Simfoni Kain yang Robek

1465 Kata

Klik kunci yang berputar dari luar itu terdengar seperti vonis mati bagi kebebasan Elena. Suara logam yang beradu menjadi noktah terakhir dari perdebatan berdarah mereka malam itu. Elena bersimpuh di atas karpet Persia, bahunya berguncang hebat, sementara noda darah Victor yang mengering di gaun sutranya terasa seperti kerak yang mengunci kulitnya. ​Di balik pintu jati yang kokoh itu, Julian berdiri mematung. Telapak tangannya masih menempel pada permukaan kayu, seolah ia bisa merasakan detak jantung Elena yang kacau di sisi lain. Napasnya masih memburu, namun wajahnya telah kembali menjadi topeng pualam yang dingin. ​"Jaga pintu ini," perintah Julian pada dua pengawal yang baru saja tiba di lorong sayap utama. "Siapa pun, termasuk pelayan, tidak boleh masuk tanpa izin tertulis dariku. P

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN