3 Uang 50 juta

1099 Kata
Dua hari kemudian. Daniel bersiap di rumahnya. Memasukan pakaian bagus yang entah dari mana Mandala dapatkan, ke dalam koper yang keliatannya mahal. Daniel juga tidak tahu, Mandala mendapatkan koper mahal itu dari mana. Tidak mungkin ‘kan jika Mandala membelinya Di kamarnya, Jiran terdengar menangis. Daniel terusik dari kegiatannya dan segera menyambangi putra bungsunya itu. “Jiran kenapa?“ tanya Daniel kepada Jihan yang kebetulan ada di sana. “Kemarin, dia di ledek temannya karena belum pernah naik mobil,“ sahut Jihan Daniel menghela napas. Tak lama, Mandala ikut menghampirinya dan bertanya-tanya tentang Jiran yang menangis. “Kenapa?Jihan buat masalah pada adikmu?“ tanya Mandala yang mencurigai Jihan adalah dalang dari tangisnya Jiran. Jihan menggeleng. “Tidak, Bu. Aku ke sini justru untuk meredakan tangisnya. Tapi Jiran malah semakin menangis kencang.“ “Jiran menangis, karena di ledek temannya tidak pernah naik mobil.“ beri tahu Daniel kepada Istrinya. Mandala keliatannya kesal. “Siapa yang bilang begitu?“ tanyanya pada Jiran “Temanku, anaknya juragan beras.“ Jiran menyahuti lirih Mandala mendecak, memegangi bahu Jiran kuat-kuat seperti tengah memberikan rasa semangat. “Dengar Jiran. Ibu dan Ayah akan merubah kehidupan kita. Tenanglah, kita semua akan kaya raya.“ Di sampingnya, Daniel mengangguk. Hal itu mengundang seribu tanya dari benak Jihan. “Apa Ayah sudah bekerja?“ Daniel mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaan sang putri. Memandangi Mandala kemudian. “Ya. Ayah sudah bekerja sekarang. Jadi kalian harus jadi anak baik, ya.“ Jihan dan Jiran kompak mengangguk. Hanya mereka berdua saja. Jay tidak ada, karena dia semalam memutuskan untuk menginap di rumah temannya. --0o0-- Daniel dan Willona sudah sampai di bandara internasional. Selama dua hari ini, keduanya banyak berkomunikasi lewat telepon. Hal itu membuat keduanya banyak mengenal satu sama lain. Seperti Willona. Karena selama ini dia belum bisa menerima laki-laki lain, meski hanya sekadar untuk berteman pun. Dan sekarang, setelah mengenal Daniel, Willona merasa hatinya terbuka secara perlahan. “Kamu sangat tampan hari ini.“ Willona tiba-tiba saja memuji penampilan Daniel Tan yang menurutnya sangat cocok dan sesuai dengan seleranya. Makanya Willona senang. Daniel tersenyum. “Kamu juga terlihat sangat cantik.“ “Sepertinya, kamu memiliki selera fasion yang sama denganku.“ “Oh ya?“ Willona mengangguk. “Bagaimana kalau kita berbelanja pakaian di sana.“ “Dengan senang hati, Nona.“ Begitu keduanya sampai di mesin chek-in ponsel Willona berdering, membuat atensi Daniel juga ikut teralihkan pada ponsel itu. “Sebentar,“ katanya sebelum mengangkat telepon itu. “Ada apa, Natta?“ Natta di balik telepon menjawab. “Nona maaf. Ada hal buruk terjadi di perusahaan.“ Hal itu sontak membuat Willona terkejut, kemudian mendecak pelan. “Ya sudah. Baiklah, aku akan ke sana memberesi semuanya.“ “Ada masalah terjadi?“ tanya Daniel begitu Willona mematikan sambungan teleponnya. “Sepertinya, aku tidak bisa pergi bersamamu. Ada masalah di perusahaanku. Maafkan aku.“ Daniel mendecak. “Bukankah kemarin seharusnya kamu periksa semua urusan kantor sebelum pergi, ya.“ “Ini tiba-tiba. Tidak ada orang yang bisa menghadangnya. Aku pun sama sekali tidak mengharapkannya. Kamu pergi saja tanpaku.“ “Untuk apa aku pergi sendirian? dari awal, aku akan pergi jika ada teman.“ Willona dibuat semakin merasa bersalah. “Maafkan aku.“ Daniel masih kesal. “Berapa harga waktu yang sudah ku luangkan. Sekarang semuanya sia-sia.“ “Aku bayar semua waktu kamu itu,“ kata Willona “Tidak perlu.