Ruang ICU itu terasa dingin meski pendingin ruangan tidak begitu kencang. Vivian duduk di kursi besi samping ranjang setelah tadi meminta izin pada dokter untuk melihat keadaan sang ibu. Kedua tangannya menggenggam erat jari ibunya yang pucat dan tak bergerak. Hanya deru mesin monitor jantung yang berdetak pelan memberi tanda kalau wanita itu masih bertahan. Air mata terus saja mengalir, membasahi wajahnya. “Bu … bangunlah. Jangan tinggalin aku sendirian …,” bisiknya dengan suara pecah. Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan, seorang suster masuk untuk mengecek infus dan tekanan darah. Vivian buru-buru menyeka pipinya, berusaha tampak kuat. Namun ketika suster itu hendak pergi, Vivian memberanikan diri bertanya, suaranya bergetar. “Maaf … suster. Sebelum Mama drop tadi, ada apa? Maksud

