kedua kembali dimulai, semua berlangsung heboh seperti babak pertama. Keadaan semakin memanas saat skor berhasil disamakan.
Terlihat ada beberapa anggota dari SMA Dwiputra mulai bermain dengan emosi dan menendang bola dengan sangat kencang, bahkan sangat sering bola keluar dari lapangan.
Salah satu yang sudah tersulut emosi adalah Rayn, permainannya menjadi tidak terkontrol dan raut wajahnya sudah sangat memerah sekarang.
"Rayn, gak usah emosi. Kita masih ada kesempatan buat menang," ucap Alastair menenangkan sahabatnya.
"Sorry, Al. Tapi waktu kita enggak banyak, gue gak yakin sekolah kita bakalan menang."
"Bang, kalau lo tendang kuat-kuat gitu juga gak bakalan ada hasil apa-apa. Sama aja buang-buang kesempatan buat cetak gol," ujar Kaisar.
"Sar, lo maju sebagai penyerang. Rayn, lo jaga-jaga di dekat gawang."
Pertukaran posisi yang dilakukan oleh Alastair diharapkan bisa memberikan perubahan. Tidak hanya pemain yang cemas, penonton dan pelatih juga ikut cemas.
Untung saja Alastair bisa memandu temannya dengan baik dan mencegah terjadinya emosi yang meluap. Alastair tidak ingin jika harus ada permainan fisik karena emosi yang tidak bisa dikontrol.
"Arggghhh." Daffrin jatuh tersungkur karena kakinya yang ditendang dengan sengaja.
Rayn yang sedari tadi emosi jelas saja langsung kalap dan mendekati lawannya. Dia mencengkeram kuat jersey sepak bola dari pelaku tersebut. "Bisa enggak kasar! Kalau lo takut kalah, enggak gini caranya."
"Gue enggak sengaja, teman lo aja yang lemah langsung jatuh gitu."
"Lo pikir gue enggak liat tadi, lo sengaja nendang dia bukan buat ngambil bola."
"Bang, udah. Lo cuma buang-buang waktu untuk ginian." Kaisar menahan Rayn sedangkan Alastair berusaha membantu Daffrin yang kesusahan untuk bangun.
"Enggak ada cadangan lain, mereka pada gak datang," adu Andre setelah berbicara dengan pelatih.
"Terpaksa kita harus main dengan jumlah sepuluh orang." Alastair memutuskan karena memang tidak ada pilihan lain.
Mendengar hal itu jelas saja kemenangan yang akan mereka raih semakin kecil peluangnya. Rayn menatap tajam lawannya, "ini belum selesai, gue bakalan selesain ini setelah turnamen selesai."
Rayn berusaha menahan emosinya, jika melayangkan tinjunya sekarang dia takut akan mendapatkan kartu merah dan jumlah pemain SMA Dwiputra semakin berkurang.
Daffrin beristirahat karena kakinya yang harus diurut terlebih dahulu.
Pertandingan kembali dilanjutkan, Andre merasa kewalahan karena p*********n yang terus saja terjadi. Bahkan dia merasa deg-degan takut akan kembali kebobolan dan SMA Dwiputra harus menerima kekalahan.
Mengingat betapa keras usaha mereka sampai tiba hari ini, Andre jelas tidak ingin mengecewakan pelatih yang sudah bekerja keras untuk mereka dan ada Alastair selaku kapten sepak bola yang lebih merasa capek karena mengatur semua jadwal latihan dan membujuk beberapa orang agar tetap ikut latihan.
Pertandingan tersisa lima menit, mereka tidak ingin keadaan terus berada di posisi seri dan harus melakukan tendangan pinalti untuk penentuan pemenang.
Kaisar yang melihat waktu hanya tersisa satu menit, dengan bola yang sekarang dia kuasai. Kaisar memantapkan niatnya dan menendang dengan tenaga yang dia punya.
Semua penonton berseru heboh karena tendangan Kaisar berhasil memberikan kemenangan untuk SMA Dwiputra. Tidak lama kemudian peluit dibunyikan dan SMA Dwiputra keluar sebagai juaranya.
Mereka semua berlarian ke tengah lapangan dan saling berpelukan, rasanya sangat membahagiakan karena berhasil memenangkan pertandingan ini.
Alastair langsung mencegah Rayn yang sepertinya ingin melanjutkan perkelahian tadi. "Enggak usah dilanjutkan, dia udah cukup terpukul karena tim kita yang menang meskipun kekurangan anggota."
"Sar, lo keren banget." Andre merangkul Kaisar dan menepuk bahu adik kelasnya.
"Lo lebih keren, Bang. Bisa hadang banyak banget bola, kalau bukan karena kehebatan lo. Gue gak bakalan yakin kita bisa menang."
"Bangga gue sama lo, Ndre." Alastair bertos dengan Andre dan juga Kaisar. "Lo juga hebat, Sar."
"Lo lebih hebat dan keren, Al. Kalau bukan karena lo yang mati-matian nyuruh kita latihan, tahan gue supaya enggak emosi kayak barusan. Kemenangan ini enggak mungkin bakalan kita raih, tepuk tangan dulu untuk kapten kita."
Semua yang berada di area lapangan maupun tribun menikmati kemenangan ini. Nathalie bertatapan dengan Alastair dan mengacungkan jempolnya.
Tanpa sadar Nathalie bangun dari posisi duduknya dan berteriak kencang, "Alastair lo keren banget."