“ Tapi Willona tetap merasa bersalah, maka dia berupaya untuk menggantikan kerugiannya menggunakan uang. Wanita itu lantas mengeluarkan sebuah kertas chek di dalam tasnya, juga sebuah bolpoin hitam. “Berapa uang yang kamu mau?“ Daniel terperangah. Benarkan Willona akan memberikannya uang? “Sebutkan berapa?“ Daniel ingin menyebutkan nominalnya. Tapi hal itu akan membuat dirinya keliatan mata duitan. Maka dia berupaya saja menolak. “Berapa pun harga uang, tidak bisa membeli waktu.“ “50 juta?“ Daniel terdiam. Diam-diam menjerit dalam hati saat Willona dengan paksa memberikan chek itu ke tangannya. “Sekali lagi maafkan aku. Mungkin uang tidak bisa membeli waktu. Tapi, uang bisa menggatikan kerugiannya,“ kata Willona. Setelah mengatakan itu, dia pergi. Daniel jelas merasa senang, sebab baru selangkah saja dia sudah bisa mendapatkan uang sebesar itu. Tapi tidak mungkin Daniel tunjukan perasaannya itu pada Willona. “Willona.“ Daniel memanggil dengan sorot mata sedih yang dia buat. Willona menoleh. Namun dia tetap berakhir pergi. --0o0-- Berjam-jam berlalu, baru kali ini Willona dapat menghembuskan nafasnya secara lega. Masalah di kantornya sudah mampu ia selesaikan dengan baik. Ternyata ada kesalah pahaman bersama salah satu client nya. Untunglah semuanya bisa diselesaikan secara cepat. Meski begitu, Willona masih tak enak hati kepada Daniel. Karenanya, semua rencana yang telah direncanakan berantakan begitu saja. Tapi, kegelisahan Willona surut begitu saja. Saat tau-tau Daniel membuka pintu ruangannya. Tersenyum, dan membawa bunga kesukaannya. “Hai, Nona.“ Willona tersenyum juga tak menyangka Daniel akan menyambanginya dengan perilaku manis seperti ini. “Daniel, kamu apa-apaan ini.“ Willona tak berhasil menyembunyikan raut bahagianya saat ia menerima satu bucket bunga mawar merah darinya. “Hadiah untukmu. Karena hari ini kamu telah bekerja dengan baik.“ Willona tersenyum. Sambil terus menerus mencium aroma segar dari bunga mawar merah itu. “Sudah waktunya makan malam. Mau kah, makan malam bersamaku, Nona?“ Willona tertawa ringan. Semakin banyak mengenal Daniel, Willona semakin banyak merasakan sesuatu hal yang menghangatkan hatinya. “Tentu, Tuan. Aku mau.“ Kali ini Daniel yang tertawa senang. Kemudian mengambil telapak tangan Willona untuk menggandengnya. “Mari, saya antarkan Nona ke restoran yang bagus.“ Willona menurut, saat tubuhnya di bawa oleh lelaki itu berjalan. “Ah, sebentar.“ “Kenapa?“ “Bagaimana kalau makan malam di rumahku saja. Aku sedikit tidak tenang, meninggalkan nenek dalam keadaan sakit.“ Tadi, sekitar pukul dua siang. Saat Willona sedang sibuk-sibuknya mengurusi kesalah pahaman. Mandala mengabarinya jika nenek sakit lagi. Namun saat itu, Willona tidak dapat pulang. Karena keadaannya yang mendesak. Dan sekarang, Willona tidak mau mengulur waktunya untuk bertemu dengan nenek. “Ah, maaf. Tidak seharusnya aku mengajakmu ke rumah dalam waktu yang cepat. Aku hanya ingin tenang saja bisa melihat nenek dengan keadaan baik-baik saja.“ “Aku mengerti, Nona. Tidak masalah di mana pun tempatnya, asal bersama Nona aku akan tetap senang.“ Mereka berdua pun akhirnya pergi bersama. Karena Daniel membawa mobil sendiri dan mobil Willona selalu di bawa oleh sopirnya. Jadi sistemnya Willona yang menumpangi mobil milik Daniel. “Mobil pengusaha rintisan masih belum semewah punya Nona. Aku harap, Nona bisa nyaman duduk di kursi penumpang,“ kata Daniel sebelum melajukan mobil sewaannya ini. “Tidak apa-apa. Aku tidak masalah sama sekali.“ willona menyahuti dengan senyumnya yang terbit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN