Willona Hapsari, wanita yang sudah matang. Menginjak usia 31. Meskipun usianya terbilang tua, dia belum sama sekali menginjak dunia pernikahan. Sebab kekasih yang ia bina telah berpacaran selama kurang lebih lima tahun, meninggal dunia karena penyakit jantung. Willona tentu sangat terpukul, meski kematian sang pacar telah satu tahun berlalu. Namun rasa kehilangan itu masih ada bertalu di dalam hatinya.
Sehingga membuat dirinya tak ada niat untuk mencari pasangan lagi. Hidupnya sendiri sudah sangat bergelimangan harta. Anak dari orang tua yang terlahir tunggal membuat Willona menjadi tak memiliki saudara satu pun. Orang tuanya juga sudah pergi meninggalkannya bertahun-tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Dan kini Willona hanya tinggal bersama neneknya yang sudah lumpuh.
Begitu kedatangannya di perusahaannya, Willona di sambut baik oleh karyawannya yang kebetulan menemuinya di base ment. Willona orang yang sangat terkenal dengan keramah tamahannya terhadap pegawainya.
Begitu masuk lift yang dikhususkan untuk menuju ke ruangannya, Willona di sambut baik oleh Natta. Sekretarisnya yang sudah bekerja lama.
“Proyek kemarin sangat berkembang pesat, Nona. Apa kau tak mengambil cuti sebentar untuk berlibur?“ kata wanita cantik bersetelan rapih warna merah muda itu.
Willona nampak menimang, memang selama waktu enam bulan terakhir ini Willona belum pernah mengambil cuti dengan waktu yang lama. Paling hanya satu hari, itu pun hanya saat hari minggu.
“Apa aku harus berlibur?“ tanyanya yang langsung dibalas anggukan oleh Natta.
Willona diam lagi setelah itu. Sejujurnya, Willona enggan merasakan liburan karena dia akan pergi sendirian dan malah selalu berhasil mengingatkannya pada mendiang kekasihnya. Sebab dulu saat masih bersamanya, Willona kerap berlibur bersamanya.
“Berlibur menurutku tidak menyenangkan,“ kata Willona yang membuat Natta menolehkan pandangannya. “Karena, yah. Itu membuatku teringat pada Farelio.“ Sorot matanya kontan berubah sendu.
Natta turut prihatin. Tapi menurutnya dengan cara Willona berdiam diri saja tidak akan membuat perasaannya baik.
“Aku punya kenalan. Dia juga mengalami hal yang sama, ditinggalkan kekasihnya. Bedanya, dia ditinggal menikah.“ sahut Natta. “Nona ingin aku kenalkan dengannya. Katanya, dia sedang mencari teman untuk berlibur ke Capadocia.“
Willona melotot mendengar nama negara Capadocia disebut. Pasalnya itu merupakan negara yang selama ini ia impikan untuk pergi ke sana.
“Boleh juga. Kau kenalkan lah padaku.“
Natta tersenyum senang. “Baik nanti aku menghubunginya.“
--0o0--
Mandala tersenyum puas di depan meja dapur rumah Willona. Dia senang bukan main saat menerima telepon dari Natta soal keinginan Willona menerima tawarannya.
“Natta kau bekerja sangat bagus.“ Mandala tersenyum menang.
Kemudian yang dilakukan Mandala adalah, melepas apronnya dan berlari, pulang menuju rumahnya untuk memberitahukan Daniel soal kabar menggembirakan ini.
Karena jarak rumahnya dari rumah megah Willona tidak terlalu jauh, Mandala dengan mudah untuk pulang-pergi.
Seusai Mandala berhasil masuk ke dalam rumahnya. Ia dibuat terkejut oleh Daniel yang berpenampilan rapih.
Mandala dibuat melongo, sebab Daniel terlihat seperti laki-laki dengan harta yang melimpah.
“Bagaimana penampilanku?“
Mandala bertepuk tangan penuh kagum. “Kamu seperti seorang pengusaha.“
“Tentu saja, itu berkat wajah tampan dan tubuh ideal-ku.“
Mandala mengangguk terpaksa, sebab dia merasa geli Daniel terlalu memuji dirinya sendiri.
“Sudahlah jangan terlalu banyak bergaya. Sekarang, kamu harus bersiap-siap. Semuanya berjalan sesuai rencana.“
Daniel tersenyum senang. “Baiklah.“
“Semuanya sudah kamu persiapkan bukan?“
“Sudah dong.“
“Bagus.“
--0o0--
Menjelang malam. Daniel berencana menemui Willona seperti apa yang sudah ia susun bersama Mandala.
