“Putusin dia, Ethan. Mama nggak mau dengar alasan apa pun. Jauhi wanita itu.” Suara Isabelle bergetar, penuh emosi yang ditahan. Sorot matanya tajam, menusuk ke arah putra bungsunya. Biasanya, Ethan akan melawan dengan tatapan dingin dan kata-kata berbahaya. Namun kali ini, ia hanya terdiam, menatap mamanya dalam-dalam. Perlahan, pria itu mendekat, lalu tanpa ragu meraih tangan Isabelle, menggenggamnya erat. “Mama…” Suaranya lebih lembut dari biasanya, hampir terdengar seperti rengekan seorang anak. “Jangan bilang gitu, please. Aku tahu Mama marah … tapi jangan paksa aku jauhin dia. Aku enggak bisa.” Isabelle terperangah. Ia tidak pernah melihat Ethan seperti ini—anaknya yang keras kepala, dominan, dan selalu menekan orang lain, kini menunduk, bahkan suaranya pecah dengan nada memohon.

