Pukul tiga sore saat Mayang sedang menemani Ane tidur siang, ponselnya berdering. Nama Shinta yang tertera di layar membuat Mayang tanpa ragu segera mengangkatnya. “Ya, Shin?” “Lo lagi dimana, May?” “Di rumah. Nemenin Ane tidur siang. Kenapa, tumben lo telepon jam segini?” “Mmm… gue nggak tahu ini penting apa nggak sih, tapi tadi pas gue mau masuk ke ruangannya Mas Elang, dia lagi ribut sama Mbak Eveline.” “Oh, mungkin masih tentang Ane?” tanya Mayang. Ia bergeser sepelan mungkin dari atas kasur, memperbaiki selimut Ane yang sedikit berantakan dan melangkah keluar kamar. “Mungkin, tapi gue juga denger nama lo disebut-sebut. Mas Elang kedengerannya marah banget tadi. Gue cuma mau ngasih tahu biar lo prepare, entah nanti Mas Elang pas pulang moodnya jelek atau gimana, kan? Lo bisa ant

