Pintu marmer itu hancur berkeping-keping, terlepas dari engselnya akibat hantaman yang luar biasa dahsyat. Debu halus marmer beterbangan di udara, menciptakan selubung tipis di bawah lampu kristal yang berayun hebat.
Wajahnya yang biasanya setenang permukaan telaga kini terdistorsi oleh kemurkaan yang murni, seolah topeng manusianya telah retak dan memunculkan iblis di dalamnya. Matanya yang segelap obsidian seketika terkunci pada sosok Elena yang tersandar lemah di wastafel—gaun sutranya berantakan, dan noda merah pekat mulai mengaliri dahi pucatnya. Di sana, Victor masih menghimpitnya dengan seringai yang belum sempat luntur.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Julian. Detak jantungnya berubah menjadi genderang perang yang bertalu-talu di rongga dadanya.
"Lepaskan..." suara Julian keluar bukan lagi sebagai kata-kata, melainkan geraman rendah yang sangat berbahaya, merayap di lantai marmer seperti peringatan dari dasar neraka. "Lepaskan tanganmu dari istriku sebelum aku menguliti setiap inci kulitmu hidup-hidup."
Victor tersentak, refleks melepaskan Elena hingga wanita itu hampir terjatuh jika jemarinya tidak mencengkeram pinggiran marmer dengan gemetar. Victor mencoba menarik napas, mencoba memungut sisa-sisa keberaniannya yang kini tercecer di lantai. "Julian, ini hanya sedikit permainan—"
Julian tidak membiarkan kalimat itu selesai. Dengan kecepatan yang mengerikan, ia melesat maju.
Bugh! Bugh!
Setiap hantaman Julian bukan sekadar kemarahan; itu adalah pernyataan kepemilikan yang berdarah. Julian menghujamkan tinjunya ke wajah Victor berkali-kali hingga wajah pria itu tak lagi bisa dikenali. Darah memercik ke kemeja putih Julian, ke tangannya, bahkan ke pipinya, namun ia tidak peduli.
"Julian, berhenti! Cukup!" teriak Elena dengan suara parau yang pecah oleh isak tangis.
Julian seolah tuli. Ia menjatuhkan Victor yang sudah terkulai lemas ke lantai yang licin oleh tumpahan wine dan darah. Bukannya berhenti, Julian justru menginjak punggung tangan Victor—tangan yang tadi berani mengelus punggung Elena—dengan tekanan yang sanggup melumat tulang-tulang jemarinya.
"Tolong... Julian... cukup..." rintih Victor, suaranya tercekik oleh darahnya sendiri.
Julian berlutut di atas d**a Victor, mencengkeram rambut pria itu dan membenturkan kepalanya ke lantai marmer dengan irama yang brutal. Matanya yang gelap kini menyala dengan kegilaan yang murni.
"Kau menyentuh apa yang seharusnya tidak kau lihat," desis Julian tepat di wajah Victor yang hancur. "Kau membuat milikku berdarah. Dan di duniaku, darah dibayar dengan nyawa."
Julian meraih sepotong pecahan kaca cermin yang tajam dari lantai. Ujungnya berkilat haus darah. Ia menekannya ke leher Victor, tepat di atas nadi yang berdenyut kencang karena ketakutan.
"Julian, lihat aku!" jerit Elena, mencoba berdiri meski kakinya lemas seperti kapas. "Kumohon, jangan lakukan itu! Lihat aku!"
Suara Elena yang gemetar akhirnya menembus kabut merah di mata Julian. Tangan Julian yang memegang kaca membeku. Ia menoleh perlahan, menatap Elena yang bersimbah darah di dahi dan air mata di pipi.
Monster di dalam dirinya perlahan menarik diri, berganti dengan obsesi protektif yang menyesakkan. Ia menjatuhkan pecahan kaca itu, membiarkannya berdenting di lantai marmer, lalu berdiri dan melangkah melewati tubuh Victor yang sudah tidak berdaya seolah pria itu hanyalah onggokan daging tak berarti.
Tanpa sepatah kata pun, Julian mengangkat tubuh Elena ke dalam gendongannya, mendekapnya begitu erat seolah ingin menyatukan tubuh Elena ke dalam dirinya sendiri.
"Tutup matamu, Elena," perintah Julian, suaranya berat dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Jangan biarkan matamu melihat kotoran ini lagi."
Elena membenamkan wajahnya di ceruk leher Julian, menghirup aroma sandalwood yang kini bercampur tajam dengan bau anyir darah. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kegelapan dalam dekapan Julian menelan seluruh kengerian yang baru saja terjadi. Tubuhnya masih bergetar hebat, setiap jengkal kulitnya terasa dingin, kecuali dahi yang berdenyut panas oleh luka yang merembeskan darah ke kemeja Julian.
Julian melangkah keluar dari reruntuhan toilet itu dengan ketenangan seorang predator yang baru saja menandai wilayahnya. Dua pengawalnya berdiri kaku di depan pintu, menunduk dalam tanpa berani menatap sepasang mata sang tuan yang tengah meradang.
"Bawa dia," perintah Julian, suaranya sedingin es yang membeku di udara. "Jangan biarkan dia mati terlalu cepat. Aku ingin setiap inci tangan yang menyentuh istriku tidak lagi berbentuk saat aku datang nanti."
Tanpa menunggu jawaban, Julian terus berjalan menembus lorong-lorong megah gedung itu. Ia mengabaikan tatapan ngeri dari para tamu yang berpapasan—pria dengan kemeja putih ternoda darah, menggendong seorang wanita yang terluka seolah tengah membawa harta paling rapuh di dunia.
Begitu sampai di Rolls-Royce Phantom yang telah menunggu di depan lobi, Julian tidak melepaskan Elena. Ia mendudukkan Elena di pangkuannya di kursi belakang, membiarkan pintu ditutup dengan dentuman berat yang memutus hubungan mereka dengan dunia luar.
Udara di dalam mobil terasa sesak oleh ketegangan yang belum tuntas. Julian merengkuh dagu Elena, memaksanya untuk mendongak. Jemari Julian yang masih ternoda darah Victor kini bergerak dengan kelembutan yang mengerikan, mengusap pelan pinggiran luka di dahi Elena.
"Lihat aku, Elena," bisik Julian, suaranya serak oleh sisa amarah yang belum padam.
Elena membuka matanya yang sembab. Di bawah temaram lampu kabin, ia melihat pantulan dirinya di mata Julian—seorang wanita yang tampak hancur, pucat, dan ditandai oleh kekerasan. Namun, yang lebih menakutkan adalah kilat di mata suaminya; itu bukan sekadar kekhawatiran, melainkan obsesi yang kian pekat.
"Kau berdarah hanya karena aku melepaskan pandanganku darimu sedetik saja," ucap Julian, ibu jarinya menekan pelan luka itu hingga Elena meringis kecil. "Victor benar tentang satu hal... kau memang rapuh. Dan itu sebabnya, mulai detik ini, kau tidak akan pernah jauh dari jangkauanku lagi. Tidak ada lagi acara sosial. Tidak ada lagi orang asing."
Elena menelan ludah, rasa perih di dahinya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. "Apakah kau marah karena aku terluka, Julian? Ataukah karena seseorang telah berani merusak 'milikmu'?"
Julian terdiam. Rahangnya mengeras, otot-otot di wajahnya menonjol saat ia menatap bibir Elena yang bergetar. Bukannya menjawab, Julian justru menunduk, mencium kening Elena tepat di samping lukanya—sebuah kecupan yang terasa seperti segel kepemilikan yang mutlak.
"Kau adalah napas yang aku hirup, Elena," desis Julian tepat di depan bibirnya. "Dan siapa pun yang mencoba mencuri napas itu... akan aku hancurkan hingga ke akarnya."
Sesampainya di mansion, suasana sunyi yang mencekam menyambut mereka. Julian tidak membiarkan kaki Elena menyentuh lantai; ia menggendongnya menyusuri koridor panjang menuju kamar utama, seolah Elena adalah porselen retak yang akan hancur jika terkena getaran sedikit saja.
Begitu pintu jati setinggi tiga meter itu tertutup, Julian mendudukkan Elena di tepi ranjang king-size. Ia segera meraih kotak P3K berbahan kulit dari laci, lalu berlutut di antara kedua kaki Elena. Tangannya yang masih menyisakan noda darah kering milik Victor kini bergerak dengan ketelitian seorang pembedah, mencoba menyeka sisa darah di dahi istrinya.
"Diamlah, ini akan sedikit perih," gumam Julian, suaranya kembali datar dan otoriter.
Namun, saat kapas dingin itu menyentuh lukanya, sesuatu di dalam diri Elena patah. Bukan karena rasa sakit fisiknya, melainkan karena cara Julian menatapnya—seperti seorang kolektor yang sedang memperbaiki goresan pada barang antik kesayangannya.
Elena menyentak tangan Julian hingga botol antiseptik itu terjatuh ke atas karpet mahal.
"Berhenti, Julian! Berhenti memperlakukanku seperti ini!" teriak Elena. Suaranya pecah, bergema di langit-langit kamar yang tinggi.
Julian mematung. Matanya yang gelap perlahan terangkat, menatap Elena dengan intensitas yang sanggup mengintimidasi siapa pun. "Aku sedang mengobatimu, Elena. Jangan kekanak-kanakan."
"Mengobatiku? Atau sedang memoles asetmu yang rusak?" Elena tertawa getir, air mata yang sejak tadi tertahan kini mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. "Kau tidak melihatku, Julian. Kau tidak pernah melihatku! Yang kau lihat hanyalah Nyonya Armand. Sebuah trofi. Sebuah boneka yang harus tampil sempurna agar egomu tidak terluka!"
Julian berdiri perlahan, sosoknya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan hitam yang menyelimuti Elena. "Aku menyelamatkanmu dari b******n itu. Aku menghancurkannya karena dia berani menyentuhmu—"
"Kau menghancurkannya karena dia menyentuh milikmu!" potong Elena, ia ikut berdiri meski kakinya masih goyah. Ia memukul d**a bidang Julian dengan tangan gemetar. "Bukan karena kau mencintaiku sebagai manusia! Kau marah karena Victor Volkov mencoba mengambil mainanmu! Apa bedanya kau dengan dia? Dia ingin merusakku, dan kau ingin mengurungku. Tak satu pun dari kalian yang peduli apa yang aku rasakan di balik gaun ini!"
Rahang Julian mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menangkap kedua tangan Elena, menguncinya di depan d**a wanita itu dengan satu genggaman yang kuat namun tidak menyakiti. Ia menarik Elena hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Kau ingin dianggap manusia?" desis Julian, napasnya terasa panas di wajah Elena. "Manusia itu rapuh, Elena. Manusia itu bisa pergi, bisa dikhianati, dan bisa mati. Aku tidak menginginkan manusia yang bisa hilang dariku. Aku menginginkanmu tetap di sini, di bawah pengawasanku, di mana tidak ada satu pun b******n di dunia ini yang bisa membuatmu menangis lagi!"
"Itu bukan cinta, Julian! Itu penjara!" tangis Elena meledak. "Aku lebih baik menjadi wanita biasa yang tidak punya apa-apa tapi bisa bernapas bebas, daripada menjadi ratu di istana ini tapi jiwaku mati karena kau anggap sebagai properti!"
Julian terdiam sejenak, matanya menelusuri setiap inci wajah Elena yang dipenuhi luka dan amarah. Untuk sesaat, kilat kerapuhan muncul di balik mata obsidiannya yang keras, namun dengan cepat tertutup kembali oleh obsesi yang mendarah daging.
Ia melepaskan tangan Elena, lalu mengusap sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara kasar.
"Kalau begitu, membencilah sejauh yang kau mau, Elena," ucap Julian dengan nada suara yang sangat tenang namun mematikan. "Karena aku lebih suka memilikimu dalam kebencian daripada kehilanganmu karena kebebasan. Kau adalah milikku—sampai napas terakhirmu, kau tetap menjadi milikku."
Julian berbalik, melangkah menuju pintu dan menguncinya dari luar, meninggalkan Elena bersimpuh di lantai dalam keheningan yang menyesakkan.