22

824 Kata
Happiness is having you in my life -Valeri Valentine Darron- **** Gila! Bossnya itu seenaknya saja meminta Valeri menemani Ibunya berbelanja. Bagaimana ini? Valeri tidak punya banyak baju bagus untuk digunakan. Valeri mencoba satu persatu baju nya dan akhirnya pilihan Valeri jatuh pada baju casual yang terlihat santai namun juga cocok untuk di pakai pergi berjalan-jalan.   Apa ia sudah cukup bagus? Hah, ia tak tahu lagi.  Ia mencatok rambutnya agar lurus dan ia juga memakai make-up tipis agar terlihat lebih fresh. "Ah, apa aku harus memakainya lebih tebal ya?"Gumam Valeri pada dirinya sendiri sambil memperhatikan make-upnya. Ia sempat memikirkan perkataan Jason soal mengambilnya jadi menantu itu. Dan sedetik kemudian Valeri merutuki kebodohannya, ia tahu kalau Jason cuma menggodanya, apa yang ia harapkan sih? Valeri menghela nafas lalu bangkit dari tempat duduknya, ia mengambil sepatu yang bewarna senada dengan bajunya. Setelah semua dirasa bagus, Valeri pun akhirnya pergi di antar oleh salah satu supir yang bekerja di mansion Jason. **** Alena menyeruput strawberry frappucinonya dan tersenyum senang. Ia suka sekali dengan segala sesuatu tentang strawberry. Dan saat ini ia tengah menunggu di starbucks yang berada di salah satu mall. "Hai, sudah lama?" "Heiii Al! long time no see!" Sapa dua orang di depan Alena. Alena tersenyum mendapati Michael dan Mirael tengah tersenyum sumringah didepannya. "Haii, aku kangen banget"Ucap Alena sambil memeluk saudara kembar itu. Mereka berdua menepuk punggung Alena pelan dan kemudian Alena melepas pelukan itu. Michael dan Mirael duduk di depan Alena. Mereka berdua tampaknya sudah memesan sebelum menghampiri Alena. "Maaf ya, gara-gara aku kalian harus ke Indonesia"Ucap Alena merasa bersalah. Michael dan Mirael adalah teman dekat Alena di kampus. Mereka sama-sama kuliah di London College of Fashion dan telah bersahabat selama beberapa tahun ini. "It's okay, kami tak ada kerjaan juga ucap Mirael sambil tersenyum. Sedangkan Michael hanya tersenyum kecil. Alena ikut tersenyum melihat mereka berdua yang sama sekali tak berubah. Mirael yang supel dan cerewet sangat berbeda dari Michael yang tidak terlalu banyak omong namun banyak tersenyum. "Liburan kita tinggal 1bulan lagi. Apa kita bisa menemukan semua bukti itu sebelum liburan berakhir?"Gumam Alena sambil menunduk. Mirael menepuk tangan Alena pelan, membuat Alena mendongak dan menatap lelaki mata biru itu. "Percayain aja sama saudara kembar Jhonson"Hibur Mirael sambil menyebut nama keluarganya. Alena mengangguk, benar. Setidaknya ia akan berusaha untuk membantu kakaknya. "Nah, jadi kita mulai?"Ucap Michael yang akhirnya bersuara lagi. "Tentu. Aku ingin kalian menyelidiki tentang tunangan kakakku. Namanya Sanna, berusia 29 tahun. Ia anak pertama dari pemilik perusahaan T Company. "Jelas Alena. Mirael mengangguk-angguk, "Wow latar belakang yang terlihat bagus" Alena mencibir pelan, "Tentu saja latar belakangnya bagus, wajah dan tubuhnya pun begitu. Tapi jika kau sudah melihat sifat aslinya, pasti kau tidak mungkin berpikir demikian." "Benarkah? Apa dia seperti wanita yang ada di sinetron Indonesia itu? Kemarin-kemarin aku menontonnya di TV. Dan mereka sangat kocak."Ucap Mirael sambil tertawa. Alena tersenyum kecil melihat kekonyolan Mirael, "Iya mirip sekali. Kau bisa membayangkan Sanna sebagai wanita itu."Ucap Alena. "Tapi aku tak suka wanita semacam itu. Terkesan murahan dan mencari perhatian"Celetuk Michael yang sebenarnya ikut menonton sinetron yang di putar Mirael kemarin. Wanita-wanita itu sangat tidak tahu malu. Kasihan sekali Alena jika harus memiliki calon kakak ipar yang semacam itu. "Apa? Apa kau juga menontonnya Mich? Aku pikir kau tidur kemarin!"Ucap Mirael terkejut, lalu kemudian ia mencibir, "Kau bilang aku menonton acara tak bermutu, tapi ternyata kau ikut menonton juga ya"Sindir Mirael. Michael terkekeh,"Bagaimana bisa aku tidur kalau suara TV mu keras sekali? Malah kau teriak-teriak tidak jelas lagi" Mirael baru saja ingin membalas omongan Michael. Namun sebelum itu Alena sudah berdehem untuk mengatasi perdebatan saudara kembar itu. "Mich, Rael. Kalian tidak pernah berubah ya." Mirael menaikan sebelah alisnya, "Tentu saja kami belum berubah. Kita baru tak bertemu 2bulan Al. Kami tak bisa berubah secepat itu" Michael menghela nafas, "Tentu Al, Rael masih sangat kekanakan. Entah kapan ia akan dewasa" "Hei, apa maksudmu? Aku ini hanya lebih muda satu menit dibanding kau"Protes Mirael. "Oh begitu? Berarti benar kalau kau masih kecil. Buktinya kau lebih muda dariku"Balas Michael lagi. Alena menghela nafas, Michael yang tak banyak omong pun dapat menjadi cerewet jika sudah berdebat dengan Mirael. "Oke cukup teman-teman. Mari fokus dengan masalah, oke?"Gumam Alena pelan. Michael dan Mirael menghentikan perdebatannya dan kemudian duduk manis sambil menunggu penjelasan Alena. "Sanna itu sangat mencintai kakakku, mereka sudah dijodohkan sejak 4tahun yang lalu dan hampir menikah kalau saja ia tak pergi ke Paris untuk belajar tiba-tiba."Sambung Alena "Wow tunggu dulu, itu aneh. Mengapa ia tiba-tiba harus pergi ke Paris jika ia sangat mencintai kakakmu?"Celetuk Michael kemudian. Alena mengangguk, ia juga menyadari ke anehan itu. "Iya, aku juga merasa hal itu aneh. Kenapa ia tak melanjutkan study setelah menikah? Dan lagi, ia terlihat terburu-buru untuk pergi ke Paris." "Jadi kita harus menyelidiki alasan Sanna pergi ke Paris secara tergesa-gesa?"Tanya Mirael. Alena mengangguk, "Ya, aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan." Michael dan Mirael mengangguk mereka kemudian mencatat semua hal penting yang mungkin diperlukan sebelum akhirnya mulai melakukan penyelidikan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN