Ruang rawat itu beraroma obat-obatan yang menusuk. Mesin monitor berdetak tenang. Saat pintu terbuka, sosok yang muncul justru bukan putrinya—melainkan Hans, dengan wajah pucat tapi sorot mata penuh dendam. “Bu…” Suaranya berat, serak karena baru keluar dari jeruji besi. Wanita paruh baya itu menoleh perlahan. Mata yang dulu penuh kasih pada menantunya kini dingin, penuh jarak. Ada jeda panjang sebelum ia menjawab, “Kamu masih punya muka untuk datang ke sini, Hans?” Hans menelan ludah, lalu mendekat selangkah. “Aku tahu aku salah. Tapi aku tetap suaminya Vivian. Dan kamu tetap mertuaku.” Wajah ibunya Vivian mengeras. “Menantu yang baik tidak akan menyeret anakku ke neraka bersamamu. Aku sudah hilang respect, Hans. Kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini.” Kalimat itu seperti cambu

