21. Makan Ketoprak

1601 Kata
"Kamu tidak akan bisa berbohong perihal hati dan rasa, karena jika kamu benar-benar menginginkan dia kembali. Pastinya kamu akan memberikan jawaban iya dengan senang hati." **** Sudah tiga hari sejak pulang dari acara malam keakraban, Sasa masih saja teringat dengan sosok berjubah hitam yang muncul. Dari yang masih diingat sosok tersebut tidak terlalu tinggi, hanya saja jubahnya yang terlihat besar. Tinggi yang memakai jubah tersebut hampir setara dengannya, dan Sasa menyimpulkan bahwa pelakunya adalah seorang perempuan. Dari konsep anggota OSIS saja tidak mengusulkan ada yang memakai jubah hitam, bahkan tidak ada kostum tersebut dalam koper yang mereka bawa. Sasa menebak bahwa ada orang lain yang sengaja mengusili Nathalie dan juga dirinya. Mungkin tujuannya bersenang-senang dengan melihat orang lain ketakutan. "Sasa," panggil Fiera. "Kita udah sepuluh menit di perpustakaan dan selama itu juga lo cuma melamun. Lagi mikirin apa sih?" "Eh, enggak apa-apa. Gue masih kepikiran kejadian di acara kemah." "Sa, ini udah tiga hari. Enggak usah lo mikirin hal enggak penting kayak gitu, lupain aja semuanya. Kalau enggak yang ada lo terus-terusan ketakutan." Fiera melirik Nathalie yang sibuk mencatat rumus matematika. "Natha aja udah enggak mikirin itu." "Gue enggak kepikiran, cuma keingat aja." "Cukup, Sasa. Hal itu enggak penting, semuanya udah berlalu. Anggap aja itu emang orang iseng yang lagi main-main sama ketakutan kalian." "Fiera, Sasa. Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Bu Yani. Memang kelas XI IPA 4 diarahkan untuk belajar di perpustakaan hari ini, karena ruangan kelas yang terasa panas di siang hari. "Maaf, Bu. Saya cuma tanya beberapa rumus yang kurang paham sama Fiera." "Kalau ada yang tidak dimengerti, langsung saja bertanya kepada saya. Jangan bertanya kepada teman kamu, karena itu menimbulkan keributan dan jawaban dari temanmu juga belum tentu benar." "Baik, Bu." Sementara Nathalie yang sedari tadi mencatat juga mendengarkan pembicaraan Fiera dan Sasa, sejujurnya dia juga masih kepikiran kejadian di malam itu. "Syuttt, tip ex dong." Nathalie melemparkan tip ex ke arah Alastair. "Kuat amat, Natha. Lagi PMS?" "Sorry, gue enggak sengaja." "Oke, no problem." Alastair menyengir namun Nathalie sama sekali tidak merespon, dan melanjutkan mencatat. Sejak kejadian hari itu Nathalie juga langsung pulang ke rumah jika waktu sekolah sudah berakhir, dalam minggu ini dia berniat membolos pertemuan dengan klub penyiaran bahkan tidak menunggu Kaisar selesai latihan. Nathalie lebih baik langsung pulang naik taksi saja, jujur rasa takut itu masih ada. Karena sejak kecil Nathalie memang sangat takut dengan hal-hal yang berbau horor, apalagi setan yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Meskipun itu setan jadi-jadian, namun tetap saja Nathalie merasa merinding setiap mengingat hal itu kembali. Sudah lima belas menit Nathalie menunggu taksi, namun tak ada satupun yang lewat tidak seperti biasanya. Tidak perlu taksi, Nathalie akan menaiki apa saja yang bisa membawa dirinya pulang dengan segera. "Natha," panggil Given yang duduk di atas motornya. "Mau bareng?" "Enggak usah, Ven. Gue nunggu taksi aja." "Taksi enggak bakalan lewat, palingan harus nunggu tiga puluh menit lagi. Bareng gue aja, bakalan aman kok." Nathalie berpikir sejenak, tidak ada salahnya menerima ajakan Given. Lagian hubungan keduanya juga sudah membaik sekarang. "Beneran enggak ngerepotin 'kan?" "Enggak lah, ayuk." Nathalie menerima helm yang diberikan oleh Given dan langsung naik ke motor cowok itu. Nathalie berpegangan pada ujung jaket