“Ilona,” Kamila menatap sahabatnya dengan mata merebak basah. Dia terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajah cantik itu memudar. Bahkan rambutnya yang dulu tebal kini menepis dan tampak tidak terurus. Dia kurus kering dan tampak sangat menyedihkan di mata Ilona. Ilona menatap Dion sekilas. Dion mengangguk seakan memberi Ilona dukungan untuk berbesar hati mema’afkan Kamila. Ilona menarik napasnya dengan berat. Berusaha untuk memusnahkan kebenciannya pada Kamila. Dia melihat Arun menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan seakan ada rasa rindu di sana. “Kamu datang, Ilona.” kini sudut-sudut mata Kamila basah karena air mata. Ilona mengangguk. Dia tidak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana. Ilon

