Dua minggu ini Mayang menjalani harinya seperti mayat hidup. Ia akan tersenyum dan tertawa saat bersama Ane, namun ketika gadis kecilnya sedang tidak berada di dekatnya Mayang kembali diam dan melamun. Erlangga marah, ia tahu. Mayang menerima kemarahan lelaki itu karena dirinya memang bersalah. Telepon Arga saat itu membuatnya panik dan ketakutan sehingga melupakan satu hal yang amat sangat penting bagi seorang perempuan yang telah menikah. Izin dari suami setiap keluar rumah. Ia tidak akan mengelak mengenai kealpaannya yang satu itu. Sejauh ini Mayang sudah berusaha untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, tapi sayang Erlangga menutup semua aksesnya untuk duduk dan berbicara dengan kepala dingin. Malam dimana Erlangga meluapkan kemarahannya, lelaki itu memilih pergi dari rumah