Given, berjaga-jaga agar tidak terjatuh. "Udah siap 'kan?" "Udah, kok." Perlahan memori pulang sekolah dengan Given terputar begitu jelas di isi kepala Nathalie. Dia merindukan momen kebersamaan ini, tempat-tempat yang mereka lewati semuanya terasa de javu. "Mau makan ketoprak gak? Ditempat langganan kita dulu, gue udah lama enggak makan di sana." Tak perlu berpikir panjang, Nathalie langsung menganggukan kepalanya. Jelas saja jawaban dari Nathalie mengundang senyum dari bibir Given. Cowok itu langsung menuju tempat makan siang yang sering mereka datangi dulu, selain rasa ketoprak yang enak juga ada penjual bersifat ramah dan murah senyum. "Eh, Neng Natha sama Given. Lama banget enggak kemari, Bapak kira kalian udah dapat tempat lain yang lebih enak." "Ketoprak Bapak masih jadi juaranya," ucap Nathalie seraya mengacungkan jari jempolnya. "Kirain malah Bapak yang udah lupa sama kami, apalagi pengunjungnya makin rame nih. Pasti saya sama Natha dilupakan." "Tentu saja enggak, dulu kalian hampir tiap hari ke sini. Jadi mana mungkin Bapak bisa lupa secepat itu dengan pelanggan tetap." "Pesannya kek biasa ya, Pak," ujar Given. "Satu jangan banyak bumbu kacang, cabenya tiga sendok dan kerupuknya dibanyakin." "Benar banget." Given dan Nathalie duduk di tempat paling pojok. Sudah tiga bulan mereka tidak pernah ke sini, dan tempatnya masih selalu ramai. "Enggak kerasa bentar lagi udah ujian semester, jadi deg-degan sama hasilnya." "Pasti gak bakalan kecewain, secara lo selalu berusaha jadi yang terbaik." "Kok enggak pulang sama Velia?" tanya Nathalie. Sejak tau hubungan Given dan Velia hanya sebatas drama, Nathalie jadi lebih blak-blakan menyebutkan nama gadis itu. "Oh, dia ada latihan cheerleaders." "Bukannya hari ini juga jadwal latihan futsal? Jangan bilang kalau lo bolos," tuduh Nathalie. "Enggak lah, untuk sekarang semua pelatih ekskul olahraga lebih fokus ke pertandingan sepak bola. Lo tau sendiri kalau turnamen tinggal dua hari lagi, pasti Alastair juga udah kasih tau lo." "Iya juga, gue lupa. Lo 'kan juga hobi bolos kalau dulu, apalagi kalau mau makan bareng gue." Seketika Nathalie merasa malu karena keceplosan. "Enggak usah malu gitu, kayak sama siapa aja." "Gue cuma enggak mau kelihatan kepedean." "Natha," panggil Given. "Iya." "Sebenernya gue sama Velia udah membatalkan perjodohan kita tadi malam, gue sama dia udah enggak ada hubungan apa-apa lagi sekarang. Perusahaan papa juga udah membaik, berkat bantuan orang tua Velia." "Wah, gue ikutan senang karena perusahaan papa lo udah normal ke tahap semula." "Cuma itu yang buat lo senang? Lo enggak senang karena gue sama Velia udah putus?" "Kalau lo senang, gue juga ikutan senang." Nathalie tersenyum. "Gimana hubungan lo sama Alastair, udah jadian belum? Gue lihat kalian makin dekat sekarang." "Gue sama Alastair belum pacaran kok." "Natha," panggil Given lagi dan Nathalie merasa deg-degan sekarang. "Kalau misalkan gue ajakin balikan, lo mau enggak?" "Lo enggak bercanda sekarang 'kan?" "Enggak. Sejak kita putus sampai sekarang, gue cuma selalu mikirin lo aja. Walaupun sama Velia, semua hal tentang lo yang terus muncul di pikiran gue." "Ven, gue belum punya jawaban untuk itu." "Enggak perlu jawab sekarang, gue cuma tanya dan supaya lo tau kalau gue masih ada rasa. Perasaan gue buat lo enggak pernah berubah, Natha. Gue masih sayang banget sama lo dan selalu berharap kalau kita sebenarnya enggak pernah putus." "Ven, apa lo pernah kirimin podcast ke email klub penyiaran?" "Hmm, lo udah baca podcast gue?" "Udah, pas lo enggak masuk sekolah karena sakit." "Syukur deh kalau udah, gue selalu merasa deg-degan takut