Restoran mewah bintang lima, yang ditunjuk Mandala sudah Daniel sambangi. Tinggal menunggu Willona saja, yang katanya masih dalam perjalanan.
Malam ini, Daniel akan mengawali penyamarannya sebagai Daniel seorang pengusaha sukses. Bukan sebagai Daniel seorang pengangguran yang baru saja kena PHK.
“Daniel Tan, ya?“
Willona tiba dengan setelan dress berwarna abu. Membuat penampilannya manis dan berkelas.
Daniel mengangguk dan mengulurkan tangannya bermaksud menyuruh Willona untuk duduk.
“Betul, Nona. Silahkan duduk.“
Willona berhasil duduk. Dia memandangi Daniel lekat-lekat. Setengah hatinya barucap gila, sebab dia mau saja bertemu dengan laki-laki yang tak kenal sebelumnya. Apalagi ia akan pergi berlibur ke Capadocia bersamanya.
“Nona sangat cantik, di luar dugaan saya,“ kata Daniel mencoba untuk membuat hati Willona senang.
Willona tersenyum, menyambut dengan baik pujian itu.
“Kau juga sangat tampan, dan muda.“
Daniel dibuat tersipu.
Awalnya, iya. Willona rasa keputusannya telah gila. Tapi setelah bertemu dengan Daniel secara langsung. Memutuskan untuk berlibur ke Capadocia adalah yang paling tepat. Willona juga berpikir, mungkin dengan cara menerima orang baru bisa membuatnya lupa dari kenangan masa lalu.
“Boleh aku bertanya dulu.“
“Silahkan saja.“
“Kenapa kau ingin memiliki teman ke Capadocia. Bukankah pergi sendiri sangat menyenangkan.“
Daniel menggeleng. “Tidak. Sendirian itu bagiku masalah. Jika kau keberatan untuk pergi bersamaku, katakan saja. Aku akan memakluminya.“
“Tidak. Aku tidak keberatan. Hanya saja, aku sedikit kerasa canggung. Bagaimana pun kau adalah orang yang pertama kali ku kenal.“
Daniel tersenyum tipis. “Sepertinya itu hanya, Nona. Aku sudah mengenalmu.“
Willona sedikit terhenyak. Jadi sebelumnya Daniel Tan sudah mengenalinya. Wajar saja, Willona orang yang dikenal berpengaruh di kota.
“Maafkan aku. Tapi aku, sebelumnya tidak mengenalmu.“
Daniel menggeleng. “Tidak apa-apa. ‘kan bisa perkenalan sekarang,“ katanya, seraya menatap Willona yang kini tengah tersenyum tipis ke arahnya. “Aku Daniel Tan. Memiliki perusahaan rintisan. Aku jadi sangat tersanjung, orang seperti Nona, mau bertemu denganku.“
“Bukan karena kau pemimpin dari perusahaan rintiasan berarti tidak dapat bertemu denganku. Aku juga sama, berawal dari rintisan sepertimu.“
“Ya, Nona. Aku sangat tersanjung dengan perkataanmu.“
Willona tersenyum, memandangi Daniel dengan penuh rasa kagum. Sepertinya cinta pandangan pertama sedang melanda hatinya. Bagaimana tidak, penampilan Daniel hampir sepenuhnya menunjuk tipe ideal pasangan bagi Willona.
“Jadi, rencana berangkat ke Capadocia kapan?“ Willona beralih bertanya
“Aku, ikut waktu kosongmu saja, Nona.“
“Baiklah. Bagaimana kalau lusa?“
“Boleh saja.“
“Biar nanti aku urus tiket pesawatnya.“
“Ah, Nona.“ Daniel menyangkalnya. “Biar aku saja.“
“Anggaplah, hadiah perkenalan dariku,“ katanya yang membuat Daniel tersenyum senang.
“Kalau gitu, aku harus mengembalikannya lagi padamu.“
“Terserah saja. Tapi aku tidak mengharapkan.“
“Nona memang, wanita yang berhati mulia.“
Pertemuan mereka berakhir. Sepertinya hal itu berhasil membawa kesan baik bagi Willona. Semua itu berkat Mandala, dia sangat tahu sekali bagaimana selera Willona. Jadinya, Daniel dapat memberikan yang membuat Willona suka.
Willona sudah pergi bersama supir pribadinya. Dia juga yang membayar tagihan restorannya. Katanya, itu sebagai ucapan terima kasih karena Daniel mau berteman dengannya. Willona memang berhati yang baik dan tulus. Syukurlah, Daniel tidak perlu mengeluarkan uang banyak-banyak untuk pertemuan ini.