Pelan, Reya membuka pintu rumahnya. Hati perempuan itu sebenarnya sudah dilanda cemas yang berlebihan. Masalahnya ia pulang beberapa menit lebih lambat dari perkiraannya, semua ini karena jalanan ibu kota yang entah kenapa selalu macet di saat jam pulang kerja. Reya takut kalau Alan sudah pulang lebih dulu darinya. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah itu kembali. Reya melangkah perlahan-lahan menuju tangga. Namun, langkahnya itu terhenti saat manik matanya menangkap sosok suaminya yang tampak bersandar di sekat pembatas antara ruang tamu dan bagian dapur rumah tersebut. “Baru pulang?” tanya Alan, nada suaranya terdengar datar dan tajam. Reya bahkan sampai memucat karena sudah ketakutan lebih dulu. “I-iya, Mas,” jawab Reya, terbata-bata sebab jantungnya yang ber

