Kamar Ethan Alenxander Sinclaire terasa begitu sunyi malam itu, hanya cahaya temaram lampu tidur yang menghangatkan atmosfer. Vivian keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah, wajah bersih tanpa riasan, dan piyama sutra sederhana yang membuatnya tampak menenangkan. Ethan masih duduk di ranjang, laptop terbuka di pangkuannya. Jari-jarinya sibuk mengetik, wajah serius terpancar dari sorot mata dinginnya. Tapi begitu Vivian berhenti di meja rias dan menatap cermin, seolah tak ada yang lebih memikat perhatian Ethan selain bayangan perempuan itu. Dengan gerakan santai namun penuh kuasa, Ethan menutup laptopnya. Suara klik terdengar tegas di antara kesunyian. “Sudah cukup urusan bisnis untuk hari ini,” gumamnya pelan, lalu turun dari ranjang. Pria itu berjalan pelan menuju ke

