20. Jurit Malam

1318 Kata
Semua dibangunkan pada pukul satu dini hari, padahal mereka baru dibiarkan tidur satu setengah jam yang lalu. Acara tadi berakhir dipukul setengah dua belas malam dan semuanya tidur di tenda yang sudah disediakan sejak tadi siang. Sekarang terpaksa harus bangun karena alarm yang dinyalakan begitu keras, dan juga beberapa dari anak OSIS yang menggoyangkan tenda tempat mereka tidur. "Gue baru tidur ya, jangan Sampek lo semua gue hajar!" ancam Fiera yang masih enggan membuka matanya yang terasa sangat berat. "Bangun, Ra. Kita pasti disuruh jurit malam sekarang." Nathalie menggoyangkan tubuh Fiera kuat-kuat. "Ah, gue masih ngantuk banget. Sasa mana? Gak jadi balik ke sini dia?" "Dia pasti udah kumpul sama anak OSIS lainnya." "s****n, gue baru tidur tiga puluh menit kayaknya. Dan sekarang harus bangun terpaksa, kepala gue bakalan sakit besok pagi." Fiera memakai kupluk ke kepalanya agar tidak terasa dingin, kemudian mengancingkan jaketnya agar tertutup rapat. Menguap malas dan beberapa kali mendumel, akhirnya dia mengikuti Nathalie keluar dari tenda. Bukan hanya dirinya yang merasa mengantuk, tapi semua orang yang ada di sini. Terlihat dari mata sayu yang dipaksa bangun. Sasa kembali dari perkumpulan anak OSIS dan berdiri di sebelah Nathalie, sepertinya gadis ini sama sekali belum tidur terlihat dari matanya yang tidak mengantuk. Pasti dia sibuk mempersiapkan untuk acara jurit malam ini. "Gue udah minta izin buat ikut jurit malam bareng." "Perhatian semuanya!" Iqbal selaku ketua OSIS mulai membuka acara. "Kita akan memulai kegiatan jurit malam, kegiatan ini berlangsung sampai pukul tiga pagi. Setiap kelompok harus mengunjungi tiga pos dan menemukan tiga bendera dari sana. Tapi, bendera tidak terletak di pos namun berada di pepohonan area pos yang harus kalian cari." "Setiap kelompok diberikan waktu sampai pukul tiga pagi paling lama, jika lebih dari waktu itu tidak kembali ke sini. Maka akan dikenakan hukuman yang akan diberitahukan keesokan pagi harinya. Kalian bebas memilih siapa partner, dan setiap tim hanya bisa terdiri dua orang tidak boleh lebih." "Lah, enggak bisa gitu dong. Ya kali cewek cuma boleh berdua, kalau terjadi apa-apa lo mau tanggung jawab?" "Enggak bakalan terjadi apa-apa, karena setiap area yang kalian datangi ada anggota OSIS yang bersembunyi untuk memastikan kegiatan berjalan aman." "Lo berdua sama Natha aja, gue bisa cari partner lain." Sasa berucap. "Kalau sendiri boleh enggak?" tanya Fiera. Sepertinya gadis ini sudah tersulut emosi, setelah dibangunkan secara paksa dan mendengarkan pengumuman seperti sekarang. "Ra, enggak mungkin satu orang." Nathalie mencegah, dia tidak ingin terjadi apa-apa kepada Fiera meskipun dia sangat tau bahwa Fiera pemberani dan kuat. "Boleh aja kalau lo berani," jawab Iqbal. "Oke, gue bakalan pergi sendiri." Andre yang mendengarkan itu langsung mendekati Fiera. "Enggak, aku gak setuju ya kalau kamu gitu. Ini di hutan Fiera, kamu gak bakalan tau apa yang kamu temui." "Gue bakalan sendiri dan enggak ada yang bisa bantah ucapan gue barusan." Fiera tetap keras kepala dan mengabaikan ucapan Andre. "Kalau cowok sama cewek enggak bisa?" "Enggak bisa, Ndre. Itu peraturan dari Pak Jamal." "Benar, saya tidak setuju kalau satu kelompok tercampur cowok dan cewek." "Aku enggak bakalan kenapa-kenapa," kata Fiera kepada Andre. "Tapi, Ra --" "Gue bakalan pergi duluan." Fiera berjalan ke arah panitia untuk diikatkan penutup mata. Penutup mata tersebut akan dilepaskan saat mereka berada di jalur pos pertama. Sasa dan Nathalie sama-sama khawatir dan memutuskan menjadi tim kedua yang melakukan jurit malam. Mereka berdua saling berpegangan tangan dan melangkah pelan-pelan, sangat takut jika harus tersandung. Setelah penutup mata dibuka, anggota OSIS yang bertugas mengantarkan langsung pergi meninggalkan mereka berdua. "Mana pos satunya?" tanya Sasa, merasa ragu kalau dia tidak bisa melihat secara jelas setelah ditutup mata seperti tadi. "Kayaknya kita bukan langsung di bawa ke pos satu deh, pasti harus cari pos satu dulu. Enggak mungkin juga langsung di bawa ke pos satu, keenakan kitanya." Nathalie dan Sasa melanjutkan jalan dan menemukan sumber cahaya, itu pasti pos satu. Sayangnya saat mendekat mereka malah berada di hadapan pos dua. Jelas saja tidak bisa, setiap peserta harus memulai dari pos pertama terlebih dahulu. "Kalau pos dua ada di sini, berarti pos satu di belakang. Kita udah dibawa jauh dari pos satu." "Lo benar-benar enggak tau dimana letak pos satu?" tanya Nathalie. "Tadi pas siang gue tau, tapi sekarang enggak yakin karena suasananya gelap. Gue takut salah bilang yang ada kita makin kejauhan." "Ya udah kita puter balik ke belakang aja dulu, daripada ke depan dan malah ketemu pos 3 yang ada kecapean balik." "Oke deh." Ternyata benar, mereka menemukan pos satu setelah berjalan ke belakang. Di pos satu diberikan tantangan menyebutkan jabatan para guru dimulai dari kepala sekolah. Setelah menjawab pertanyaan dengan benar, barulah Sasa dan Nathalie diberikan kupon sudah menyelesaikan misi dan boleh mencari bendera di sekitaran sini. "Mana sih, perasaan tadi siang gue gantung banyak di atas pohon." Sasa menyoroti ke setiap pohon dengan senter yang diberikan oleh panitia tadi. "Selain pohon dimana lagi?" "Gue kurang tau, karena bagian gue cuma gantungin di pohon." "Siniin gue senterin." Nathalie mencari ke semua arah di sekitar mereka berdiri sekarang.  "Setannnnnn." Nathalie berteriak dengan suara yang sangat keras. Di hadapannya barusan ada salah satu anggota OSIS yang bercosplay menjadi kuntilanak. Sejak kecil Nathalie memang sangat menakuti hal-hal yang berbau horor. Sasa yang berdiri di sebelah Nathalie tertawa keras karena ekspresi Nathalie yang terlihat konyol. Nathalie mencebikkan bibirnya kesal dan berjalan dengan langkah cepat, Sasa berusaha mengejar langkah kaki Nathalie dan menghentikan cewek itu. "Ayolah Natha, masak gitu doang ngambek. Gue cuma refleks ketawa barusan, enggak ada niatan sengaja. Ekspresi lo barusan benar-benar sangat menghibur, yang jadi kuntilanaknya aja sampek ngakak." "Bodo ah, enggak lucu." Nathalie terus melanjutkan langkah. "Natha." Sekelebat bayangan seseorang berjubah warna hitam melintas di hadapan Nathalie dengan begitu cepat. Bukan hanya itu, Sasa juga ikutan terseret bersama bayangan tersebut. Secepat kilat semuanya menghilang dari pandangan Nathalie yang kaget sekaligus syok. Gadis itu sangat panik sekaligus ketakutan, dia berlari cepat mencari pos panitia untuk meminta pertolongan. Sayangnya baru beberapa saat berlari, kembali muncul sosok pocong yang mengagetkan Nathalie. Gadis itu jatuh terjerembab dan pingsan tak sadarkan diri. "Sasa." Nathalie terbangun dari kondisi pingsan. Saat pertama kali membuka mata, dia bisa melihat banyaknya kepala yang berada di hadapannya dan sekarang dia tertidur di pangkuan Kaisar. Matahari juga sudah menampakkan diri yang artinya malam sudah berakhir dan Nathalie sudah pingsan dalam jangka waktu lumayan lama. "Kepala gue sakit, Sar." Adu Nathalie kepada adiknya. Kaisar langsung memijit dahi Nathalie perlahan. "Lo kenapa bisa jatuh sih, untung enggak susah ditemuin." Nathalie bangun dari posisi tidurnya dan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. "Tidur lagi aja Natha, kalau masih pusing." Alastair sangat khawatir, untung saja dia dan Andre menemukan Nathalie setelah mendengarkan teriakan saat mereka sedang mencari bendera di area pos satu. "Sasa mana? Sebelum Sasa hilang gue lihat ada bayangan hitam, terus ada pocong muncul di depan gue. Setelah itu kayaknya gue pingsan karena enggak ingat apa-apa lagi." "Sasa juga pingsan gak jauh dari lo." "Dimana dia sekarang?" "Lagi dikasih bubur sama Fiera," ucap Andre. "Yang nakut-nakutin kelewatan banget sumpah, kayak sengaja kerjain gue sama Sasa. Dua kali hantunya muncul di depan gue, Sar. Lo tau sendiri gue takut banget sama hantu." Kaisar memeluk Nathalie yang menangis, bahkan tubuhnya bergetar karena ketakutan. "Lo aman sekarang, enggak ada hantu-hantu lainnya." "Gue mau pulang, enggak mau lagi ikut acara ginian." "Kita emang bisa pulang sebelum siang, acara enggak bakalan dilanjutin sampek sore." Rayn memberitahukan informasi yang dia dengar dari anak OSIS. "Natha, lo baik-baik aja 'kan? Gue panik banget pas tau lo hilang," ucap Fiera dan langsung memeluk Nathalie. "Gue enggak kenapa-kenapa, Ra. Untung aja enggak luka, mungkin pingsan karena kaget aja sama hantu." Nathalie menatap Sasa yang juga terlihat pucat. "Sa, lo enggak kenapa-kenapa 'kan?" Sasa mengangguk meskipun dia masih penasaran siapa sebenarnya manusia berjubah hitam semalam. Membayangkan saja membuatnya bergidik ngeri, mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama yang tidak bisa dia lupakan selama menjadi anggota OSIS. Seluruh murid dikumpulkan dan di absen agar bisa menaiki bus. Nathalie ingin segera pergi dari sini, dia takkan mau ikutan acara seperti ini lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN