Lima menit berlalu setelah Jessi duduk di salah satu bangku kayu yang ada di taman untuk mengistirahatkan napasnya yang sudah terengah-engah. Gadis berambut cokelat itu hanya bisa mengedarkan pandangan ke sekelilingnya sembari terus berharap Alex datang dan membuat perasaannya menjadi lebih baik. Namun tentu saja yang terjadi hanyalah ke sia-siaan. Ia hampir saja menangis dan menyerah jika saja William tak datang. Wajahnya yang tak yakin dengan sosok gadis yang kini duduk di bangku taman itu pun terlihat dengan sangat jelas. William kemudian mendekat, "Jessi?" Jessi sontak mendongak. Kedua mata birunya menemukan sosok William yang sedang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. "Ternyata benar kau." Laki-laki muda itu mengangkat kedua bahunya dengan tak acuh.

