Batas Kesabaran Armand

1973 Kata
Meja jamuan utama itu terbuat dari kayu mahoni panjang yang dipoles hingga memantulkan cahaya lampu kristal di atasnya. Julian mendudukkan Elena di sisinya, tangannya masih sempat mengusap tengkuk Elena dengan posesif sebelum seorang menteri keuangan menarik perhatiannya untuk pembicaraan mendesak tentang akuisisi pelabuhan. ​Julian terpaku dalam percakapan teknis, namun matanya tetap melirik Elena setiap beberapa detik. Sampai akhirnya, seorang pelayan menumpahkan wine di dekat kursi sang menteri, menciptakan kerumunan kecil yang memaksa Julian berdiri dan melangkah beberapa meter menjauh untuk menjaga privasi pembicaraan mereka. ​Itulah celah yang ditunggu Victor. ​Tanpa suara, pria Rusia itu menggeser kursi di samping Elena yang kosong. Aroma cerutu mahal dan alkohol yang menyengat segera menggantikan wangi sandalwood Julian yang familiar. ​"Dia meninggalkanmu sendirian di kandang singa, Manis," bisik Victor. Suaranya serak, mengirimkan getaran tidak nyaman ke telinga Elena. ​Elena tidak menoleh. Ia menatap piring porselen di depannya seolah itu adalah benda paling menarik di dunia. "Suamiku sedang bekerja, Tuan Volkov. Saya rasa Anda tahu apa itu etika bisnis." ​Victor menyeringai, jemarinya yang kasar kini mulai menelusuri garis tulang belikat Elena yang terekspos. Elena membeku; sentuhan itu terasa seperti reptil yang merayap di kulitnya. ​"Kau tahu, Elena," bisik Victor, suaranya merendah menjadi geraman yang intim namun menghina. "Julian tidak memilihmu karena takdir. Dia memilihmu karena kau adalah kanvas kosong yang paling sempurna. Dia tidak butuh wanita dengan opini, dia butuh seseorang yang bisa dia bentuk, dia beri label, dan dia kunci dalam brankasnya." ​Elena mencoba menarik napas, namun udara di sekitarnya terasa penuh dengan aroma cerutu Victor yang menyesakkan. "Anda tidak tahu apa-apa tentang pernikahan kami." ​"Pernikahan?" Victor terkekeh sinis. "Ini bukan pernikahan, ini adalah akuisisi. Lihatlah perhiasan di lehermu itu. Itu bukan tanda cinta, itu adalah segel kepemilikan. Dia mendandanimu seperti ini agar setiap pria di ruangan ini tahu bahwa kau adalah miliknya yang paling mahal, namun paling tidak berdaya." ​Tangan Victor kini bergerak berani, menyentuh helai rambut Elena yang tergerai di punggungnya, memilinnya dengan gerakan yang merendahkan. "Katakan padaku, Manis... apakah kau masih bisa mengenali dirimu sendiri di cermin tanpa semua polesan yang dia perintahkan? Atau kau sudah benar-benar menjadi bayangan dari ego Julian Armand?" ​Pertanyaan itu menghantam Elena tepat di ulu hati. Apakah aku masih ada di balik gaun ini? Elena mencengkeram pinggiran meja, buku-bukunya memutih. Amarah yang sedari tadi ia pendam kini mendidih, melampaui rasa takutnya. Ia menoleh perlahan, menatap mata Victor yang licik dengan sorot mata setajam belati. ​"Angkat tanganmu, Tuan Volkov," desis Elena, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu malu di depan seluruh relasimu." ​Victor justru terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. Bukannya menjauh, ia justru semakin berani. Telapak tangannya kini menempel penuh di punggung Elena, mengelus kulit halus itu dengan gerakan melingkar yang posesif sekaligus merendahkan. ​"Ancaman yang manis dari seekor burung dalam sangkar," ejek Victor. Ia condong ke depan, membiarkan bau alkohol dari napasnya menyentuh wajah Elena. "Katakan padaku, apa rasanya menjadi properti tercantik Julian? Dia mendandanimu, memilihkan gaun ini, bahkan mungkin mengatur cara kau bernapas malam ini. Kau pikir dia mencintaimu? Tidak, Elena. Dia hanya mencintai kekuasaan yang ia rasakan saat memilikimu. Kau tak lebih dari piala yang bisa ia ganti kapan saja." ​Elena tertawa getir, sebuah tawa yang sanggup menghentikan gerakan tangan Victor sejenak. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya, dengan kasar menyentak punggungnya agar lepas dari telapak tangan Victor. ​"Kau bicara seolah kau berbeda darinya, Victor," ucap Elena dengan nada menghina yang tenang. "Kau menyentuhku bukan karena kau ingin 'membebaskanku', tapi karena kau ingin mencuri sedikit dari apa yang dimiliki Julian. Kau hanyalah pencuri kecil yang mencoba menyentuh barang yang tidak akan pernah bisa kau beli." Wajah Victor mengeras. Seringainya menghilang, digantikan oleh kilat amarah yang gelap. ​"Kau punya lidah yang tajam untuk seorang boneka," geram Victor. Ia mencoba meraih dagu Elena, namun Elena menepisnya dengan kasar. "Tapi jangan lupa, Elena... Julian tidak butuh wanita dengan opini. Begitu kau mulai bicara balik dan tidak lagi bisa dikendalikan, kau tidak lagi berguna baginya. Saat itu terjadi, kau akan dibuang kembali ke selokan tempat ia menemukanmu." ​Elena tidak mundur satu inci pun. Ia justru mendekatkan wajahnya ke arah Victor, menantang maut dengan keberanian yang bahkan ia sendiri tidak tahu ia miliki. ​"Setidaknya aku tahu siapa suamiku," bisik Elena tepat di depan wajah Victor. "Tapi kau? Kau bahkan tidak berani menatap matanya saat dia ada di sini. Kau hanya berani mengelus 'miliknya' saat dia berbalik. Kau bukan pria, Victor. Kau hanya parasit yang mencari sisa-sisa perhatian dari kejayaan Julian Armand." ​Elena berdiri tegak, merapikan gaunnya dengan gerakan yang sangat anggun dan penuh martabat. Ia menatap Victor dari atas ke bawah seolah pria itu hanyalah debu di lantai. ​"Cuci tanganmu, Tuan Volkov. Bau pengecutnya tercium sampai ke sini." ​Elena melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan Victor yang mematung dengan rahang mengeras dan amarah yang meledak di balik matanya. Namun, saat ia menjauh, Elena bisa merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga tangannya gemetar hebat di balik lipatan gaunnya. Elena berjalan cepat, mengabaikan denting piano dan tawa artifisial yang memenuhi aula. Ia merasa kotor. Sentuhan jemari Victor di punggungnya terasa seolah meninggalkan bekas permanen yang membakar kulitnya. Ia butuh air. Ia butuh membasuh sisa-sisa keberadaan pria itu dari tubuhnya. ​Ia menemukan pintu ganda berbahan marmer dengan simbol toilet wanita. Begitu masuk, ia disambut oleh keheningan yang mewah—aroma melati dan pencahayaan redup yang tenang. Elena langsung menuju wastafel kristal, menyalakan keran, dan menyiramkan air dingin ke tangannya yang gemetar. ​Ia membasahi tisu, lalu meraih ke belakang, menggosok kulit punggungnya yang tadi disentuh Victor dengan gerakan hampir obsesif. ​"b******k," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat dengan amarah dan ketakutan yang bercampur. ​Klik. ​Suara pintu yang dikunci dari dalam bergema di ruangan yang sunyi itu. ​Elena membeku. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap cermin besar di hadapannya. Di balik bayangannya, berdiri sosok tinggi Victor Volkov yang baru saja memutar gerendel pintu. ​"Kau punya keberanian yang besar untuk ukuran seorang wanita yang hanya 'dipinjamkan', Elena," ucap Victor pelan. Suaranya memantul di dinding marmer, terdengar jauh lebih mengancam daripada saat di aula. ​Elena berbalik dengan cepat, mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku jarinya memutih. "Ini toilet wanita, Victor. Keluar sekarang juga sebelum aku berteriak." ​Victor justru tertawa, sebuah suara kering yang tidak sampai ke matanya. Ia melangkah maju perlahan, memenuhi ruang sempit itu dengan d******i yang menyesakkan. "Berteriaklah. Musik di luar sangat kencang, dan suamimu sedang sibuk menjadi pahlawan bisnis. Tidak akan ada yang mendengarmu." ​Victor berhenti tepat di depan Elena, mengurung wanita itu di antara tubuhnya dan wastafel. Ia mengangkat tangannya, jemari yang sama yang tadi mengelus punggung Elena kini bergerak menuju leher wanita itu. ​"Tadi kau bicara sangat hebat di meja perjamuan," desis Victor, matanya menyisir wajah Elena dengan lapar. "Tapi aku bisa melihat denyut nadimu di leher ini. Kau ketakutan, bukan? Kau tahu bahwa di balik Julian Armand, kau sama sekali tidak punya perlindungan. Jika aku menghancurkanmu di sini, dia hanya akan menganggapnya sebagai kerugian aset." ​"Jangan berani-berani menyentuhku," Elena mencoba mendorong d**a Victor, namun pria itu tidak bergeming. Victor justru menangkap kedua pergelangan tangan Elena dan menekannya ke pinggiran wastafel yang dingin. "Julian mendandanimu dengan sangat cantik malam ini... seolah dia sengaja memintaku untuk mengambilmu darinya. Apa dia memberitahumu, Elena? Bahwa terkadang, pria seperti kami saling bertukar koleksi?" ​Kebohongan itu keluar dari mulut Victor seperti racun. Elena tahu itu bohong, namun di tengah rasa takutnya, kata-kata itu menusuk jauh ke dalam keraguannya tentang Julian. ​"Kau bohong," bisik Elena, suaranya bergetar. ​"Apa aku?" Victor mendekatkan wajahnya, menghirup aroma parfum Elena dengan rakus. "Mari kita lihat seberapa besar dia menghargaimu jika dia menemukanmu di sini... bersamaku." ​Victor mulai merunduk, mencoba mencium leher Elena dengan paksa, sementara Elena meronta sekuat tenaga, tangannya terjepit, dan napasnya mulai tersengal oleh kepanikan. Elena memalingkan wajahnya sekuat tenaga, namun cengkeraman Victor pada pergelangan tangannya terasa seperti borgol besi yang mengunci geraknya. Victor menekankan seluruh berat tubuhnya, menghimpit Elena ke wastafel marmer yang dingin hingga pinggang Elena terasa sakit. ​"Lepaskan aku, b******k!" teriak Elena, suaranya bergema di dinding toilet yang sunyi. ​Victor tidak peduli. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Elena, menghirup aroma kulit wanita itu dengan rakus. Napasnya yang memburu terasa panas dan menjijikkan, berbau alkohol dan tembakau yang menyesakkan d**a Elena. ​"Diamlah, Elena," desis Victor di sela-sela napasnya yang berat. "Aku tahu kau menikmatinya. Julian terlalu kaku untuk wanita sepertimu. Dia hanya ingin memilikimu, tapi aku... aku tahu cara menghargaimu." ​Victor mulai menciumi leher Elena dengan paksa, gerakannya kasar dan penuh nafsu. Elena merintih jijik, ia merasakan bulu kuduknya meremang karena mual yang luar biasa. Ia berjuang, menyentakkan tangannya sekuat tenaga, mencoba menendang tulang kering Victor, namun pria itu justru semakin menekannya hingga Elena sulit bernapas. ​"Jangan... sentuh... aku!" Elena terengah-engah, matanya mulai memanas karena amarah yang memuncak. ​Satu tangan Victor terlepas dari pergelangan tangan Elena, namun bukan untuk membebaskannya. Tangan kasar itu justru merayap naik, mencengkeram rahang Elena dengan kuat, memaksanya untuk menatap mata Victor yang dipenuhi obsesi gelap. ​"Kau sangat cantik saat melawan," gumam Victor rendah. Ia mendekatkan bibirnya, mencoba membungkam mulut Elena dalam ciuman paksa. Elena terlempar ke belakang saat Victor menyentakkan tubuhnya dengan kasar. Pinggiran wastafel marmer yang tajam menghantam tulang rusuknya, namun yang paling fatal adalah saat kepalanya terayun ke belakang. ​Dugh! ​Suara benturan itu tumpul namun mengerikan. Sudut dahi Elena menghantam pinggiran wastafel dengan keras. Pandangannya mendadak berpijar putih sebelum semuanya berubah menjadi buram dan berputar. Rasa sakit yang tajam dan berdenyut segera menjalar di kepalanya, diikuti oleh sensasi hangat yang mulai mengalir turun melewati pelipisnya. ​Cairan merah pekat—darah—mulai merembes, menetes pelan ke pipinya yang pucat, mengotori riasan wajah yang semula sempurna. ​"Lihat apa yang kau lakukan, Manis," bisik Victor, suaranya terdengar jauh dan teredam di telinga Elena yang berdengung. Victor tidak berhenti; ia justru memanfaatkan kondisi Elena yang limbung. Ia mencengkeram bahu Elena yang terkulai, menekan wanita itu kembali ke marmer yang kini ternoda bercak merah. ​"Jangan... sakiti aku..." rintih Elena lemah. Suaranya nyaris hilang, tangannya mencoba menggapai wastafel untuk menopang tubuhnya yang seolah kehilangan tulang. ​Victor tertawa rendah, wajahnya kembali merunduk, napasnya yang berbau tembakau merayap di ceruk leher Elena. "Julian tidak akan menginginkanmu lagi setelah aku selesai denganmu. Barang yang sudah pecah tidak punya tempat di lemari kacanya." ​Victor mulai menciumi leher Elena dengan kasar, mengabaikan darah yang kini mulai mengenai kerah kemejanya sendiri. Elena hanya bisa memejamkan mata, air mata mengalir bercampur dengan darah di dahinya. Ia merasa dunianya runtuh, hingga sebuah ledakan keras di pintu toilet merobek keheningan. ​BRAAAKKK! Pintu toilet itu terlempar hingga menghantam dinding dengan suara menggelegar. Victor tersentak, tubuhnya menegang. Bibirnya yang tadi menempel di leher Elena berhenti seketika. Kepalanya menoleh tajam ke arah pintu yang kini terbuka lebar, engselnya masih berderit pelan. Langkah berat bergema di lantai marmer. Satu langkah. Dua langkah. Sepasang sepatu kulit hitam mengilap muncul dari balik bayangan pintu yang rusak. Sosok pria tinggi berdiri di sana, bahunya tegang, napasnya terdengar berat seolah ia baru saja berlari menembus badai. Elena yang hampir kehilangan kesadaran perlahan membuka matanya. Pandangannya buram oleh air mata dan darah yang mengalir di dahinya. Namun siluet itu… Ia mengenali postur itu. Victor ikut menoleh penuh kesal. “Siapa yang—” Kalimatnya terpotong. Karena pada detik berikutnya, suara yang sangat ia kenal—dingin, rendah, dan penuh kemarahan—mengisi ruangan sempit itu. “Lepaskan tanganmu.” Keheningan mencekam jatuh seperti pisau. Victor membeku. Sementara Elena yang bersandar lemah di wastafel hanya mampu berbisik hampir tanpa suara saat sosok itu akhirnya melangkah keluar dari bayangan— “…Julian…?” Dan mata Julian Armand yang biasanya tenang… kini dipenuhi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari amarah. ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN