"gue salah apa sih?? kog gue nggak pernah dingertiin? gue seakan-akan bukan anak papa dan mama. lagian mana mungkin mereka bisa bangkrut, kan mereka punya cukup uang selama ini, kenapa harus ngejual gue ke om om tua bangka itu, pasti dia deh yang bikin ini semua terjadi supaya gue mau nikah sama dia, gue nggak mau nikah sama om tua bangka itu hikshikshiks (Qonita menangis sejadi-jadinya dikamar)"
tok tok tok....
"Qonita buka pintunya... mama mau bicara"
"nggak mau gue pengen sendiri dulu"
"Qonita...ayo dong sayang dibukain pintunya...mama mau bicara sayang"
"nggak mau ma...pergi ma..Qonita lagi pengen sendiri...nggak pengen diganggu ma"
"yaudah kalau begitu...jangan lupa makan ya dan jangan lupa untuk acara malam ini, ucap leoni"
"hikshikshiks....papa sama mama jahat...semuanya jahat sama gue....kenapa sih gue diginiin padahal gue kan selama ini jadi anak yang baik dan nggak menuntut apapun dari mereka...kenapa....teriak Qonita"
di ruang tamu Bram menelpon Sebastian membicarakan acara untuk nanti malam
"halo nak Sebastian"
"halo pak Bram saya ajudan pak Sebastian, ada perlu apa pak??"
"nak Sebastian dimana?? kenapa kamu yang angkat telepon nya?"
"maaf pak, pak Sebastian lagi ada meeting, ada pesan pak untuk pak Sebastian??"
"bilang sama nak Sebastian kalau saya menelpon, dan suruh telepon balik"
"oke pak Bram nanti saya sampaikan pesannya"
telepon pun dimatikan
dilain tempat....
"hahahaha....hahahaha....hahahaha..."
"kenapa bos nyuruh saya buat angkat telepon dari pak Bram??? bukankah ini yang bapak tunggu???"
"hahahaha.... hahahaha.... memang ini yang saya tunggu-tunggu tapi saya lantas tidak akan langsung mengiyakan ataupun menjawab permintaan nya karena hanya saya yang bisa membantunya dari kesusahan, jawab Sebastian"
"oh...saya mengerti sekarang bos..."
diruang tamu...
"sialan...kenapa harus ajudan nya yang menjawab telepon nya...dasar manusia sampah...bisa-bisa nya mengabaikan permintaan ku...akan aku buat kamu menyesal nanti Sebastian, ucap Bram"
"ada apa pa?? tanya Leoni"
"sudahlah urus saja urusan kamu sendiri jangan urus urusan saya,, dan urus putrimu itu suruh dia supaya mau menerima pernikahan itu, gusar Bram"
"itu juga putri kamu pa...bukan hanya putriku saja ngerti nggak, ucap Leoni"
"kalau bukan karena dia yang merusak makan malam semalam semua ini tidak akan terjadi padaku, harusnya dia tahu diri, dan kini sekarang waktunya dia balas budi, dasar anak kurang ajar, gusar Bram"
Bram dan Leoni bertengkar dan beradu mulut hingga mereka tidak sadar ada yang mendengar pertengkaran mereka
Disekolah....
drtdrtd....drtdrtd....drtdrtd
"......"
"oke saya telpon papa dulu untuk bisa mengurus segalanya...gue nggak mau cewek yang gue incar malah jatuh ketangan b******n tersebut, ucap Varen"
Varen menelpon papa nya dan membicarakan hal serius...
"halo pa..."
"tumben nelpon alva (jangan kaget ya karena orangtua varen bukan manggil dengan nama varen tapi alva)... ada apa?"
"pa...alva butuh bantuan... alva butuh papa bantu untuk mengakuisisi perusahaan angkasa dengan menikahkan alva dengan putrinya, pinta varen"
"apa... papa nggak salah dengar kan alva??"
"nggak pa...papa nggak salah dengar...bisa kan pa bantuin alva..kali ini aja pa, bujuk varen"
"coba cerita ke papa kenapa kamu pengen banget papa buat bantu kamu mengakuisisi perusahaan tersebut, soalnya yang papa tau itu hanya perusahaan kecil"
"ceritanya panjang pa,, pa...alva mohon pa..bantu alva pa...alva janji akan jadi anak baik...janji akan memenuhi pinta papa buat jadi penerus aditama group...please pa"
"yaudah...kalau kamu sudah begini pasti ini penting banget buat kamu, tapi yang jelas papa cuma ingatin kamu satu hal...kamu masih sekolah dan papa nggak mau kamu main-main masalah pendidikan...dan juga masalah pernikahan itu bukan suatu hal yang bisa dibuat mainan, itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar, kamu paham kan apa yang papa maksud alva??"
"oke pa...makasih ya pa..."
"sama-sama nak, papa tau kamu akan menjadi kebanggaan papa dan tau mana yang terbaik buat kita..tunggu aja kabarnya pasti akan papa kabulkan"
"makasih banyak pa"
ya begitulah varen walaupun cuma hidup berdua dengan papanya dan berjauhan tapi mereka saling mengasihi satu sama lain dan cinta kasih seorang ayah dan ibu tidak akan pernah kurang pada alvarendra
dirumah Qonita....
"halo...iya saya sendiri...apa..gimana maksudnya ini?? tanya Bram"
"seperti yang pak Bram dengar tadi saya akan mengakuisisi perusahaan pak Bram dengan syarat putri bapak Qonita harus menikah dengan pemilik perusahaan"
"kenapa tiba-tiba perusahaan besar mau mengakuisisi perusahaan saya??"
"jangan banyak tanya, malam ini di restoran hotel livia jam 7, tuan dan tuan muda menunggu keluarga anda"
"baiklah saya akan kesana"
"mam malam ini kita ada jadwal makan malam dengan perusahaan terbesar,, ucap Bram"
"maksudnya pa?"
"pemilik perusahaan tersebut mengakuisisi perusahaan kita dan memberikan kita keuntungan besar dengan syarat kita harus menikah kan Qonita dengan tuan muda mereka, ucap Bram"
"papa... papa kog setega itu sama putri kita?? dia kan bukan barang pa yang bisa diberikan kepada orang lain??"
"sudahlah...yang penting kamu suruh Qonita siap-siap dan bilangin kedia jangan bikin malu kita nanti, ucap Bram"