bakalan dibaca. Takut juga bakalan ketahuan kalau pengirimnya itu gue." "Podcast lo kirim bagus, sejak kapan bisa jadi cowok puitis? Perasaan pas sama gue enggak pernah bisa buat kata-kata kayak gitu." "Orang cenderung bakalan puitis kalau lagi galau." "Jadi lo buat tulisan itu pas lagi galau?" "Hmm, gue malas mengakui tapi emang iya." Nathalie tertawa puas. "Berarti pengaruh gue besar banget ya sampek lo bisa segitunya." "Gue punya hati Natha, enggak secepat itu juga buat lupain kenangan kita yang udah lama." "Awalnya gue kira lo enggak punya hati, tapi setelah tau alasan yang sebenarnya. Gue minta maaf untuk itu, maaf kalau gue pernah berharap lo bakalan dapat karma yang parah." "Kayaknya sekarang gue udah dapat karmanya, lo berhasil buat gue nge-stuck dan merasa sakit karena lihat kebersamaan lo sama Alastair." "Gue merasa puas untuk itu," ucap Nathalie. "Gue juga, setidaknya enggak terlalu merasa berdosa lagi karena pernah tinggalin lo." "Ini ketopraknya, silakan di makan." Ketoprak datang di sela-sela percakapan mereka berdua. Nathalie menyuapi sesendok ke mulutnya, rasanya sangat enak. Dia sudah lama tidak makan ketoprak kesukaannya, melihat banyaknya kerupuk yang tertata di piringnya menambahkan kesenangan Nathalie. "Gue udah lama enggak lihat ekspresi ini." "Sering-sering ajakin gue makan ke sini, biar lo bisa lihat lagi." "Oke deh, yang lagi kode." Nathalie menyembunyikan semburat merah jambu di pipinya dan melanjutkan makanannya. Sudah lama juga Nathalie tidak makan bareng dengan Given sekarang, perlahan perasaan yang dipaksa hilang kini sepertinya kembali seperti semula. Rasa deg-degan dan bahagia saat berdekatan dengan Given kini bercampur menjadi satu. Nathalie seolah kembali ke kehidupan lampau, dimana dia masih bebas memiliki Given dan mengajak cowok itu untuk pergi ke semua tempat yang diinginkan. Jam tiga sore Given memberhentikan motornya di depan gerbang rumah Nathalie. Cewek itu membuka helm dan menyerahkan kepada Given. "Makasih banyak untuk traktiran hari ini, emang benar kalau makan yang gratis rasanya lebih enak." Given menyukai senyuman Nathalie, dia merasa Nathalie-nya sudah kembali sekarang. "Sama-sama." "Gue masuk dulu, ya." "Natha, soal yang gue bilang tadi. Gue harap lo benar-benar kasih gue jawaban, ya. Terserah jawabannya apa aja, yang penting gue mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu." Nathalie kembali deg-degan, dia kira Given sudah melupakan pembicaraan mereka tadi ternyata tidak. "Gue bakalan kasih jawaban kalau emang waktunya udah tepat." "Jangan kelamaan kalau jawabannya enggak, kalau jawabannya iya setahun juga bakalan gue tungguin. Asalkan lo jangan jadian sama cowok lain dulu." Entah berapa kali Nathalie sudah tertawa dan tersenyum hari ini, tapi dia tidak bisa berbohong kalau memang merasa sangat senang. "Ucapan lo barusan kayak pemaksaan secara halus." "Sorry, gue pura-pura enggak sadar dengan gaya bicara gue barusan." "Gue bakalan kasih lo jawaban, jangan panik gitu. Pulang sana, nanti dicariin mama." "Udah gede, enggak bakalan dicariin juga." "Jadi, mau mampir?" "Enggak, masih takut kalau Kaisar pulang terus dia ngamuk." "Hahaha cemen banget sih, ya udah sana pulang." "Oke, gue pulang dulu." "Hati-hati di jalan." Nathalie membuka pagar dan melangkah dengan riang. Begitu mendengarkan suara mesin motor Given dihidupkan, dia berbalik badan dan melambaikan tangan dengan senyum merekah. Nathalie benar-benar bahagia hari ini karena menghabiskan waktu dengan Given dan melupakan kejadian di perkemahan yang beberapa hari berhasil mengisi ruang di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN